Cari di Google

Google

iklan di sini

Friday, December 21, 2007

Manajemen Masa Depan

Oleh: Wastu Adi Mulyono

Seperti apa saya besok, lusa, 1 minggu lagi, 1 bulan lagi, 1 tahun lagi, 1 windu lagi, 1 dasa warsa lagi? Pertanyaan tersebut akan menjadi lebih panjang lagi jika jika jamu awet muda benar-benar ampuh mempengaruhi isi pikiran Anda. Sesungguhnya pertanyaan sederhananya adalah: BAGAIMANA SAYA DI MASA DEPAN?

Rentetan pertanyaan di atas merupakan, pengalaman pribadi yang sangat membekas pada diri saya. Duapuluh delapan tahun yang lalu saya tidak pernah membayangkan akan menjadi seperti sekarang. Yang saya tahu saat itu adalah, saya di antar bapak untuk masuk sekolah pertama kali di SDN Pasirian VI. Saya berkenalan dengan teman-teman baru dan orang-orang baru. Tidak lupa juga disertai bayang-bayang takut di "res" -dihukum- guru seperti yang diceritakan kakak-kakakku. Demikian selanjutnya sampai saya belajar dan masuk perguruan tinggi dan bekerja di Unsoed sekarang.

Tidak pernah terbayangkan juga sebelumnya, bahwa nilai-nilai sekolah pada waktu itu berpengaruh terhadap karir dan kesempatan sekarang. Yang paling mengesalkan adalah nilai (IPK) ketika saya masih sekolah Akademi Keperawatan ternyata telah menggagalkan berkali-kali peluang saya untuk mendapatkan beasiswa, padahal nilai tersebut sudah tertutupi dengan nilai S1 yang cukup menjanjikan. Bukan salah siapa-siapa, semua itu terjadi karena saya tidak dapat me- manage masa depan saya. Saya tidak pernah menyadari bahwa IP yang saya peroleh pada waktu itu, -yang menurut saya sudah cukup tinggi- , ternyata hanya seperti sampah pada saat ini, karena tidak dapat diandalkan untuk berkompetisi.

Itulah yang saya maksudkan, tidak ada orang yang mengetahui masa depan seperti apakah yang akan terjadi. Tetapi yang penting adalah masa depan itu selalu berkaitan dengan masa sekarang. Oleh karena itu sebaiknya kita capai setinggi-tingginya standar yang ada saat ini agar kita tidak menyesal di waktu yang akan datang.

Manajemen masa depan dimulai dari sekarang. Mulailah dengan memancangkan visi setinggi-tingginya. Selanjutnya tetapkan misi dan tujuan jangka pendek. Lalu ambil keputusan untuk melangkah dengan tanpa ragu. Pencanangan visi sebaiknya memperhatikan situasi dan kecenderungan yang terjadi sekarang, karena jika tidak, semua yang kita rencanakan akan meleset jauh.

Sebagai contoh, tren keperawatan di Indonesia beberapa tahun yang akan datang adalah praktik keperawatan mandiri. Jadi jika Anda memilih sekolah keperwatan, pilihlah sekolah yang mendukung tren tersebut. Tingkat pendidikan yang sesuai untuk tren tersebut adalah minimal Ners (S1 + profesi), kemudian dilanjutkan dengan level spesialis dan seterusnya. Anda dapat saja memilih sekolah dengan level di bawahnya dengan alasan tertentu, tetapi perlu diingat, waktu terus berjalan. Sebagai gambaran, saya perlu waktu tunggu hampir 10 tahun untuk dapat melanjutkan ke tingkat pasca sarjana (baca spesialis). Saya memilih pendidikan tingkat D3 karena saya berpikir waktu itu biaya masih murah dan terjangkau. Selain itu memang pendidikan S1 belum populer.

Jika kita lihat situasi sekarang, PPNI sudah mencanangkan tahun 2015 perawat Indonesia sudah setingkat S1 Ners agar dapat disetarakan dengan perawat di seluruh dunia. Jelas sekali arah dunia keperawatan yang akan datang, bukan? Jadi visi dan misi kita sudah jelas. Menjadi perawat yang compatible dengan misi awal lulus pendidikan setingkan S1 Ners.

Langkah selanjutnya adalah menentukan tujuan jangka pendek. Agar tetap dapat kompatibel dengan situasi di jaman berikutnya, kita harus menentukan standar-standar. Standar yang ada saat ini adalah, jika mahasiswa lolos dengan nilai baik (IPK lebih dari 3,00) itulah yang dapat memulai berkompetisi di lapisan elit. Nah jika Anda hanya mendapatkan IPK di bawah itu, apa yang akan terjadi? Ya, Anda sudah kalah sebelum berperang.

Selain nilai, kepribadian yang baik sangat dibutuhkan dalam profesi ini. Jika Anda ingin memperoleh klien dengan kualitas baik dan menjanjikan, sudah pasti Anda harus disukai mereka. Kepribadian yang baik, sangat mudah beradaptasi dan matang dalam pergaulan. Tetapkan diri Anda untuk memilki kepribadian baik. Tolok ukur kepribadian, biasanya diamati dari etiket dan sopan santun dalam pergaulan. latihlah diri Anda dengan baik untuk itu. Saya jamin, itu adalah pelatihan yang sangat menantang di jaman sekarang.

Langkah terakhir, menurut saya, adalah komitmen untuk profesional. Profesionalisme tidak akan pernah terbukti sebelum Anda mendapatkan klien yang banyak. Karena hanya klien yang dapat mengukur profesionalisme Anda. Jadi kalau Anda tidak pernah mendapatkan klien karena IPK atau kepribadian yang bermasalah, bagaimana dapat menjadi profesional? Setelah klien didapatkan, reevaluasi terus menerus terhadap kebutuhan adalah bagian dari komitmen untuk profesional. Tidak ada kata statis dalam pikiran kita. Terus maju dan berkembang sampai sudah habis kreativitas kita sebagai pelaku kehidupan.

Manajemen masa depan sangat dibutukan untuk siapa saja. Jika Anda menjadi manajer tanpa usaha manajemen yang telah saya sampaikan, bersiaplah untuk tertinggal di masa sekarang. Karena biasanya zona nyaman itu memabukkan. Anda akan mabok dan akhirnya overdosis dan tidak tertolong lagi.

Yang muda, yang masih memiliki kesempatan, jangan sia-siakan energi Anda. Jika seseorang "lebih tua" dari Anda memberikan kesempatan untuk membantu misi-misi Anda (Contoh: kesempatan memperoleh nilai bagus dengan tugas yang banyak) jangan pernah dikesampingkan. Sebab itu mungkin juga bagian dari faktor langkah anda di masa depan.

Manajemen masa depan sangat dibutuhkan siapa saja, kapan saja di mana saja. Mulailah atur masa depan Anda mulai saat ini dimanpun berada. Tuhan bersama kita semua. Ayo perawat Indonesia, jangan cuma mengeluh, lihat peluang di depan mata sedang terbungkus kertas kado yang rapi (Jatuh dari kereta sinterklas kali). Dia menunggu kita buka dan mengetahui isinya.

4 comments:

CresceNet said...

Hello. This post is likeable, and your blog is very interesting, congratulations :-). I will add in my blogroll =). If possible gives a last there on my site, it is about the CresceNet, I hope you enjoy. The address is http://www.provedorcrescenet.com . A hug.

Prodi S2 Biologi said...

Saya sangat terkesan dengan semangat, pemikiran, dan pemanfaatan teknologi informasi untuk kemajuan institusi yang tercermin pada pandangan Pak Wastu. Kalau ada kesempatan ingin rasanya, saya ingin berbincang langsung tentang bagaimana mengembangkan TI untuk dapat meningkatkan harkat Unsoed, saya belum puas dengan kinerja PUSKOM, yang menurut saya tidak jelas program dan manajemen dalam peran sertanya mendorong Unsoed menjadi institusi yang terhormat.

Hormat saya
Hendro Pramono
http://pascabiologi.wordpress.com/

Opik said...

Beberapa hari yg lalu, tepatnya sabtu, 16 Pebruari 2008, STIKES Al-Irsyad Cilacap menyelenggarakan acara workshop keperawatan tentang aplikasi Nanda, Nic dan Noc. Selaku pembicara Yektiningtyastuti, S.Kep.,M.Kep.,Sp.Mat., Puket 1 Stikes Al-Irsyad Cilacap dan Darmini, S.Kep., Ners, Konsultan Instruktur RSUD Margono Purwokerto.
Kesan yang saya tangkap sebagai peserta, bahwa workshop ini hanya sebatas membahas bagaimana cara membaca dan menggunakan buku diagnosa keperawatan versi Nanda, Nic dan Noc. Proses pembacaan dan peggunaan yg njlimet menjadi sebuah keharusan bahwa penggunaan softwer atau perangkat lunak sistem komputer menjadi sebuah keharusan agar aplikasi “triple N” ini dapat dijalankan dan diterapkan di rumah sakit. Sekali lagi tanpa dukungan softwer tsb, maka omong kosong kalau aplikasi ini dapat digunakan scr optimal.
Permasalahannya adalah bagaimana pengadaan sotwer ini terutama dalam versi Indonesia, mengingat sebagian besar perawat kita tidak melek bahasa asing. Tentu ini sebuah pekerjaan tambahan ditengah terbengkelainya beberapa program prioritas yang konon sedang diurus tapi belum membuahkan hasil. Mulai organisasi keperawatan yg masih carut-marut sampai rancangan undang-undang keperawatan yang mangkrak.
Kalau sekedar keterbatasan finansial, saya kira bukanlah persoalan ya perlu dibesar-besarkan, mengingat jumlah perawat di negeri ini yang tidak kurang dari 1 juta perawat yg tersebar di seluruh nusantara. Artinya kalau kita mau iuran seribu rupiah aja, maka akan terkumpul dana 1 milyar.
Kembali ke permasalahan softwer. Kalau pembuatan softwer ini tidak difasilitasi dalam skala nasional, maka akan muncul aplikasi versi rumah sakit A, B, C dan seterurnya yang mereka merasa yg mempunyai lisensi terhadapp softwer yang dimiliki, belum lagi kalau diklaim oleh pihak diluar keperawatan, akan seberapa banyak lagi aset keperawat yang akan dicaplok oleh profesi lain?

Ahmad Alfikri said...

Tidak ada kata terlambat. Alloh punya banyak cara untuk membuat diri sesorang itu berguna bagi yang lainnya. IPK, itu memang penting, namun kepribadian dan keahlian juga itu sangat diperlukan bagi seorang perawat. Banyak perawat yang memiliki IPK besar, namun mereka tidak memiliki keterampilan yang cukup untuk menjadi seorang perawata yang dpat disenangi oleh klien ataupun masyakat. Anda punya kelebihan untuk memeberi semangat bagi semua perawata dunia untuk dapat menjadi lebih baik dan pastinya Alloh masih punya banyak kehendak pada diri Anda. Jangan pernah lelah memberi semangat kepada seluruh Nurse DUNIA...!!!!Tetap berkarya...!!!

Pengumuman!

Bagi Anda yang ingin memberi komentar pada tulisan di Blog Perawat Manajer Indonesia ini, tapi tidak mempunyai user id atau member Blogger.com, dapat menggunakan Anonymous user. Anda tinggal klik pada check list anonymous user sebelum komentar dipublish. Kalau ingin dikenali tinggal tuliskan saja nama Anda di dalam komentar.