oleh: Wastu Adi Mulyono Hasil sebuah pekerjaan sangat dipengaruhi oleh motiv yang mendasari orang yang melakukan pekerjaan tersebut. Motivasi sendiri dapat berasal dari dalam maupun dari luar dirinya. Yang jelas, motivasi yang berasal dari dalam adalah dorongan yang paling diharapkan oleh para pemberi pekerjaan. Motivasi internal ini berawal dari sebuah kesadaran terhadap makana pekerjaan tersebut bagi dirinya. Motif yang paling diidamkan adalah motif spiritual yang mendasari pekerjaan itu. Kita dapat melihat jejak para nabi. Mereka dengan kesadarannya yang murni berjuang, bekerja tanpa kenal lelah untuk memberikan pencerahan pada kaumnya. Atau juga para pekerja-pekerja kemanusiaan semacam ibu Theresa, Dalai Lama, Gandhi. Contoh terdekat adalah para pekerja-pekerja pelaku bisnis kecil dalam kereta, bis, di terminal. Mereka bekerja terus memutar roda perekonomian. Tanpa kenal lelah saling berbagi rezeki. Tukang siomay keliling dengan omzet ratusan ribu saja berbagi tugas dengan memberikan pekerjaan pada seorang janda tua untuk mencuci botol-botol bumbunya. Atau penjual pecel di OW Baturraden, mereka membagi pelanggan untuk dilayani teman yang belum dapat pembeli. Sungguh menakjubkan. Tulisan ini tidak ingin menggali apapun tentang mereka, hanya sekedar mencurahkan ilham ke dalam blog ini setelah macet hampir 2 tahun. Sekedar membuka bendungan pikiran, agar ide-ide mengalir lagi dan penyakit pikun ini sedikit demi sedikit menghilang. Sekedar membuka pintu tahu, bahwa kesadaran spiritual itu adalah motivasi yang tak akan pernah terpadamkan. Mimpi... barangkali. Setelah eforia pengesaah RUU keperawatan oleh DPR kemarin, apakah kita dapat kembali membangkitkan kesadaran spiritual untuk merawat manusia, bukan sekedar memoles dalam kegiaatan "entrepreneur" kita. Dapatkah kita mengelola klien kita dengan tanpa memikirkan jasa. Untunglah masih ada kabar baik. Kabar bahagianya adalah... riset-riset sederhana mahasiswa tentang spritualitas perawat di rumah sakit menggambarkan perawat memiliki kecerdasan emosional yang baik atau lebih baik lagi. Dengan demikian, perawat-perawat ini masih bisa diandalkan untuk bekerja ikhlas seperti jaman Florence. Yang perlu diwaspadai adalah, jika kemudian kecerdasan spritual ini hanya sebuah pencapaian individual yang langka, bukan produk pendidikan atau fasilitasi dari organisasi. Sebab, secara pribadi saya merasa belum mampu membuka ruang spiritual mahasiswa, atau mengisi ruang spiritual rekan kerja, apalagi menjadi bagian dari ruh organisasi. Sekali lagi ini hanya sebuah serpihan-serpihan gagasan yang mungkin tidak bermanfaat bagi Anda. Tetapi saya merasakan manfaatnya dengan jebolnya bendungan ide dalam memori otak yang sudah mulai harus di-defrag lagi secara rutin. baca satu dua tiga
Read more!