Cari di Google

Google

Monday, November 24, 2008

Kampus Virtual

Oleh: Wastu Adi Muyono

Pernah mengalami masalah dengan literatur? Atau sumber yang Anda harapkan ternyata berbayar? Sebeeeelll deh.

Permasalaha itu adalah permasalahan umum yang sering terjadi pada kita. Saking umumnya sampai-sampai kita tidak merasakan lagi sebagai suatu masalah, karena dirasakan oleh hampir semua orang dan tidak ada jalan untuk mengakhiri permasalahan tersebut. Akhirnya alam bawah sadar kita melakukan rasionalisasi bahwa hal tersebut bukan masalah, toh banyak teman yang mengalami hal serupa.

Informasi di internet sebenarnya banyak sekali, ibarat kita mencari jarum yang jatuh ke tumpukan jerami, kalau tidak kebetulan pasti ada teknik khusus mencari bahkan beberapa orang memang beruntung mendapatkan fasilitas yang memudahkan memperoleh informasi tersebut.

Saya berpikir bagaimana resources yang sudah diperoleh tersebut bisa dibagi-bagi. Oleh karena itu saya memulai dari apa yang saya dapatkan di dekat saya, saya upload ke internet agar dapat dimanfaatkan oleh yang lain. Slide dosen (dengan ijin tentunya), paper, skripsi, bahkan hasil penelitian jika memungkinkan dapat kita upload ke internet. Cita-cita saya memiliki perpustakaan gratis untuk perawat se Indonesia tercinta.

Terinspirasi oleh sejarah jepang pasca perang dunia II, dengan menterjemahkan buku-buku luar negeri, telah membuat Jepang melaju sebagai macan asia. Apakah kita dapat menirunya? Meskipun tidak se-menggebu Jepang, kita dapat membagi paper-paper kita pada kolega se Indonesia. Yang memiliki buku terbaru segera diterjemahkan, tentunya sesuai kebutuhan masing-masing. Kalau Anda ingin menterjemahkan 1 buku sendirian ya masukkan saja ke penerbit, kecuali memang anda adalah orang yang memiliki caritas dan altruisme sangat tinggi, yang rela berkorban utuk semua, dapat membagi langsung hasil terjemahannya tanpa perduli akan dimanfaatkan oleh orang lain untuk kepentingan sendiri atau tidak.

Sebuah kampus virtual/perpustakaan virtual mungkin dapat membantu. Kampus virtual yang berisi tutorial dan lecture material serta literatur-literatur karya sendiri atau link-link ke free journal bukan suatu kemustahilan untuk diciptakan pada saat ini. Kalau mau membuat blog/situs sendiri, itu lebih bagus, yang penting berbagi link dan free. Kalau tidak sempat membuat sendiri, cukup emailkan saja naskah pada kami, biar kami yang urus bagaimana karya Anda dapat bermanfaat. Suatu hasil penelitian yang mungkin menurut Anda jelek masih dapat bermanfaat untuk orang lain, misalnya supaya orang lain tahu membedakan mana penelitian yang baik dan mana yang jelek (he..hee) tentu tetap bermanfaat bukan. Jadi jangan underestimate terhadap karya dan buah pemikiran Anda sendiri. Biar orang lain memanfaatkannya.

Contoh yang sudah saya lakukan dapat Anda lihat lewat link materi kuiah di kolom kiri blog ini, bersama jurnal-jurnal yang dapat diakses. Bisa juga Anda kunjungi blog perawat konsultan kemudian telusuri koleksi paper dan slide yang ada di kolom kiri. Atau silakan putar scoll mouse Anda untuk melihat link di kolom kiri bawah bersama dengan link ke jurnal-jurnal pada
Blog Perawat Manajer ini.

Ayo jangan ragu-ragu, kirimkan saja paper-paper yang telah Anda buat. Jangan biarkan dia hanya sebagai bungkus kacang dan mendoan. We have been waiting for your participation and your kindness since now. Just send us yours thing to wastu2008@yahoo.com.

Sementara hanya ada topik sains keperawatan dan manajemen keperawatan. Saya yakin dengan partisipasi Anda semua pasti akan tumbuh lebih besar. Jika sudah besar nanti kita akan buat website sendiri dan disimpan dalam server di Indonesia agar cepat download-nya.


Read more!

Friday, November 21, 2008

Cuci Otak 2

Kuliah yang paling menguras pemikiran saya adalah sains keperawatan. Setiap minggu dicecar dengan tugas dan penelusuran literatur. Berbekal bahasa Inggris pas-pasan (nearly fluent)menyusun makalah dengan bahasa dan istilah level tinggi (menurut kami). What did tutor comment them?

Saya hargai Anda telah bekerja keras untuk menyusun paper ini. Presentasi Anda sangat baik. Penjelasan anda dalam makalah juga menggunakan sumber-sumber up to date dari internet maupun buku-buku textboo. Saluut.

Sudah kami pahami, setiap pembelajar pasti tahu bahwa statement seperti itu adalah suatu bentuk reinforcement positif. Sebagai orang sehat, kami juga senang mendapat pujian. Tapi kami juga tahu, bahwa pasti statemen itu ada paradoksnya (saya juga tidak tahu penggunaan kata ini tepat atau tidak).

Dan seperti yang telah kami pikirkan. Statemen berikutnya adalah suatu penilaian jujur dari beliau. Kalau sudah mengutip X dan Y dan Z, selanjutnya apa? What next?Menurut penilaian jujur saya, tulisan ini masih belum menunjukkan kelas Anda!

Nah apa pula ini. Kelas apa yang dimaksud?

Anda sudah S2 bukan? Anda sudah mampu melakukan analisis bahkan meta analisi. Jadi lakukan sesuatu dari yang Anda baca. Jangan disalin langsung semuanya. Informasi yang telah Anda dapatkan itu rumuskan sesuatu menurut penilaian Anda?

Woooooo, kami hampir serentak ber "wooo" ria. Ini, yang disebut kelas. Kami pun serentak tertawa, mentertawai kebodohan seorang calon Master. Berhari-hari kami bekerja menelusuri literatur yang tidak gratis tentunya. Mengutip sumber-sumber, menyusun kutipan-kutipan (menyalin) menjadi paragraf yang bersambungan kemudian berdiskusi dengan alot, hanya menghasilkan suat karya yang tidak berkelas.

Marah? Jelas tidak. Kami semua pembelajar. Belajar harus totalitas. Artinya harus sanggup menerima apapun yang ingin dipelajari meskipun kadang bertolak belakang dengan kebiasaan kita setiap hari. Membalik balik memori, membongkar, kemudian menata kembali dengan perekat-perekat yang lebih baik.

Saya lebih suka menggunakan kata cuci otak. Untuk dapat menerima informasi dengan baik, otak kita harus dicuci. Semua harus bersih dari prasangka. Biarkanlah informasi mengalir dan membentuk sedimentasi baru dalam memori kita.

Hampir tujuh tahun saya meyakini, logika berpikir yang saya anut. Memahami dasar dasar sains keperawatan, filosofi, paradigma, model konseptual, grand theory, middle range theory, sampai dengan practical theory. Menalar korelasi semua konsep yang ada, selanjutnya mensintesis hal-hal baru. Sungguh sangat menantang emotional stability.

Sains keperawatan memang merupakan basis praktik keperawatan profesional. Perawat praktisi sebaiknya mengenal hal ini dengan baik. Aplikasi teori-teori ini dalam praktik sesungguhnya sangat mungkin. Hanya saja pengetahuan kita yang terbatas membuat kita dibodohi oleh kecemasan. Lebih tragis lagi, dosen-dosen yang mengajar sains keperawatan di level bawah juga tidak memahami pentingnya teori ini. Jadinya ya seperti inilah kita perawat Indonesia.

Barangkali kita memang harus kembali ke titik nol (CUCI OTAK). Menguras apa yang telah kita ingat. Mendiskusikan kembali apa yang kita peroleh. Mengurai sekecil-kecilnya. Tidak pernah malu mengakui kita bodoh. Betul-betul kita refleksikan kembali melalu tutor-tutor yang sudah senior dan mempraktikkan ilmu ini. Akhirnya kita dapat menyusun lagi serpihan-serpihan tadi menjadi mozaik pengetahuan sains keperawatan mutakhir yang sahih.

Kami juga mengajak para praktisi keperawatan untuk dapat menghadiri seminar kami tentang aplikasi teori-teori ini dalam praktik. Tunggu saja kabar berikutnya.


Read more!

Tuesday, November 11, 2008

Completely Involved

Oleh: Wastu Adi Mulyono

Live in Jakarta is an opportunity to learn humanity well. As we knew Jakarta is a metropolitan city accompanied by multy complicated problems. Since traffic jam popular for long time ago, no complete solution handled them. So do mass transportation, criminality, and flood.


People live stresful event everyday. My neighbour, I share wall with, is one of the example. No day without screaming, crying and harsh words express by this family. Living cost have burdened them and created stressful day and day, still the mother is a single mother. All have made me practicing relaxation course every day.

I understood that. I have prepared and trained well to compromise situations. I am a nurse. I practiced empathic. Nursing philosophy and values responded automatically whenever and whereever. However, discussing empathic, I feel my empathetical response should be developed. Developing emphatic mean learning directly in the real unplanned situation.

Learning about life and the values need nothing just that life itself. I found that yesterday. I felt completely alike Jakarta citizen. I traped in tight mass transportation, enjoying happiness in mall, stuck in traffic jam and finally my rent room got flooded.

Arriving home on evening, I was shocked by waters filled my room. All of my property nearly wet. Fortunately my niece saved few. Books, hard disc, wires and everything wet soaked in flood. Remember my spiritual guru, I smiled, thanked to God. This I wanted, didn't I. Learning about life and empathic should experiencing it self. And I get it today, I spoke with my self.

Hours I spent to clean my room, rewash clothes, dry book, and save anything it could be save. I really surpraise to my neighbor. Life challenges have made them thoughtful to face the situation. Hand on hand they dry floor and clean room. Briefly they finished everything, beside, I am confusing to do everything.

I feel lucky experincing this. This sudden flood, relay unplanned and unpredictable situation. Event run well to teach me something about life, to learn humanity and emphatic.

I found that people respond automatically to their actual situation well. This automatic responses are build by recurring event they faced. They handled flood more efficient then I did because of experience. Experience is a potential that should be assessed in nursing care. People always have potential. Poverty should not be blamed as scapegoat of unsuccessful nursing care. My experience is one of the fact.

There always ways out for every creature to make them live well.


Read more!

Tuesday, November 4, 2008

Perawat Profesional

Oleh Wastu Adi Mulyono

Pelayanan professional berhubungan dengan kepercayaan klien terhadap profesi yang bersangkutan. Sebagai contoh pelayanan bantuan hukum oleh lawyer melibatkan kontrak kepercayaan antara kliennya dengan lawyer. Lawyer mengetahui segala hal berkaitan dengan kliennya berdasarkan kepercayaan yang dibuat. Contoh yang lain di kesehatan adalah layanan pengobatan oleh medis. Dokter sebagai tenaga profesional akan mengelola pasien sejak masuk sampai dengan pulang atau meninggal dunia.

Bagaimana dengan pelayanan keperawatan? Perawat mengelola pasien berganti-ganti. Kapan pasien masuk atau pulang kadang-kadang tidak tahu sama sekali. Setiap menemukan masalah ditulis, didiangosis, dilakukan rencana tindakan, dilakukan tindakan, dilakukan evaluasi. Tetapi siapa yang bertanggungjawab terhadap semua itu. Bagaimana jika ada kesalahan mengidentifikasi data? Siapa yang mengoreksi?

Berbekal perbandingan uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa pelayanan keperawatan yang seperti sekarang bukanlah pelayanan yang professional. Jika pelayanan belum professional maka jelas sekali tidak akan dapat dinilai tingkat profesionalitasnya. Efek dari ini adalah ketidakjelasan remunirasi bagi pelayanan profesional keperawatan itu sendiri.

Ketidak profesionalan ini juga dapat diakibatkan oleh tidak adanya struktur yang menaunginya, atau yang mendukung bentuk pelayanan keperawatan profesional. Mulai dari struktur organisasi atau tugas pokok dan fungsi yang mendukung.

Setiap rumah sakit sebenarnya hanya membutuhkan 30-35 persen Ners dan Ners specialis akan dapat memberikan pelayanan keperawatan professional. Jumlah sisanya 65-70 % dapat diisi oleh perawat vokasional. Perawat yang profesional akan dapat mengelola asuhan keperawatan secara menyeluruh. Mulai asessment, diagnosis, rencana, tindakan, sampai evaluasi dilakukan oleh 1 orang perawat profesional. Tetapi dalam implementasinya perawat profesional dapat dibantu oleh perawat vokasional.


Profesionalisme keperawatan bukan suatu mimpi, jika kita dapat mengubah system pelayanan keperawatan. Model-model praktik keperawatan profesional sudah banyak diterapkan dan diteliti. Pelatihan pelatihan sudah sudah sering dilakukan. Bahkan penelitian berkaitan dengan penerapan model tersebut juga sudah sering dilakukan dengan hasil yang baik.


Perawat yang kompeten sudah tersedia, model juga sudah ada, mengapa masih belum juga terwujud praktik keperawatan profesional. Kemauan kita sebagai manajer untuk memfasilitasi penerapan di rumah sakit sangat dibutuhkan. Profesionalisme pelayanan keperawatan seharusnya menjadi prioritas perubahan keperawatan saat ini. Tanpa ada struktur dan system yang mewadahi, semua inovasi keperawatan akan sulit terdokumentasi dengan baik dan menjadi evidence base untuk perkembangan keperawatan.


Perjuangan struktur keperawatan dalam jajaran level strategis juga belum layak diperjuangkan dengan terlalu keras. Perjuangan jabatan struktural direktur keperawatan sebaiknya jangan terlalu dipaksakan jika sumber daya manusia yang akan mengisinya tidak tersedia. Hal ini akan menjadi blunder dalam perjuangan selanjutnya jika struktur ini tidak berfungsi dengan baik dan tidak memberikan kontribusi apapun bagi keperawatan. Hal terbaik menurut saya adalah meletakkan landasan yang kuat di level pelayanan langsung pasien. Pengaruh pada pasien harus jelas dirasakan agar pasien dapat membedakan pelayanan yang profesional dan yang tidak profesional sehingga akan tercapai kondisi "addicted".


Kondisi yang kita ciptakan akan menjadi kekuatan fundamental perkembangan keperawatan. Pondasi yang kokoh akan meningkatkan daya pantul untuk melakukan lompatan yang lebih tinggi. Lompatan kuantum yang kita harapkan akan segera terjadi. Profesionalisme keperawatan bukan menjadi pertanyaan lagi, tetapi sebuah jawaban terhadap tantangan kesehatan. Pasti.


Read more!

Pengumuman!

Bagi Anda yang ingin memberi komentar pada tulisan di Blog Perawat Manajer Indonesia ini, tapi tidak mempunyai user id atau member Blogger.com, dapat menggunakan Anonymous user. Anda tinggal klik pada check list anonymous user sebelum komentar dipublish. Kalau ingin dikenali tinggal tuliskan saja nama Anda di dalam komentar.