Oleh: Wastu Adi Mulyono
Mengikuti aksi damai perawat di Senayan, Senin 12 Mei 2008 merupakan pengalaman yang sangat menggairahkan. Bagaimana tidak, puluhan ribu perawat dan mahasiswa berkumpul bersama menyuarakan pentingnya diundangkan RUU Praktik Keperawatan. Satu visi, satu hati, satu tekad, satu suara.
Saya bersama rombongan Banyumas dengan 1 bus, bergabung dengan seluruh rombongan Jawa Tengah kurang lebih 40 bus dengan total penumpang kurang lebih 2000 orang di Brebes, selanjutnya beriringan menuju Jakarta. Iringan yang diawali oleh fore reader dari Kepolisian ini bagaikan tubuh ular yang siap memangsa umpan yang lalai terhadap kewajibannya.
Sejak tiba pukul 03:00 dini hari 12 Mei 2008 di Parkir Timur Gelora Bung Karno, rombongan sudah berkoordinasi. Tidak lama kemudian mobil kontainer toilet datang silih berganti untuk menyambut hari para pendatang yang harus menaati panggilan alam.
Pagi hari, sampai pukul 07:30 saat demonstrasi berjalan pun rombongan dari berbagai daerah masih-silih berganti datang. Terus bergabung dengan rombongan jawa tengah yang telah datang lebih dahulu.
Sungguh, bergabung bersama dengan satu tujuan sangatlah luar biasa. Orasi-orasi penyemangat menunjukkan betapa hausnya perawat terhadap perubahan. Hari ini memang sebuah sejarah. Sejarah kebangkitan perawat indonesia. Hari ketika semua elemem perawat dapat menyatukan suara. Seperti orasi salah satu senior perawat yang sudah mau pensiun, betapa bangganya beliau menyaksikan perawat dapat bersatu. Mendengar orasi beliau saya merinding. Bayangkan saja hampir 25 tahun lebih beliau bekerja, tanpa perlindungan hukum dan undang-undang, dizalimi. Barangkali doa para pasienlah yang menyelematkan beliau dari berbagai tantangan yang menghadang.
Menyatukan perawat dengan berbagai elemen dan latar belakang dalam satu suara memang sebuah tonggak sejarah baru. Tetapi, mengutip kata Bang Iwan pengurus pusat PPNI, aksi ini bukan yang pertama, juga bukan yang terakhir. Akan ada kelanjutan terus menerus. Undang-Undang praktik keperawatan memang harga mati. Bukan egois, tetapi melindungi perawat sama dengan melindungi rakyat Indonesia.
Semangat ini perlu dipelihara. Kebersamaan perlu dipupuk. Aksi yang berkesinambungan perlu perencanaan matang. Ayo rencanakan Plan B, C, D, E sampai ZZZ. Berjuang terus seperti legenda Kakek Bodoh memindahkan gunung yang dituturkan motivator kawakan Indonesia Andri Wongso. Berjuang itu bukan untuk kepentingan sekarang, untuk keuntungan pribadi, tetapi untuk kepentingan seluruh generasi yang akan lahir berikutnya.
Meskipun aksi ini kurang diliput TV, kalah dengan issue BBM dan Trisakti, tetapi kita tidak perlu kecewa. Kita memang tidak bisa bersandiwara dengan melakukan adegan kerusuhan yang menarik media kita, karena itu bertentangan dengan nurani kita. Kita juga tidak bisa melakukan aksi yang merugikan kepentingan umum, karena itu melanggar etika. Kita juga tidak dapat meninggalkan tugas, karena kesehatan manusia adalah yang utama. Tetapi aksi Jakarta telah disupport oleh aksi-aksi di daerah. Hampir semua koran lokal memberitakan aksi keperawatan tanggal 12 Mei. Radar Banyumas saja memuat berita di Cilacap, Purwokerto dan Kebumen. Sindo memuat aksi di Pati. Pasti semua memuat berita tentang keperawatan. Hal ini adalah potensi yang siap digali. Ranjau-ranjau yang siap meledakkan penguasa yang melupakan para perawat ini.
Angin perubahan sudah datang. Hati yang mengeras bagaikan kayu kering yang siap dibakar. Api semangat florence nigtingale sudah menemukan sasarannya. Terbakarlah perawat indonesia, ukirlah sejarah baru keperawatan, dengan darah, maupun abu jenazah. Roda sejarah sedang bergulir. Naiki dan pegang kendali atau tergilas binasa jadi sampah tak berguna. Merdeka! Perawat juga punya hak untuk berperan dalam pembangunan kesehatan Indonesia.
Hidup Sederhana
16 hours ago


1 komentar:
Kapan PPNI bisa lebih tegas & punya kuasa mengatur urusan dalam negeri mulai dari produksi, pengembangan, perlindungan & kesejahteraan perawat ?
Semoga di masa mendatang kita punya bibit2 unggul perawat yang tidak lahir dari "ibu" yang kurang sehat sehingga akan melahirkan "bayi" sehat & juga memberikan asuhan keperawatan kepada segala usia perawat sehingga lebih tangguh & diakui. Bukankah memang itu yang diharapkan ? apakah kita khususnya PPNI (wadah organisasi) punya kemampuan mewujudkannya ? 100% YA..!!!
HIDUP PERAWAT
Post a Comment