Cari di Google

Google

Tuesday, July 22, 2008

Cuci Otak

Oleh: Wastu Adi Mulyono

"Coba nanti kulihat, apa bisa kamu mewujudkan impianmu?"

Twing!!! Apa maksud kalimat ini ya? Sebuah dukungan atau sebuah ketidakpercayaan?



Cerita dimulai ketika saya mengikuti kegiatan mentoring kewirausahaan. Setelah mengikuti mentoring tersebut, semua pola pikir saya terhada wirausaha berubah total. Nilai-nilai dan keyakinan yang saya anut selama ini ternyata menurut para mentor telah menyebabkan tidak maju. Alam bawah sadar saya telah dibatasi untuk tidak maju oleh pikiran sendiri yang telah dibentuk bertahun-tahun.

Sewaktu hal ini saya utarakan pada orang tua saya, ternyata jawabannya persis sama seperti yang disampaikan oleh para mentor. Mereka sama sekali tidak sependapat. Lebih enak jadi pegawai. Kamu sudah dicuci otak! Mengejar sesuatu yang belum jelas.

Mendengar kata cuci otak saya terhenyak?? Saya dulu juga berpendapat begitu terhadap para pelaku pemboman di Bali. Pada para pengikut komunitas Eden dan lainnya. Benar ternyata memang saya mengalami cuci otak. Bayangkan saya, nilai dan pengalaman yang selama ini dengan kuat saya anut, bahkan saya bagikan pada para junior berupa nasihat nasihat bijak (sok nih!), ternyata harus berubah total. Jelas ini cuci otak!!!

Tetapi setelah dipikir-pikir, apa salahnya cuci otak? Bukankah sewaktu kita memberikan psikoterapi pada pasien gangguan jiwa juga merupakan proses cuci otak? Apa salahnya memutar jalan hidup? Berbalik kebelakan untuk ambil ancang-ancang tinggal landas dengan cepat? Bukan demikian yang terjadi sehingga pesawat jet dapat melesat ke udara? Pesawat tersebut harus berbalik dulu ke ujung landasan pacu sebelum berbalik untuk take off?

Saya menjadi tercenung? Bukan menyesali proses cuci otaknya, tetapi menyesali mengapa saya tidak mencuci otak saya dari dulu? Bertahun-tahun saya telah membatasi kreatifitas saya sendiri, menjajah anugrah Tuhan yang maha dahsyat dengan sesuatu yang bertajuk "bijaksana".

Bagaimana jika calon perawat juga kita cuci otak? !^&^7 Good Idea. Mulai sekarang kita cuci otak saja semua calon perawat dan para perawat. Semua perawat berhenti jadi perawat. Jeda dari kehidupan yang disebut dengan dunia keperawatan atau ners. Mundur ke belakang. Dihujat dan dihina, biarkan saja (...biaar doanya ma'bul).

Setelah itu..... Tinggal landas Coy!!! Ndak hidup begini terus. Kita buktikan kata kata di atas tadi.... "Coba nanti kulihat, apa bisa kamu mewujudkan impianmu?"


Read more!

Monday, July 14, 2008

Keprihatinan Ners

Oleh: Wastu Adi Mulyono

Saya tertegun, di depan daftar nilai hasil pemeriksaan lembar jawaban. Denial, campur heran. Mengapa mahasiswa para mahasiswa hanya dapat nilai setengah dari soal yang saya buat? Apa soal terlalu sulit? Bukankah waktu kuliah sudah memberikan kesempatan bertanya tentang apa yang belum jelas?

Bolak-balik saya baca lagi soalnya. Bahasa yang digunakan, konstruksinya. Rasanya sudah dibuat sebaik mungkin. Saya amati jawaban mahasiswa. Oh, kalau soalnya hanya berupa ingatan, lebih dari 75 persen bisa menjawab. Saya lihat soal lain yang bertipe analisa, emm, memang sedikit sekali yang benar menjawab. Wajar.

Saya mencoba memperhatikan soal-soal esay. Nah ini dia. Ternyata banyak mahasiswa tidak mengetahui arti pertanyaannya. Istilah yang diguankan dalam jawabannya pun masih tidak karuan, jangankan definisinya sama, arti yang dipakaipun kadang bertolak belakang.

Pantas saja banyak dari mahasiswa tidak dapat menjawab pertanyaan penjelasan. Bagaimana dapat memberikan penjelasan, lha yang mau dijalaskan saja tidak tahu apa. Ibarat orang buta diminta menjelaskan gajah, yang menyetuh telinganya akan mengatakan gajah itu tipis, yang menyentuh kakinya saja akan menjelaskan seperti tabung dan lainnya. Mahasiswa yang tidak mengetahui arti istilah sudah pasti tidak akan dapat menjelaskan maknanya.

Keprihatinan saya semakin bertambah dalam. Sebagian mahasiswa juga tidak mau membaca buku berbahasa asing. Padahal kalau kita sering membaca buku bahasa asing pasti akan sedikit membantu. Bahasa inggris misalnya mirip dengan bahasa latin. Jadi semakin sering kita membaca buku berbahasa asing, semakin mudah kita belajar istilah-istilah di keperawatan.

Sejenak saya introspeksi pada pemahaman keperawatan. Kalau kita tidak tahu keperawatan, bagaimana menjelaskanya. Obyeknya saja belum jelas. Ini sangat critical! Menjelaskan saja belum bisa, mau mengaplikasikan, menyusun kebijakan, bahkam menggunakannya untuk menerapi orang lain? Seratus persen mahasiswa yang mengambil kuliah manajemen keperawatan langsung diam kebingungan ketika saya tanya tentang paradigma keperawatan. Siapa yang salah? Materi Konsep Dasar Keperawatan bahkan diberikan 7 sks. Hasilnya tetap saja. Pasti ada yang tidak berjalan dengan benar.

Isu-isu tentang penggunaan kurikulum berbasis kompetensi juga sudah didengungkan. Kurikulum berbasis kompetensi, katanya. Lagi-lagi kompetensi. Lagi-lagi kurikulum yang akan diubah. Apa semua sudah sama memahami kompetensi? Ada yang menyebut ketrampilan menyuntik, merawat luka dan yang semacamnya itu adalah kompetensi. Hmm benar enggak ya? Aipni sudah punya web enggak ya, yang dapat menjelaskan tentang itu? Atau sudah ada di dalam situs inna-ppni.or.id?

Metode berubah, tetapi jika sumber-sumber belajar sendiri juga tidak jelas, mereka mau belajar dari mana? Internet, itu kata mereka jawabannya. Bagian mana dari internet? 99% mahasiswa saya yang sudah disediakan internet belum mampu mengoptimalkannya. Kalaupun ada yang sudah akses jurnal-jurnal, mereka langsung mengeluh, Pak yang bahasa Indonesia ada, enggak? Atau Pak, kok harus bayar sih.

Dosen sebenarnya dapat menjadi fasilitator yang mampu menjembatani permasalahan ini. Tapi bagaimana kalau dosennya juga tidak dapat memahami bahasa Inggris? Ha...ha apa iya ada dosen yang tidak dapat berbahasa Inggris, Pak? Dosen dapat membantu dengan membuat koleksi materi yang up to date. Up to date dalam arti dosen sudah dapat menghubungkan antara teori dengan praktik. Lalu kalau dosennya tidak pernah ke klinik? Ya ke klinik dulu lah!! Bagaimana bisa ke klinik Pak, jam mengajar full. Ya wajar saja, mendirikan sekolah tinggi cukup dengan 5 dosen, ijin sudah keluar kok.

Tidak perlu dilanjutkan lagi. Pada dasarnya parmasalahan saya hanya prihatin. Mengapa mahasiswa ners malas mempelajari istilah. Menyepelekan pemahaman istilah. Perlukah kita memberikan kurikulum khusus untuk memahami istilah dalam keperawatan. Jika sumbernya sudah jelas, dosen sudah paham, mahasiswa sudah paham, pasti proses menjelaskan juga mudah. Setelah menjelaskan dengan mudah pasti membuat turunan dari penjelasan tersebut juga mudah. Praktik mudah, perijinan mudah, undang-undang juga mudah.

Kekacauan pemahaman ini juga barangkali,disebabkan bervariasinya latar belakang pendidikan dosen. Saya masih ingat, betapa angkuhnya saya dulu ketika menyandang gelar S.Kp. Seolah-olah saya lah yang paling benar. Dosen lulusan luar negeri yang tidak pernah sekolah S1 di Indonesia itu sepele. Beruntung saya bergaul dengan banyak orang dengan latar belakang pendidikan berbeda. Perawat dari yang disebut penjenang sampai yang sudah doktor bahkan guru besar. Jadi saya tidak memelihara keangkuhan tersebut terlalu lama.

Saya ingat dosen saya waktu D3 langsung mengajarkan ilmunya dari S1 dengan bangga sekali. Lalu waktu S1 dosen lulusan S2 juga memberikan pengetahuannya dengan sedikit sekali. "Bu, itu kan sudah pernah kami pelajari di D3?" Demikian pertanyaan kami. Jawaban yang saya dengar membuat saya berkerut. "Ilmu Anda di D3 ketinggian!" Salah siapa hayo??

Prihatin.. prihatin...


Read more!

Tuesday, July 1, 2008

Mencari Jalan Spiritual

Oleh: Wastu Adi Mulyono

Seorang mentor pernah bertanya pada kami, "Pernah dengar lomba baca Qur'an?" Kami pun serempak menjawab, "Pernah!!!!!"
Kemudian Beliau bertanya lagi, "Pernah dengar lomba melaksanakan Qur'an?" Kami pun kebingungan menjawabnya. Pernah-enggak-pernah-enggak-pernah... Akhirnya kami cuma diam. "He... hee, ketahuan Nih," Membaca memang sering, tapi kalau melaksanakan? dilombakan?

Pertanyaan mentor tersebut telah menggelitik hati kecil saya. Wah, selama ini yang mengaku pemimpin, manajer, ketua dan lain sebagainya itu apa juga sudah melaksanakan kitab suci masing-masing dengan benar Ya? Seandainya.....

Ah, untukt apa memikirkan perbuatan orang lain. Lebih baik introspeksi diri. Kalau dipikir-pikir selama ini saya terlalu sombong. Mengaku-aku perawat manajer, tapi tidak dapat mengatur anak buah dengan baik.

Perjalanan waktu membawa saya, pada buku Quantum Ikhlas, karya Erbe Sentanu. Menarik juga buku ini, apalagi ada embel-embel ikhlas. Buku itu juga melampirkan kesaksian-kesaksian orang yang sukses menerapkan ikhlas. Wah Andai saya dapat memimpin dengan ikhlas, pasti anak buah akan bekerja dengan ikhlas juga. Saya pun bertekad mengikuti salah satu pelatihan. Level paling awal adalah Mind Fokus.

Selama 1 hari mulai pukul delapan sampai pukul enam malam, kami pun menjalani sesi-sesi dengan tertib. Tidak seperti pelatihan motivasi yang sering saya ikuti, kali ini sesinya berjalan lancar, tenang. Latihan-latihan pun berjalan dengan lancar.

Hal yang paling menarik buat saya sebenarnya cuma cara berdoa yang mudah terkabul. Nah!
Kalau semua doa saya terkabul, pasti hebat. Perawat Indonesia yang maju, sejahtera...Duh Gusti... Alangkah senangnya.

Meskipun demikian, seperti pelatihan-pelatihan yang saya ikuti sebelumnya, tidak mudah bagi saya untuk menerima apa adanya. Logika yang kuat sebagai akibat pelatihan ketrampilan hidup yang didominasi otak kiri sepanjang hayat, banyak menghambat proses internalisasi. Tapi untuk kali ini, saya betul-betul mengikhlaskan diri untuk dapat menerima teori-terori kuantum dalam aplikasinya dengan doa. Terima saja, Lah. Tidak ada ruginya buat saya.

Menjelang sesi akhir, menit akhir, pelatihan... barulah saya merasakan apa itu gelombang alfa, teta. Sayang sekali, tidak dari dulu saya kenal gelombang ini. Kalau saja sudah sejak dulu ada metode dan teknologi seperti ini pasti saya sudah jadi yang lebih baik.

Baiklah Ners, saya merekomendasikan Anda mengikuti pelatihan ini. Jika semua perawat berdoa dengan metode ini, saya berkeyakinan, impian kita terwujud dalam waktu dekat ini. Selamat mencoba mencari jalan spiritual ini. Masih belum percaya? Coba saja, tidak ada ruginya.


Read more!

Pengumuman!

Bagi Anda yang ingin memberi komentar pada tulisan di Blog Perawat Manajer Indonesia ini, tapi tidak mempunyai user id atau member Blogger.com, dapat menggunakan Anonymous user. Anda tinggal klik pada check list anonymous user sebelum komentar dipublish. Kalau ingin dikenali tinggal tuliskan saja nama Anda di dalam komentar.