Cari di Google

Google

Monday, August 31, 2009

Meretas Praktik Profesional

Pagi ini setelah shalat subuh (dengan menerapkan hasil pelatihan shalat khusyuk) tiba-tiba blink...suir suir suir. Ah...ini baru blink beneran. Sebuah gagasan untuk "mewujudkan" profesionalisme. Satu impian saja yang ternyata tidak dapat saya wujudkan sendirian. Saya butuh kompeni, saya butuh sahabat, saya butuh sejawat, saya butuh lembaga, saya butuh lulusan spesialis.
Friend yang baru lulus spesialis, ayo kita mulai. Hari ini saya sudah ACTION. Ayo kita baren-bareng saja.

...maaf kehabisan ide...ini hanya BLINK yang tidak dapat saya bendung.


Read more!

Sunday, July 5, 2009

Bingung Aku

Perawat bergerak, akupun tergerak. Daya dan kekuatan yang menyatu merupakan energi yang tak tergantikan. Aksi damai, audiensi, demonstrasi merupakan suatu bentuk perjuangan. Termasuk mogok nasional.

Tiba-tiba hati saya berdesir. Mogok nasional, suatu pilihan yang sangat berat. Mungkin aku termasuk yang approach-avoidance dalam kecemasan.
Seruan mogok kerja nasional untuk perawat indonesia? Tiba-tiba aku teringat sumpah profesi dan sumpah pns. Sebagai perawat aku harus menjunjung nilai kemanusiaan diatas segalanya. Sebagai pns aku harus loyal pada pimpinan? Sebagai anggota profesi aku juga harus berjuang untuk masa depan profesi secara keseluruhan.

Barangkali ini juga dirasakan oleh teman-teman perawat yang lain. Ini memang letak kelemahan kita. Jiwa altruisme begitu kuat tertanan dalam bawah sadar kita, juga jiwa pengabdian PNS. Secara langsung semua itu telah menjadi mental blocking bagi saya untuk bergerak menyokong perjuangan profesi keperawatan.

Mental blocking ini terasa begitu mengganggu dan sampai saat ini nggak ada solusi. Aku hanya duduk termangu. Bingung aku!


Read more!

Tuesday, May 26, 2009

Evidence Base Nursing

Oleh: Wastu Adi Mulyono

Setelah membuka-buka tesis dan laporan penelitian berkaitan dengan dokumentasi keperawatan, ternyata permasalahan dokumentasi keperawatan tidak hanya di Indonesia. Kompleksitas masalah tersebut dapat berupa permasalah dokumentasi itu sendiri juga dapat berupa faktor yang lain. Faktor dokumentasi sendiri dapat berupa struktur, kontinuitas, kesederhanaan maupun bentuk format itu sendiri. Faktor lain yang berpengaruh berkaitan dengan organisasi, sistem kerja maupun perawat itu sendiri.

Dokumentasi keperawatan diakui sangat penting baik oleh perawat itu sendiri maupun oleh rumah sakit. Perawat mengakui bahwa dokumentasi penting untuk perkembangan profesional. Rumah sakit berkepentingan dengan akreditasi, karena dokumentasi keperawatan merupakan salah satu indikator mutu rumah sakit.

Yang mengherankan sejak penelitian tahun 1998 sampai dengan tahun 2006, permasalahan di Indonesia masih berkutat pada kelengkapan dokumentasi. Pendokumentasian secara digital/elektronik dan adanya sistem informasi keperawatan, meskipun diakui sangat bermanfaat bagi keperawatan tetapi masih juga belum menjawab tantangan tersebut. Beberapa masalah yang sering dilaporkan adalah beban kerja dan intensitas pekerjaan yang menghalangi perawat dalam mendokumentasikan.

Bahkan pendokumentasian elektronik dimana rumusan diagnosis dan rencana sudah terstandarisi memperoleh penilaian kritis dari sebagian perawat itu sendiri. Pembelajaran dokumentasi keperawatan di kampus dan praktik di lapangan dengan dokumen terstandar menurut mereka dapat menurunkan kemampuan kritis perawat dalam mengidentifikasi permasalahan keperawatan. Benar atau salah pendapat tersebut perlu suatu penelitian untuk menjawab dan itu yang akan sedang diteliti oleh teman saya.

Saya sendiri lebih mengamati pada proses pembangkitan internal motivasi pembuat dokument itu sendiri. Motivasi yang berasal dari dalam dan tidak terpengaruh oleh imbalan dan beban kerja yang selama ini menjadi alasan klasik di seluruh Indonesia. Situasi yang mungkin tidak akan pernah terpecahkan, karena dunia keperawatan seperti sebuah anomali. Ketika banyak perawat nganggur, mereka dibayar dengan harga murah, tetapi anehnya ketika jumlah perawat sedikit, imbalan yang diterima mereka juga tidak mengikuti hukum ekonomi dimana harga tinggi jika kebutuhan tinggi. Anomali.

Kembali ke topik motivasi internal, menurut pengamatan saya, merupakan suatu penyakit kronis. Saya telah merasakan adanya gejala ini sejak lama. Mahasiswa sungguh memiliki keengganan tinggi dalam menulis, belajar, apalagi jika berkaitan dengan penelusuran literatur. Malas bukan main. Kesadaran ini semakin jelas setelah saya menjalani sendiri pendidikan lanjutan, kita sangat sibuk dengan berbagai urusan yang sebenarnya juga kita buat sendiri. Proses buang-buang waktu yang selalu terjadi setiap hari. Ini kondisi yang sangat demotivasional.

Penelurusan liteatur menjadi sangat membosankan ketika prasarana yang kita harapkan berjalan baik mengalami banyak gangguan, sehingga kita frustrasi dengan jaringan internet yang tidak lancar. Belum lagi ditambah akses ke database harus berbayar, syukur di FIK kita bisa akses proquest secara remote. Tapi tetap saja selalu ada faktor penghambat, misalnya password expired sementara informasi baru belum ada.

Kondisi ini membuat saya berpikir, mungkinkah suatu fasilitasi terhadap penelusuran sumber ilmiah bagi perawat praktisi yang "sangat sibuk" dapat membangkitkan motivasi internal. Membangkitkan kesadaran paling mendalam tentang keharusan mendokumentasikan dan manfaat universal yang diakibatkannya.Sebuah akibat yang akan membuat semua praktik keperawatan berbasis pada fakta dan obyektif. Suatu Evidence Base Practice perawat. Mimpi apa ya?

Ah ini mungkin juga perlu penelitian. Ya sudah tak telusuri lagi saja. Semoga saja ada relawan yang dapat menambahkan informasi berkaitan kepada saya.


Read more!

Tuesday, April 21, 2009

Kebijakan Pemerintah

Kuliah tentang kebijakan kesehatan memang sangat menarik. PKebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah ternyata saling mendukung, saling tumpang tindih, bahkan saling bertentangan.

Tata urutan perundangan yang dulu diulang-ulang dalam pelajaran sekolah sampai penataran P4 ternyata baru saya mengerti maksudnya sekarang (bodoh banget ya). Hal tersulit menurut saya pada waktu itu adalah susahnya mencari sumber-sumber peraturan atau undang-undang yang harus dibaca. Belum lagi harus fotokopi berlembar-lembar dan pasal pasal yang banyak.

Syukurlah jaman internet ternyata sangat membantu. Teknologi informasi sangat membantu kita saat harus belajar aturan ini dan itu, bahkan kajian terhadap kebijakan tersebut cuga tersebar di internet dan dengan mudahnya kita cari. Terimakasih pada para penemu dan pengembang. Kirim al fatihah buat mereka, siapapun itu.

Berikut ini adalah link yang sangat membantu untuk mencari barang-barang penting tersebut. Klik saja www.legalitas.org. Selamat belajar kajian kebijakan. Terimakasih pada para penemu dari matematika sampai teknologi internet dan komputer. Terimakasih telah bersedia membaca ayat-ayat tuhan buat kami yang masih bebal ini.


Read more!

Monday, April 13, 2009

Silent

Sejak semester ini saya lumayan silent daripada semester kemarin.

Saya coba untuk menjadi diam, agar dapat mengembalikan lagi energi insihgt yang mulai pudar. Expressive words dan jokes yang sering saya lontarkan waktu lalu ternyata telah menumpulkan kesadaran lingkungan (darling) ku.

Active memang perlu. Tujuanku sebenarnya untuk menghidupkan diskusi-diskusi. Diskusi hanya dengan satu tema seragam bukanlah hal yang sehat menurutku. Pemahaman ini yang sering mendorong terlontarnya pendapat di luar arus, yang mungkin sangat "menyebalkan".

Diam menghasilkan kesunyian, tapi lagi-lagi kesunnyian memberikan dampak pada ku, semua produktivitasku jadi ikuta silent, diam tak bergerak. Heran, seolah-olah tidak ada pendorong untuk menulis, belajar, diskusi, bahkan jadi sangat pikun dan missed everything. Kacau deh.

Tapi saya bertekad tetap mempelajari silent ini, sampai tidak mempengaruhi hal yang lain. Kadang terlalu banyak bicara tidaklah baik. Mudah menyakiti orang lain, meskipun sebetulnya bukan salah kita juga, salah sendiri mereka pikirin, lha kita aja yang ngomong tidak pernah mikir. Tapi sesuatu yang berlebihan tetap bukanlah hal baik. Too much words will kill you (plesetan dari too much love will kill you).

Facebook, ternyata cukup memberikan variasi silent ini. Penelusuran kembali jejak-jejak masa lalu untuk meghambat de-myelinisasi serabut saraf otak. Teman-teman sma ketemu lagi, dengan segala kelucuan yang masih mereka bawa. Melihat foto lama yang mengingatkan kembali bahwa ternyata aku dulu orangnya usil juga. Bercermin dari mereka seperti melihat perkembangan sendiri.

Jadi jangan kaget jika tahun ini blog saya jadi kurang up to date, saya masih dalam suasana retreat, introspeksi, solitude, semadi, menjelajah diri, atau apa saja lah. I am silent but I am watching you. Waspadalah.... waspadalah....


Read more!

Monday, April 6, 2009

Ada Apa dengan Kita

Hasil voting tentang "Apakah PPNI akan dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah dalam bidang kesehatan?" yang tayang 1 tahun di Blog saya hanya mampu menarik partisipan 66 orang. Partisipan yang memjawab Ya 42 % (28 orang), tidak setuju 48% (32 orang) dan tidak tahu 9% (6 orang).

Hasil ini mungkin tidak mewakili jutaan perawat di Indonesia yang dihasilkan kurang lebih seribuan (data belum valid) institusi pendidikan keperawatan. Yang dapat dipahami adalah persentase yang tidak percaya ternyata lebih banyak dari yang percaya, meskipun beda tipis.

Mengapa kita tidak dapat meyakini bahwa PPNI tidak dapat mempengaruhi pemerintah? Jika diumpamakan PPNI adalah tubuh perawat itu sendiri, artinya partisipan tadi adalah hati kecil PPNI. Hati kecil PPNI ternyata masih meragukan action yang dilakukan tubuhnya. Artinya masih ada pesimis dalam melangkah.

Mengapa bisa pesimis? Kalau menurut keperawatan jiwa, hal itu terjadi karena kita menilai diri terlalu rendah. Harga diri rendah, kalau mau ditegaskan. Mari kita coba instropeksi:
1. Seberapa tinggi harapan kita?
2. Seberapa rasional target kita?
3. Berapa sering kita berhasil mencapai tujuan kita?
4. Apakah kita mudah tersinggung jika ada yang mengkritik kita?
5. Apakah kita sering menghindar untuk menghadapi tantangan orang lain?

Kita harus mulai membalik persepsi diri jika semua pertanyaan berujung pada negatif. Bagaimana kita berhasil jika melangkah setengah-setengah. Habis energi hati kecil untuk berbantah-bantahan. Sebaiknya gunakan energi untuk tetap fokus pada tujuan. Menerima yang sudah dicapai, memoles lagi agar jadi pondasi yang kuat untuk melompat lebih tinggi. Jika perlu kita gunakan energi ikhlas (zona ikhlas) agar ada lompatan quantumnya yang menghasilkan energi nuklear hati.

Support system tidak ada maknanya jika di dasar hati kita belum menemukan jati dirinya. Mari kita percayai wakil kita di kepengurusan, kita dukung dengan iuran, kita sebarluaskan pencapainnya. Hidup PPNI. Andalkan diri kita sendiri, orang lain itu hanya suplemen multivitamin tambahan.

Ayo Perawat Indonesia kita sedang dalam ancang-ancang untuk melompat lebih tinggi. Jangan mudah menyerah hanya karena proses tugas akademik, konsultasi skripsi yang memusingkan, menyusun tesis yang susah, praktik profesi yang mengecewakan. Expresikan semua pada obyeknya, jangan berkeluh kesah sendiri, kita semua sehat jiwa karena kita bagian dari Indonesia sehat 2010. Jadi ekspresikan saja, jangan takut, asertif tidak menyakiti siapapun.


Read more!

Thursday, March 12, 2009

Trauma?

Oleh: Wastu Adi Mulyono

Selasa pagi, 06:45, Koplak Bus Purwokerto. Seperti biasa, dengan terburu turun dari taksi untuk mendapatkan tiket "Sinar Jaya" kesayangan menuju terminal Kampung Rambutan. Ada crew bus lain yang menawari servisnya, tapi tidak saya perhatikan. Acuh saya terus berjalan menujuk loket. Crew bus paruh baya tersebut terus menawari dan tiba-tiba berkata, "Ndak usah takut, Pak. Jawab saja. Disini tidak ada orang Nakal." Saya diam saja tanpa memperdulikannya. "Pak, mau kemana?" dia masih terus mengejar. Kemudian istri saya menjawab, "Jakarta Pak!, Sinar Jaya!" "Nah begitu, jawab saja, ndak usah takut dinakali, di sini ndak ada yang nakal!" katanya lagi sambil meninggalkan kami tanpa tampak kejengkelan di wajahnya. "Ah.." dalam batin saya sedikit menyesal karena tidak menanggapinya dari awal.

Sepanjang perjalanan ke Jakarta,di dalam bis, saya merenung. Mencoba instrospeksi lagi yang telah saya lakukan. Apakah yang telah menyebabkan saya acuh seperti itu? Apakah saya menderita trauma, tapi saya represi ke dalam bawah sadar saya? Pengalaman apa yang telah menyebabkan respon saya menjadi sangat angkuh (individualis) seperti itu? Seperti kata crew bus tadi, apa salahnya menjawab? apakah itu mengancam keamanan saya?

Teringat kembali berpuluh tahun yang lalu. Terminal bis ibarat sesuatu yang sangat menakutkan, penuh preman dan penipu, menurut imajinasi saya. Betapa tidak, secara tidak sadar saya telah "dicekoki" dengan informasi tersebut oleh orang tua, tetangga maupun kerabat melalui cerita-cerita mereka atau nasihat-nasihat mereka. "Jangan main di terminal, nanti kamu kena "palak" atau malah jadi tukang palak!"

Cerita tersebut sangat membekas. Sehingga secara tidak sadar telah membentuk realitas. Beragam peristiwa yang memperkuat memori tersebut juga terjadi. Seperti ketika akan berangkat ke Jakarta dari Surabaya, di depan loket terminal saya ditanya, kemudian saya jawab. Saya kemudian diajak ke loket di luar terminal, dan "kena deh!" tiket bus yang saya beli ternyata tidak sesuai dengan apa yang ditawarkan. Tapi saya masih belum punya stigma apapun.

Peristiwa berikutnya pun terjadi ketika dari terminal Pulo Gadung akan ke Cilacap. Kembali saya ditawari oleh "agen" yang menyambut saya dengan ramah di pintu masuk terminal. "Mau ke mana Pak? mari saya bawakan tas nya!" Ke Cilacap Pak, pakai
Sinar Jaya!", saya jawab dengan tanpa curiga apapun. "Oh ya... mari ke loket..." Saya pun mengekornya sampai depan loket. Saya mulai curiga ketika loket yang ditujut ternyata bukan loket bis yang saya inginkan. Saya pun berkata, "Pak, saya mau dengan Sinar Jaya!" "Oh ya Pak sama saja, loket ini juga bisa!", jawabnya. Saya pun menurut, kemudian membayar sesuai yang dikatakan petugas loket. Saya terima tiket kemudian saya baca. Benar kecurigaan saya. Tiket tidak sesuai dengan yang saya inginkan, bahkan nama bisnya pun tidak familier bagi saya. Saya pun mengembalikan tiket. Seperti yang saya duga, harus beradu mulut dulu. Akhirnya saya mengalah, saya bayar ganti rugi 10 ribu rupiah. "Brengsek!" umpat saya dalam hati.

Belum cukup, ingatan saya kembali ke Medan. Ketika tiba pertama kali di terminal Medan saya disambut supir taksi. Mengetahui saya dari Jawa, diapun berbicara dengan bahasa jawa. Lagi, percaya saja saya. Orang satu suku ndak mungkin menipu. Saya pun naik taksinya sampai Jln. Rajawali Sei Sikambing. Taksi pun menyalakan argonya. Dengan tenang saya menuju tujuan. Sampai tujuan, angka 46 ribu lebih sedikit tertera di argo. Uang 50 ribuan saya berikan, dengan tenang saya berkata, "Kembaliannya buat Bapak saja!". Lalu saya istirahat. Beberapa hari kemudian saya ada urusan yang akhirnya menggunakan taksi lagi dari terminal ke tempat saya. Melalui rute yang sama, dengan taksi yang berbeda. Sama saja menggunakan argo. Sampai tujuan saya melihat argo, eh cuma 20 ribu. Kena lagi deehhhhh!

Peristiwa yang saya alami berulang sampai beberapa bulan terakhir. Meskipun tidak begitu saya pikirkan lagi. Ketika ke semarang dari terminal Kampung Rambutan, saya tanya ke petugas terminal, "Pak, kalau bis yang ke semarang di mana?". Petugas terminal malah menjawab tidak tahun dan mengarahkan saya ke calo. Saya pun terbujuk, pasrah, masuk loket dan ditunjukkan harga tiket yang telah dilaminating. Tanpa curiga apapun saya menawar, harga bisa berkurang 10 ribu. Saya naik bis, lumayan, ber ac, kursi RS masih bagus. Saya menikmati perjalanan, sampai tiba-tiba di dekat tol kami dioper ke bus lain dengan tampilan yang bisa dibilang mengecewakan. "Kena deeh... " Lebih bodoh dari keledai kali ya, selalu terjatuh ke lubang yang sama. Belum lagi di dalam bis kami dengan cerita orang lain yang duduk di kursi belakang saya, bahwa dia di ancam ketika berada dalam loket dan ingin membatalkan transaksi karena harga terlalu mahal.

Ya.. ternyata saya yang merasa sehat jiwa saja mengalami trauma juga. Sampai sampai saya tidak mempercayai lagi informasi dari petugas resmi atau petunjuk arah di terminal. Saya jadi malas menjawab orang yang menawarkan jasa untuk membawakan tas atau crew bus yang menyambut dengan ramah sekali. Saya telah menggeneralisasikan ketidakpercayaan tersebut di semua terminal termasuk di "koplak" bus purwokerto kemarin. Apa yang harus saya lakukan untuk mengatasi trauma ini? Sampai sekarang pun saya masih ragu-ragu dengan orang yang menawarkan "jasa baik". Percaloan sangat marak di negeri ini, bahkan di instansi pemerintah atau rumah sakit milik pemerintah pun sangat banyak calo tipu-tipu ini.

Informasi negatif telah memporak-porandakan kepercayaan saya pada masyarakat terminal. Diperkuat oleh pengalaman pribadi atau menyaksikan peristiwa yang mengenai orang lain membuat saya jadi acuh. Tidak perduli lingkungan. Nggak Darling (sadar lingkungan)Tidak mengherankan jika saya mengabaikan setiap orang yang ada di terminal. Terlalu banyak tipuan yang saya alami.

Kesadaran ini bukanlah suatu penyelesaian. Hanya sebatas kesadaran terhadap apa yang menyebabkan saya berperilaku menyebalkan bagi orang lain seperti crew bus di terminal purwokerto tadi. Entah sampai kapan saya menderita trauma ini. Sampai kapan label saya terhadap keburukan terminal berakhir. Sampai 2012 barangkali. Lho kok. Ya karena katanya nih, 2012 sudah kiamat. Sudah berakhir semua bukan?


Read more!

Wednesday, February 18, 2009

Entrepreneurship dan Perawat

Oleh: Wastu Adi Mulyono

Perawat harus memiliki jiwa entrepreneur?
Dulu saya memiliki pandangan bahwa pelayanan kesehatan tidak boleh dikomersialkan. Oleh karena itu saya sangat membenci rumah sakit yang meminta Down Payment (DP/Jaminan) ketika menerima pasien pada saat admission.

Pemahanan ini didasari dari filosofi awal yang saya terima ketika masuk dalam dunia keperawatan ini. Mengabdi pada kemanusiaan, mengutamakan kepentingan pasien daripada kepentingan sendiri (altruisme), menolong, sumpah Hipokrates dan sebagainya. Sangat membanggakan sekali sewaktu akhir semester 1 sebelum mulai masuk ke rumah sakit, kami dilantik dan disumpah. Mengharukan.

Perjalanan waktu ternyata dapat mengubah cara pandang kita. Tuntutan ekonomi dan pergaulan yang semakin luas membuat cara berpikir saya berubah. Pikiran bisnis yang dulunya "terlarang" bagi saya lambat laun justru menjadi kebutuhan. Saya yang dulunya membenci rumah sakit yang membisniskan pelayanannya, berubah menjadi menyarankan. Secara sadar saya telah mengubah pandangan saya 180 derajat.

Keperawatan sebagaimana pelayanan jasa lainnya, tidak ada istimewanya. Jika ada yang mengatakan istimewa, itu hanya karena yang dilayani manusia yang unik, tidak konsisten dan selalu berubah. Kalau bentuk bisnisnya ya sama saja dengan yang lain. Semua perlu pelaku, pengelola, pemodal dan karyawan serta pernak-perniknya.

Kebutuhan modal artinya harus ada hitungan kembalinya, atau jika mungkin ada selisih kembaliannya, supaya modal menjadi terus bertambah. Pertambahan modal tentu saja berasal dari putaran bisnis keperawatan yang telah kita lakukan. Tentu saja sumbernya ya pasien itu sendiri. Ya, pasien itu sendiri yang kita tarik uangnya untuk mengembalikan modal yang telah kita tanam. Betul pasien, orang yang sakit itu. Meskipun tidak sepenuhnya akan kita dapatkan dari pasien, tetapi sudah dapat dipastikan kita menarik uang dari pasien yang kita layani.

Permasalahan menarik uang dari pasien inilah yang seringkali membuat para pelaku bisnis pelayanan kesehatan menjadi serba salah. Bahkan ada yang kemudian berhenti total dari bisnis ini. Bagaimana tidak serba salah, sebagai pebisnis kita dihadapkan pada masalah menjual dengan laris, artinya kita akan mencari jalan supaya jualan kita laris. Salah satu yang sering dilakukan dan mudah sekali adalah berdoa pada tuhan agar jualan kita laris. Nah ini masalahnya. Berdoa supaya pelayanan kita laris, secara langsung mendoakan supaya orang banyak yang sakit agar banyak yang membeli pelayanan kita. Oh Tuhan, ampuni aku.

Mengembangkan jiwa entrepreneurship berarti juga tidak akan terlepas dari permasalahan tersebut. Hal ini saya alami sampai lama, sampai akhirnya saya memang harus melepaskan siksaan hati ini. Salah satu cara yang saya lakukan adalaha mengubah mind-set secara total. Membalik semua persepsi yang selama ini ada, dan itu bukan hal yang mudah bagi saya. Stres, gastritis, mual dan semua gejala harus dialami dulu untuk menghadap semua perubahan itu (meskipun tidak seharusnya begitu).

Membangkitkan entrepreneurship untuk perawat yang sangat kental dengan metode berpikir dominasi otak kiri, tanpa mengubah mind set adalah sia-sia. Seperti kuliah entrepreneurship yang saya dapatkan minggu kemarin. Hampir semua tanggapan atau pernyataan atau pertanyaan adalah keluh kesah dan hasil persepsi semua. Padahal itu semua tidak ada gunanya. Semua keluh kesah tidak ada penyelesaiannya tanpa adanya "action". Dosen pun tidak akan dapat menyelesaikan keluh kesah tersebut. Terbukti bukan?

Kunci utama entrepreneurship ya mind set itu sendiri. Setelah itu barulah action (bertindak) untuk merealisasikan perubahan mind set itu sendiri. Langkah yang paling spektakuler adalah langsung saja buka praktik keperawatan.

Pasti ada pertanyaan, Lha praktik keperawatan itu seperti apa? Nanti harus bagaimana?

Ya itulah sebenarnya entrepreneurship dalam keperawatan itu. Kita harus dapat menjawab pertanyaan itu sendiri dengan tindakan-tindakan. Saya tidak dapat menjawabnya. Kita harus dapat menjawab masing-masing, karena kita berbeda. Termasuk kadar entrepreneurship kita juga berbeda.

Ayo kawan, lakukan saja. Kita sudah tahu batas-batasnya. Kalau kita tidak pernah melakukan tapi hanya dipikirkan, bisa terlambat, gawat. Saya pernah mengalaminya, semua ide dan pikiran saya ternyata sudah dilakukan oleh orang lain, padahal kami tidak pernah bertemu. Itulah realitas, kata Plato realitas yang sesungguhanya memang sudah diciptakan. Tinggal siapa yang duluan mewujudkannya. Pantas saja pekerjaan perawat selama ini diambil orang lain, karena perawat hanya memikirkannya tetapi tidak pernah melakukannya. Beruntunglah orang yang mengambil lebih awal. Kasihan sekali yang telah mengambil kesempatan.

Ayo...ayo.. ayoo... Harus berapa kali lagi saya harus bilang ayo! Do it, Lad! Now!


Read more!

Pengumuman!

Bagi Anda yang ingin memberi komentar pada tulisan di Blog Perawat Manajer Indonesia ini, tapi tidak mempunyai user id atau member Blogger.com, dapat menggunakan Anonymous user. Anda tinggal klik pada check list anonymous user sebelum komentar dipublish. Kalau ingin dikenali tinggal tuliskan saja nama Anda di dalam komentar.