Cari di Google

Google

Saturday, December 20, 2008

Small Action

Oleh: Wastu Adi Mulyono
Jumat, 19 Desember 2008. Hari ini adalah hari terakhir tugas sebagai sipen mata kuliah sains keperawatan. Ada satu proyek besar yang harus dilaksanakan hari ini, seminar besar. Seminar yang akan menunjukkan keberhasilan kami dalam belajar sains keperawatan.


Sebulan lebih persiapan, dan saya sebagai ketua panitia, sama sekali kehilangan kesempatan terlibat di minggu-minggu terakhir. Sangat menegangkan bagi saya pribadi. Beragam mistake terjadi dan tidak mungkin dapat dihapuskan lagi. Undangan salah, tema gak nyambung, konflik, wah bikin dag dig dug.

Syukurlah, tiba waktu pelaksanaan, semua berjalan lancar. Peserta yang mulanya sedikit, terus-menerus mengisi ruang OJO RADIAT, yang megah tersebut. Acara pun dimulai tepat waktu. Semua berjalan lancar. Bahkan luar biasa.

Presentasi teori-teori middle range dari mahasiswa sangat meyakinkan dan penuh percaya diri. Demikian juga kreativitas dan totalitas permainan peran dalam live role play dan pemutaran clip video. Sangat memuaskan peserta. Bagaimana tidak, seminar gratis dengan kualitas materi yang sangat baik, jarang didapatkan. Apalagi topiknya benar-benar fresh dan unik. Baca juga link sains keperawatan di sini

Serasa balon udara yang kempis, mungkin itu gambaran isi kepala saya. Ucapan selamat dari pembimbing terhadap kerja keras kami seolah melumerkan emosi dan ketegangan yang ada selama proses. Sungguh saya secara pribadi sangat terkesan. Kerja keras panitia, dukungan dana dan mental dari teman sangat membantu suksesnya kegiatan ini. Belum lagi support dari pembimbing dan dekan, seolah tertutup semua keteledoran kami. Seolah beliau tidak melihat banyaknya mistaken yang tercipta selam proses. Sungguh pembelajaran hidup bagi saya pribadi.

Seminar sains keperawatan ini memang sebuah action kecil yang berjalan dengan manis. Terimakasih teman-teman, panitia, pembimbing, dekan dan semua jajarannya. Kami akan berusaha lebih sempurna lagi jika bekerja yang menyangkut nama besar fakultas. Kami tidak ingin memalukan lagi. Kami bangga jadi bagian dari semangat UI. Seolah ada lantunan syair lagu terdengar "Selamat datang...pahlawan muda... " Friend you are my hero! Welcome my hero! welcome to my heart. Baca komentar pembaca terhadap posting Praktik Keperawatan Professional di sini . Juga perlu baca komentar tentang program spesialis keperawatan di sini


Read more!

Friday, December 5, 2008

Let The Train Hit The Children

Oleh: Wastu Adi Mulyono

Kemarin setelah sebuah diskusi yang ramai dengan perdebatan, dosen kami memberikan pertanyaan kepada kami sebagai berikut:
"Anda adalah seorang petugas pemindah jalur kereta api. Kereta api akan segera lewat, sementara di jalur kereta api aktif ada 5 orang anak bermain, di jalur yang lain adalah jalur kereta api tidak aktif tetapi hanya ada 1 orang yang bermain. Mau kemana kereta api akan Anda lewatkan?"

Jawaban kami bervariasi dengan alasan bervariasi pula. Ada yang menjawab sebaiknya dilewatkan ke jalur yang tidak aktif. Alasannya korban yang akan tertabrak hanya 1 orang, daripada jalur yang aktif dimana korban adalah 5 orang.

Jawaban kedua adalah kereta api dilewatkan ke jalur yang aktif, karena situasi lebih pasti dan dapat diprediksikan daripada jalur tidak aktif yang mungkin akan banyak permasalahan ketika dilewati gerbon kereta api. Korban 5 orang tidak seberapa dibandingkan kemungkinan korban lebih banyak jika terjadi kecelakaan di jalur tidak aktif.

Kedua jawaban tersebut semuanya pada dasarnya sama, yaitu memikirkan kerugian yang terjadi. Semua berfokus pada kerugian yang akan ditimbulkan baik mempertimbangkan nyawa atau material. Tidak ada dari kedua jawaban tersebut yang mempertimbangkan aturan yang ada.

Jika kita kembalikan ke peraturan atau regulasi yang ada, kesalahan ada pada kelima orang anak yang bermain di jalur aktif. Sudah tahu peraturan bahwa di jalur aktif tidak boleh bermain tetap saja bermain, dan kita bermaksud mengorbankan 1 orang anak di jalur tidak aktif yang sebenarnya bertindak benar karea dia tidak melanggar aturan yang ada.

Patut direnungkan, mengapa kami hanya berpikir tentang kerugian material secara otomatis daripada dasar peraturan yang ada. Apakah hal ini karena kita sudah mahfum bahwa setiap peraturan pada akhirnya akan dilanggar? Apakah kami sudah sedimikian materialistisnya sehingga mengorbankan orang yang bertindak benar karena yang berbuat salah itu banyak?

Pertanyaan tersebut tidak perlu dijawab. Mari kita renungkan saja. Mari kita lihat fenomena dan fakta yang ada. Berita-berita di surat kabar, televisi dan media lainnya. Barangkali kami secara tidak sadar telah menjadi bagian dari semua hal yang sebenarnya juga sering kita sorot dan dilabel sebagai korupsi, nepotisme dan lain sebagainya. Alam bawah sadar kita telah terkotori dengan ide-ide buruk yang kita dapatkan dari media massa, maupun pengalaman tersebut.

Mudah sekali kita menuduh orang tidak berakhlak yang baik karena melakukan korupsi, nepotisme atau pelanggaran hukum lainnya. Tapi mari kita lihat perilaku kita sehari-hari. Kita mengurus KTP ingin lebih cepat dari yang lain, mengurus SIM dan STNK lebih cepat dari yang lain. Hal tersebut bukan sesuatu yang salah bukan? Hal itu suatu bentuk kebutuhan. Kesalahan kita adalah karena ingin cepat tersebut kita membiarkan diri kita melanggar aturan. Menyisihkan orang lain agar ditunda karena kita ingin lebih cepat. Membayar calo dan sebagainya.

Susah sekali untuk menilai diri sendiri. Ketika kepentingan itu berlaku untuk diri sendiri, kita akan dengan semangat membelanya mati-matian meskipun harus melanggar hukum. Alasannya, yang lain pun melakukan hal serupa. Lalu kapan semua ini akan berakhir. Kita inginkan semua berjalan dengan baik, tapi kita sendiri yang memupuk dan memelihara perilaku tidak baik.

Kita seringkali menerikkan kata perubahan, tetapi tidak pernah beranjak dari situasi sekarang. Selalu saja memikirkan masa lalu, bolak-balik aturan diubah dengan sangat melelahkan. Pelaksanaannya sendiri tidak pernah dikontrol sudah diubah lagi.

Jadi apapun yang kita lakukan sekarang semenarnya sama dengan kita berucap, "biarkan kereta itu terus menabrak anak-anak kita, baik anak kita bertindak benar atau salah. Let the train hit the children." Kita telah membiarkan peristiwa itu terjadi meskipun kita tahu bahwa kita dapat mencegahnya.

Mari kembali ke kamar, matikan lampu, pasang aromaterapi. Renungkanlah kembali sambil terus mohon ampun pada tuhan, karena kita semua telah melakukan kesalahan dan kebodohan terus menerus. Berdoalah supaya diberikan kekuatan untuk bertindak dengan benar. Salam.



Read more!

Pengumuman!

Bagi Anda yang ingin memberi komentar pada tulisan di Blog Perawat Manajer Indonesia ini, tapi tidak mempunyai user id atau member Blogger.com, dapat menggunakan Anonymous user. Anda tinggal klik pada check list anonymous user sebelum komentar dipublish. Kalau ingin dikenali tinggal tuliskan saja nama Anda di dalam komentar.