Cari di Google

Google

Monday, July 14, 2008

Keprihatinan Ners

Oleh: Wastu Adi Mulyono

Saya tertegun, di depan daftar nilai hasil pemeriksaan lembar jawaban. Denial, campur heran. Mengapa mahasiswa para mahasiswa hanya dapat nilai setengah dari soal yang saya buat? Apa soal terlalu sulit? Bukankah waktu kuliah sudah memberikan kesempatan bertanya tentang apa yang belum jelas?

Bolak-balik saya baca lagi soalnya. Bahasa yang digunakan, konstruksinya. Rasanya sudah dibuat sebaik mungkin. Saya amati jawaban mahasiswa. Oh, kalau soalnya hanya berupa ingatan, lebih dari 75 persen bisa menjawab. Saya lihat soal lain yang bertipe analisa, emm, memang sedikit sekali yang benar menjawab. Wajar.

Saya mencoba memperhatikan soal-soal esay. Nah ini dia. Ternyata banyak mahasiswa tidak mengetahui arti pertanyaannya. Istilah yang diguankan dalam jawabannya pun masih tidak karuan, jangankan definisinya sama, arti yang dipakaipun kadang bertolak belakang.

Pantas saja banyak dari mahasiswa tidak dapat menjawab pertanyaan penjelasan. Bagaimana dapat memberikan penjelasan, lha yang mau dijalaskan saja tidak tahu apa. Ibarat orang buta diminta menjelaskan gajah, yang menyetuh telinganya akan mengatakan gajah itu tipis, yang menyentuh kakinya saja akan menjelaskan seperti tabung dan lainnya. Mahasiswa yang tidak mengetahui arti istilah sudah pasti tidak akan dapat menjelaskan maknanya.

Keprihatinan saya semakin bertambah dalam. Sebagian mahasiswa juga tidak mau membaca buku berbahasa asing. Padahal kalau kita sering membaca buku bahasa asing pasti akan sedikit membantu. Bahasa inggris misalnya mirip dengan bahasa latin. Jadi semakin sering kita membaca buku berbahasa asing, semakin mudah kita belajar istilah-istilah di keperawatan.

Sejenak saya introspeksi pada pemahaman keperawatan. Kalau kita tidak tahu keperawatan, bagaimana menjelaskanya. Obyeknya saja belum jelas. Ini sangat critical! Menjelaskan saja belum bisa, mau mengaplikasikan, menyusun kebijakan, bahkam menggunakannya untuk menerapi orang lain? Seratus persen mahasiswa yang mengambil kuliah manajemen keperawatan langsung diam kebingungan ketika saya tanya tentang paradigma keperawatan. Siapa yang salah? Materi Konsep Dasar Keperawatan bahkan diberikan 7 sks. Hasilnya tetap saja. Pasti ada yang tidak berjalan dengan benar.

Isu-isu tentang penggunaan kurikulum berbasis kompetensi juga sudah didengungkan. Kurikulum berbasis kompetensi, katanya. Lagi-lagi kompetensi. Lagi-lagi kurikulum yang akan diubah. Apa semua sudah sama memahami kompetensi? Ada yang menyebut ketrampilan menyuntik, merawat luka dan yang semacamnya itu adalah kompetensi. Hmm benar enggak ya? Aipni sudah punya web enggak ya, yang dapat menjelaskan tentang itu? Atau sudah ada di dalam situs inna-ppni.or.id?

Metode berubah, tetapi jika sumber-sumber belajar sendiri juga tidak jelas, mereka mau belajar dari mana? Internet, itu kata mereka jawabannya. Bagian mana dari internet? 99% mahasiswa saya yang sudah disediakan internet belum mampu mengoptimalkannya. Kalaupun ada yang sudah akses jurnal-jurnal, mereka langsung mengeluh, Pak yang bahasa Indonesia ada, enggak? Atau Pak, kok harus bayar sih.

Dosen sebenarnya dapat menjadi fasilitator yang mampu menjembatani permasalahan ini. Tapi bagaimana kalau dosennya juga tidak dapat memahami bahasa Inggris? Ha...ha apa iya ada dosen yang tidak dapat berbahasa Inggris, Pak? Dosen dapat membantu dengan membuat koleksi materi yang up to date. Up to date dalam arti dosen sudah dapat menghubungkan antara teori dengan praktik. Lalu kalau dosennya tidak pernah ke klinik? Ya ke klinik dulu lah!! Bagaimana bisa ke klinik Pak, jam mengajar full. Ya wajar saja, mendirikan sekolah tinggi cukup dengan 5 dosen, ijin sudah keluar kok.

Tidak perlu dilanjutkan lagi. Pada dasarnya parmasalahan saya hanya prihatin. Mengapa mahasiswa ners malas mempelajari istilah. Menyepelekan pemahaman istilah. Perlukah kita memberikan kurikulum khusus untuk memahami istilah dalam keperawatan. Jika sumbernya sudah jelas, dosen sudah paham, mahasiswa sudah paham, pasti proses menjelaskan juga mudah. Setelah menjelaskan dengan mudah pasti membuat turunan dari penjelasan tersebut juga mudah. Praktik mudah, perijinan mudah, undang-undang juga mudah.

Kekacauan pemahaman ini juga barangkali,disebabkan bervariasinya latar belakang pendidikan dosen. Saya masih ingat, betapa angkuhnya saya dulu ketika menyandang gelar S.Kp. Seolah-olah saya lah yang paling benar. Dosen lulusan luar negeri yang tidak pernah sekolah S1 di Indonesia itu sepele. Beruntung saya bergaul dengan banyak orang dengan latar belakang pendidikan berbeda. Perawat dari yang disebut penjenang sampai yang sudah doktor bahkan guru besar. Jadi saya tidak memelihara keangkuhan tersebut terlalu lama.

Saya ingat dosen saya waktu D3 langsung mengajarkan ilmunya dari S1 dengan bangga sekali. Lalu waktu S1 dosen lulusan S2 juga memberikan pengetahuannya dengan sedikit sekali. "Bu, itu kan sudah pernah kami pelajari di D3?" Demikian pertanyaan kami. Jawaban yang saya dengar membuat saya berkerut. "Ilmu Anda di D3 ketinggian!" Salah siapa hayo??

Prihatin.. prihatin...

9 komentar:

Anonymous said...

Yang masuk AKPER itu berasal dari MAN, SMEA,SMA jur IPS dan ada yg STM. Mereka tidak punya basis dan fondasi yg kuat, apalagi tujuan mereka itu pada awalnya hanya mau cara cepat mencari kerja dg profesi perawat. Begitu selesai dan tamat masih nganggur, maka mereka melanjutkan S1 keperawatan juga atas dasar hanya mencari kerja dan bukan mau pintar,jadi wajar saja banyak sarjana keperawatan yg bodoh dan tidak tahu apa-apa. Penguasaan teori tidak 100% dan ketrampilan klinik pun hanya 20%. Apa yg diharapkan dari sarjana keperawatan itu ? Fakta dilapangan berkata bahwa tiap tahun terjadi penurunan kualitas skill dan sain dari sarjana keperawatan. Fenomena apa lagi ini ?

Anonymous said...

Sebaiknya yg masuk S1 keperawatan itu agar diseleksi ketat,seperti dengan diberlakukannya tes IQ, hanya mereka yg ber-IQ 120 keatas bisa diterima di fak. keperawatan. Setuju ?

Anonymous said...

Sebenarnya sekolah SMK bukan untuk melanjutkan ke Perguruan tinggi, itu filosofinya. Sama halnya jalur D3,D4 itu filosofinya jalur profesi. Jadi sebenarnya D3 tidak bisa melanjutkan ke S1 tanpa ada penyesuaian. Demikian juga D4 tidak dapat ke S2. Tetapi di dunia nyata, fakta berkata lain. UU boleh dibuat, tapi penegakkannya yang harus tegas. Tapi orang Indonesia seperti saya terkenal dengan kebijakannya. Jadi selalu Kebijakan.
Contoh paling konyol yang saya rasakan adalah, UU mewajibkan 20 % anggaran untuk pendidikan. Kalau itu diterapkan dengan tegas, maka guru, dosen dan mahasiswa harus merangkap jadi polisi, tentara, atau satpam yang juga kekurangan anggaran untuk pertahanan keamanan.
Bagi saya, mudah saja, SMK, STM silakan saja masuk, asalkan ujian masuknya bisa dan nilai selama proses juga bisa. Itu artinya mereka mampu. Dalam proses pendidikannya kita harus disiplin membentuk visi dan nilai-nilai keperawatan pada mereka. Selesai.

Anonymous said...

Apa iya kualitas skill nya pada turun? Jangan-jangan alat ukurnya yang tidak valid? Itupun kalau ada alat ukurnya? Ya nggak?

HUMAN NEED A LECTURE NOTE said...

Selama saya menggeluti dunia pendidikan keperawatan, permasalahan paling mendasar ada pada perawat itu sendiri. Ada yang jualan ijazah untuk pendirian sekolah, ada yang jadi makelar ijin pendirian sekolah, ada juga yang jadi pembuat sekolah. Alhamdulillah semuanya berjalan. Semua terlibat dalam mengambil keuntungan. Saya dapat langsung diterima bekerja di akper swasta juga karena adanya proses tersebut. Saya dapat melanjutkan kuliah di S1 juga karena proses tersebut.
Semua perubahan, harus dari diri sendiri, ditularkan ke orang lain dengan berbagi visi, menjaga visi bersama dengan mengingatkan orang lain dan tidak melibatkan diri dalam perusakan visi. Paling penting adalah niat untuk berubah. Yang lalu sudah terjadi. Hari ini kita perbaiki. Masa mengikuti. Terimakasih komentarnya, akan sangat berharga jika menyertakan identitas. Jika tidak ingin identitas diketahui minimal kirimkan saja informasi khusus buat saya di adhinewastu@gmail.com

zani pitoyo said...

Saya,pak wastu, dan mungkin sebagian besar yang berkomentar di sini adalah produk pendidikan keperawatan beserta semua proses kompleks-nya.

Hasilnya adalah komunitas perawat yang dikeluhkan Pak Wastu.

Saya menduga kuat "setelan cara berpikir" tentang keperawatan,cara pandang terhadap profesi, cara pandang terhadap kolega dan cara pandang terhadap konteks eksternal profesi keperawatan perlu di koreksi total.

Salam kenal bos...

zani pitoyo said...

termasuk "setelan cara berpikir" mengkotak-kotakkan perawat lulusan level pendidikan tertentu tidak boleh masuk pendidikan level tertentu yang lebih atasnya tanpa syarat, itu produk berpikir kelompok yang kontraproduktif terhadap kemajuan profesi keperawatan.

Lihatlah ada masalah lain yang lebih penting.

Perawat lulusan apapun asal pernah di sumpah dan di lantik sebagai perawat maka itulah kolega/sejawat/saudara.

Don't look at where he or she graduated from.

http://zanipitoyo.wordpress.com

Anonymous said...

ners is the best !!!

Anonymous said...

itu sekolah-sekolah tinggi kesehatan jangan asal terima mahasisiwa dong,,,,yang berkualitas dikit. jadi nanti lulusannya juga tidak sembarangan skillnya.

Pengumuman!

Bagi Anda yang ingin memberi komentar pada tulisan di Blog Perawat Manajer Indonesia ini, tapi tidak mempunyai user id atau member Blogger.com, dapat menggunakan Anonymous user. Anda tinggal klik pada check list anonymous user sebelum komentar dipublish. Kalau ingin dikenali tinggal tuliskan saja nama Anda di dalam komentar.