Cari di Google

Google

iklan di sini

Tuesday, February 16, 2010

Bangun! Pemudi Pemuda Indonesia

Oleh: Wastu Adi Mulyono

Bangun!

Deg! saya terjaga dari tidur-tidur ayam diantara waktu menatap layar lcd Dell Lattitude D410 tua kesayanganku. Suara itu begitu dekat dengan telingaku, seolah-olah ada yang membentakku.

Hampir 2 tahun sejak mulai kuliah lagi, dapat dikatakan saya menonton TV hanya sejam dalam seminggu itupun di sela-sela acara lain. Bukan karena idelisme tapi, kebetulan TV tunner nya lagi rusak dan malas membeli yang baru, karena sudah tidak ada spare partnya lagi.

Kata tersebut bagai menghujam ke jantung hatiku. Seperti orang yang mendapatkan pencerahan, begitulah. Sebuah kesadaran baru, pemahaman baru. Kesadaran apakah pantas kita mencemooh Presiden, anggota DPR, bahkan sahabat-sahabat kita sendiri, para demonstran pra bayar dan pasca bayar.

Saya coba senandungkan lagu A. Simanjuntak..

Bangun pemudi pemuda Indonesia
Tangan bajumu singsingkan untuk negara
...
Setalah baris itu, kok saya nggak nyambung-nyambung lagi ya? padahal waktu ikut PS (paduan suara) baik waktu di Akper Malang maupun di FIK UI 97, seolah-olah sudah di luar kepala sampai notasinya. Eh "gemblung!" kok nggak nyambung-nyambung?.

Ku ulang-ulang berkali-kali tetap saja. Menyerah! Aku search di Internet eh, ketemu di organisasi.org. Sambungannya adalah sebagai berikut, malah dapat sambungan baitnya.
...
Masa yang akan datang kewajibanmu lah
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa

Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas
Tak usah banyak bicara trus kerja keras
Hati teguh dan lurus pikir tetap jernih
Bertingkah laku halus hai putra negri
Bertingkah laku halus hai putra negri


Lalu aku bersenandung kembali sambil menghayati lagu ini. Ah malu sendiri jadinya. Sudahkan kita menanggung masa depan nusa bangsa ini?

Lalu di bait kedua...

Sudahkah kita bisnis dengan jujur dan ikhlas? Apakah kita salah menafsirkan syair ini dengan "berusaha untuk jujur dan ikhlas saja?" Apakah kita sudah kerja keras tanpa banyak bicara?

Teguhkah hati kita menahan godaan nepotisme, kolusi dan koruspi?
Sanggupkah kita tidak menggunakan software bajakan, sementara kita butuh untuk mengerjakan tugas kuliah? Masih bisakah kita berpikir jernih saat para pejabat yang sudah kita anggap jujur, tiba-tiba mengambil keputusan yang salah?

Sudahkan kita bertingkah laku halus dalam berpendapat? tidak mencaci maki, membakar atribut, merusak fasilitas umum, atau menyakiti sesama penduduk negeri tercinta ini.

Atau kita memang sudah bukan pemuda lagi? sehingga sama sekali tidak tersentuh dengan syair lagu ini?

Semoga saya Anda semua juga mendapat pencerahan. Terimakasih Pak A. Simanjutak. Sungguh syair yang sangat menyinggunga perasaanku seorang pengeluh, penidur, dan melankolis. Bangun! Aku masih seorang PEMUDA!

4 comments:

BERBAHAYA said...

Bangun pemuda - pemudi IndONEsia!!!!!!!!!! saatnya bangkit dari kelelapan yang sudah bepuluh - puluh tahun... ayo buat sejarah baru..

sebagai Bangsa yang kreatif....

kunjungi www.berbahaya.org

buat bangsa IndONEsia menjadi IndONEsia yang kreatif... apapun itu...

Alfisyahrin said...

Ayo bangkit! Mari kita konversi angan-angan kemajuan menjadi kenyataan. Mari berjuang!

Eka said...

TERIMA KASIH SUDAH DI SHARE .. :)
SALAM LESTARI BUANA NUSANTARA

Roy said...

Saatnya Indonesia Bangkit.

Pengumuman!

Bagi Anda yang ingin memberi komentar pada tulisan di Blog Perawat Manajer Indonesia ini, tapi tidak mempunyai user id atau member Blogger.com, dapat menggunakan Anonymous user. Anda tinggal klik pada check list anonymous user sebelum komentar dipublish. Kalau ingin dikenali tinggal tuliskan saja nama Anda di dalam komentar.