Cari di Google

Google

iklan di sini

Tuesday, April 1, 2008

Pertemuan Informal

Oleh: Wastu Adi Mulyono

Kebijakan apapun dalam sebuah institusi pasti berhubungan langsung atau tidak langsung dengan pembuat kebijakan itu sendiri. Saya merasakan ini sejak pertamakali bekerja. Mulai dari lingkungan kerja milik keluarga, milik sosial sampai milik negara. Mulai dari kepemimpinan otoriter, laizes-fire, sampai demokratis. Semua kebijakan yang diputuskan selalu ada keterkaitannya dengan kepentingan pembuat kebijakan.

Mengapa dapat demikian? Bukankan itu suatu penyalahgunaan wewenang? mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum, tidak Pancasilais, tidak agamis, tidak amanah? Jika itu pertanyaan dalam pikiran Anda, mohon maaf, saya tidak setuju. Jika kita lihat, semua ide datangnya pasti dari pengamatan seseorang di lingkungan sekitarnya. Ide-ide yang menyangkut kepentingan orang banyak akan memerlukan lobby-lobby politik. Nah, jadi semuanya berjalan alamiah. Seorang wakil rakyat dari daerah X pasti akan m emperjuangkan kepentingan daerah X, demikian juga menteri, dekan, rektor, bahkan presiden.

Kepentingan perseorangan yang melekat dalam kebijakan tidak dapat dihindari. Semua berjalan alamiah. Jadi kita tidak perlu memperdebatkan dengan kontroversi yang terus menerus. Memaki orang yang menjadi tersangka suatu tindakan korupsi sekasar-kasarnya. Menelanjangi orang yang bersalah sebulat-bulatnya seolah-olah orang paling suci di dunia. Melupakan jasa-jasa dan budi baik yang telah dia berikan. Ingatkah ketika naik kereta listrik tanpa membeli karcis untuk berangkat demonstrasi, atau naik kereta api gratis pergi ke jakarta untuk protes korupsi? Bicara keadilan dan kedzaliman, sementara mengurus ktp dan sim lewat calo, atau menyerobot antri tiket bioskop dengan menitipkan pada teman yang baris paling dekat dengan loket? Kita semua pernah menjadi pelakunya. Kita pernah menikmati kebijakan tersebut. Kita juga pernah menjadi korban suatu kebijakan.

Hal yang perlu dilakukan dalam manajemen adalah menyikapi setiap kebijakan dengan bijaksana. Mengambil keputusan dengan sebaik-baiknya. Jika pintu lobby terbuka, manfaatkan dengan sebaik-bainya. Lakukan lobby dengan ide-ide positif.

Lobby-lobby biasanya akan sangat kaku jika dilakukan dalam suasana formal pada level pengambil keputusan tertinggi. Berdasarkan mekanisme alamiah munculnya kebijakan, maka sangat diperlukan lobby-lobby dalam non formal. Pertemuan informal akan lebih rileks dalam membahas segala hal. Bukan tidak mungkin sebuah keputusan penting terjadi karena kita bercanda dengan Bos pada saat bermain tenis, main golf atau acara walimah pengantin teman sekantor.

Pertemuan informal akan lebih mengefisienkan waktu. Coba kita bayangkan, alangkah mudahnya proses akad nikah kita. Akad nikah merupakan acara formal dengan level pengambil keputusan tertinggi. Semua berlangsung cepat karena sebelumnya anak sudah mendekati calon mertua, membicarakan bahwa keluarganya akan berkunjung untuk silaturahmi. Acara dilanjutkan dengan pertemuan non formal antar orang tua untuk saling kenal. Langkah selanjutnya adalah meminang, menentukan hari pernikahan. Setelah hari pernikahan ditentukan, segala surat-menyurat dipenuhi semua. Setelah hari H pernikahan, tinggal pengambil keputusan tertinggi (Ayah) akan menyerahkan secara resmi putrinya untuk dinikahi menantunya. Paling-paling cuma 15 menit acara selesai. Sangat efisien bukan? Semua karena dimulai dari pendekatan informal yang dilakukan oleh calon menantu dan calon besan.

Menyikapi pertemuan informal sebaiknya tidak usah dengan bersungut-sungut. Jika merasa perlu menghadap pimpinan ya menghadap saja. Tidak usah cemburu dengan bawahan yang dekat dengan top manajer, lalu menyebarkan isu menyesatkan. Jika perlu manfaatkan kedekatan bawahan untuk mensukseskan program Anda. Kita harus selalu mengoptimalkan semua sumber daya, Bukan?

Demikian curahan pemikiran saya tentang pentingnya pertemuan informal. Akhirnya, sebagai top manajer kita harus membuka kesempatan pertemuan informal dengan bawahan. Sebagai middle manajer jangan segan bergaul dengan top dan low manajer bahkan dengan kelas perkerja sekalipun. Sebagai low level manajer, seharusnya Anda bersikap sangat bijaksana. Anda bersentuhan dengan pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Ingatlah selalu bahwa orang selalu berjuang antara hidup dan mati jika berurusan dengan kebutuhan dasar. Wise... Wise... Wise.

in memoriam, Pak Harto, yang dicintai dan yang dimusuhi. Yang kukagumi sekaligus kubenci. Kadang aku menyesal mengapa Bapak berkuasa terlalu lama.

1 comment:

Anonymous said...

Hello. This post is likeable, and your blog is very interesting, congratulations :-). I will add in my blogroll =). If possible gives a last there on my blog, it is about the Dieta, I hope you enjoy. The address is http://dieta-brasil.blogspot.com. A hug.

Pengumuman!

Bagi Anda yang ingin memberi komentar pada tulisan di Blog Perawat Manajer Indonesia ini, tapi tidak mempunyai user id atau member Blogger.com, dapat menggunakan Anonymous user. Anda tinggal klik pada check list anonymous user sebelum komentar dipublish. Kalau ingin dikenali tinggal tuliskan saja nama Anda di dalam komentar.