Cari di Google

Google

iklan di sini

Showing posts with label kemandirian perawat. Show all posts
Showing posts with label kemandirian perawat. Show all posts

Sunday, February 13, 2011

Praktik Mandiri

Perawatan luka dapat dijadikan sebagai template (cetakan) praktik keperawatan yang lain. Perawatan luka sangat spesifik, dan mempunyai komunitas baik global, nasional maupun lokal. Kompetensi perawatan luka juga mengandung kompetensi yang berada pada area bersama antara medis dan keperawatan.

Praktik keperawatan yang diinginkan, berdasarkan percakapan pada pertemuan-pertemuan sebenarnya mirip dengan konsep Nurse Practitioner, yang ada di Amerika maupun Australia. Nurse practitioner merupakan pilihan karena keterbatasan keterjangkaun tenaga medis. Skill mix merupakan bentuk kompetensi medikal yang dapat dikerjakan secara khusus oleh perawat dengan batas-batas tertentu. Perawat bersertifikasi khusus dibutuhkan untuk menangani area ini. Sertifikasi ini merupakan bentuk pengakuan bahwa perawat pemegang sertifikasi telah memiliki kompetensi yang diperlukan.

Pola-pola pengendalian melalui standar kompetensi dan kredensial dapat digunakan untuk mengembangkan skill-skill perawatan lainnya.Pelayanan keperawatan tidak dapat dilakukan secara cepat seperti praktik diagnosis dalam praktik dokter. Pelayanan keperawatan berkaitan dengan waktu. Faktor waktu pelayanan yang sangat penting dalam praktik keperawatan ini menyebabkan praktik keperawatan spesifik/spesialistis lebih tepat. Praktik khusus ini akan memudahkan dalam penyediaan peralatan maupun perangkat untuk praktik, sekaligus standarisasi pelayanannya.

Area perawatan yang lain dapat dikaji dengan pola-pola seperti pada perawatan luka. Memisahkan skil-skill independen, kolaborasi, dan medikal. Mendirikan asosiasi (peer group) untuk mengkaji bersama dan membuat kompetensi yang diinginkan. Melakukan sounding dengan profesi lain yang berpotensi tumpang-tindih dengan profesi lain. Selanjutnya tingkatan keahlian dibuat secara sistematis. Kompetensi dan keahlian tersebut dibutuhkan sebagai dasar pertimbangan membuat continuing education maupun program sertifikasi.

Jadi praktik keperawatan luka hanya sebuah cetakan (template) untuk mengembangkan area keperawatan yang lain seperti perawatan anak, perawatan maternitas, perawatan medikal bedah, perawatan jiwa, perawatan komunitas, perawatan dasar, bahkan perawatan menjelang ajal.

Praktik mandiri keperawatan ini akan menjadi basis perkembangan perawatan dan regulasi keperawatan di Indonesia. Setelah praktik ini ada (ontologi), maka kita dapat menjelaskan (epistemiologi) dengan baik kalau ada yang bertanya. Peran dalam pembangunan (aksiologi) kesehatan juga semakin jelas. Metode (metodologi) pelayanannya juga semakin terukur. Demikian juga pengendaliannya (etik) dapat terkontrol melalui etik.

Bentuk inilah yang kemudian dilihat masyarakat. Pelayanannya diakui memberikan manfaat. Metodenya efektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Selanjutnya, UU Keperawatan bisa diajukan. Amandemen terhadap undang-undang kesehatan maupun kedokteran juga memungkinkan.


Read more!

Saturday, October 9, 2010

Mengembangkan Pasar Pelayanan Keperawatan

Oleh: Wastu Adi Mulyono, M.Kep.

Berapakan jumlah rumah sakit di Indonesia. Sejumlah rumah sakit tersebut mampu menampung berapa perawat. Perawat setingkat Ners menempati berapa persen dari kebutuhan tersebut? Apakah lulusan Ners cukup tertampung dalam formasi tersebut?


Berkutat dengan pertanyaan berputar-putar tersebut sungguh memusingkan. Tentu saja bagi para perawat dosen yang memiliki keprihatinan tinggi. Pusing memperhitungkan penyerapan anak didiknya di lapangan kerja. Para pemilik sekolah pusing lebih berlipat kali. Selain ancaman tidak terserapnya lulusan sumber pusing juga berasal dari minimnya input yang berkualitas, biaya proses pembelajaran (terutama klinik) yang mahal, dan tuntutan kesejahteraan staf dan karyawannya.

Beberapa sekolah beralasan dengan mengajukan fakta adanya kebutuhan tinggi keperawatan di luar negeri seperti Jepang dan Amerika. Sayang sekali program-program pendidikan tidak mengarahkan mencapai pasar tersebut. Kalaupun ada, program tersebut juga tidak sukses. Seorang pejabat dari departemen kesehatan dalam sebuah seminar mengatakan, bahwa dari seratus peserta pelatihan hanya tinggal 40 yang yang dapat meneruskan program. Keempatpuluh orang tersebut ketika dites user hanya dapat lolos 3 orang. Kemampuan berbahasa sering dijadikan alasan.

Dulu kami pernah berinvestasi besar dalam mengembangkan kemampuan berbahasa ini. Lembaga bahasa kita libatkan dalam pengembangan kemampuan ini. Hasilnya tetaplah nihil. Mahasiswa tidak termotivasi untuk belajar. Ketika ditanyakan keinginannya bekerja di luar negeri, mahasiswa tersebut yang kebanyakan adalah perempuan menyatakan tidak berminat. Mereka beralasan terlalu jauh, ingin menikah segera, tidak diijinkan orang tua (bisa juga pacar), dan biaya yang tidak mampu dijangkau.

Akar masalah sebenarnya bukan di bahasa atau yang saya sebutkan tadi. Akar masalahnya adalah mental dan karakter. Lingkungan dan kebiasaan telah membentuk mental submisif dan penuh ketakutan terhadap hal baru. Hal tersebut membentuk karakter yang lemah dan enggan menghadapi tantangan. Maka menjadi PNS pun bagaikan tujuan akhir yang patut ditunggu-tunggu dan diperjuangkan meski harus kehilangan banyak waktu dan uang untuk memperoleh jalan lulus. Setelah lulus...wush!! tiba-tiba kedisiplinan, semangat, dan idealisme hilang entah kemana.

Saya memiliki sudut pandang yang lain dalam menghadapi ini. Kita tidak bisa memaksa adik-adik itu pergi merantau, lha kita sendiri tidak pernah merantau jauh apalagi ke luar negeri. Kita bisa memulainya dengan menumbuhkan kesadaran untuk praktik mandiri. Praktik mandiri penuh tantangan, tapi tidak seberat untuk mengirim mereka ke luar negeri. Support mereka masih banyak dan mudah diperoleh. Migrasi ke luar negeri memang berat begitu cerita di Surinamem, maupun cerita tentang TKI kita di luar negeri sana.

Sebagian besar dari kita tentu paling banyak adalah early and late majority. Kelompok ini membutuhkan contoh dulu. Jangan berharap ada inovator. Kitalah para senior, dosen, pembimbing yang jadi inovator. Kita susun model, kita tumbuhkan iklim mentoring. Ini saya contoh dari Wocare Bogor lho.

Proses penciptaan sistem dan pemeliharaan iklim mentoring ini perlu biaya. Sudah layaklah hal itu dihargai dengan materi atau uang. Kita yang sudah terbiasa berwirausaha sangat memperhatikan ini. Tanpa perputaran modal, usaha mandeg dan rugi. Tantangan ini yang sering dianggap enteng oleh teman-teman non wirausahawan. Kebanyakan mereka berpikir cost oriented dengan dasar nilai keperawatan yang altruisme. Sebagai pembelajar entrepreneurship saya mengalami permasalahan shift nilai dari altruis ke komersialis ini. Sungguh amat berat.

Shift mental dari karyawanis menjadi wirausahis ini yang harus dibentuk. Contoh wirausaha untuk keperawatan ini sangatlah banyak. Kita tinggal malakukan saja. Sebagian besar dari perawat juga sudah melakukannya, sayang belum dikemas secara profesional. Seorang teman senior yang berpengalaman dalam hal ini pun memiliki kesan bahwa ketrampilan dan kemahirannya tidak dapat diajarkan. Hal ini karena metode mentoringnya yang kurang tepat sehingga ia merasakan kegagalan dalam suksesinya.

Melalui aktivitas senior yang membangun praktik mandiri dan membentuk sistem yang kuat, secara tidak langsung telah menjadi promotor pelayanan keperawatan. Pasar dapat mengenal bentuk pelayanan keperawatan itu apa (ontologis), bagaimana pelaksanaannya(epistemiologis), dan merasakan manfaatnya (axiologis). Secara tidak langsung pasar terbentuk. Langkah selanjutnya tinggal menciptakan pace maker (multiply factor) sehingga terjadi booming. Sebelum booming terjadi mentee kita sudah siap menangkap. Kalau tidak siap...maka tetap saja...kita kalah cepat...peluang ditangkap oleh yang lain. Jangan salahkan mereka.

Para junior yang sudah siap praktik juga jangan ditakut-takuti dengan UU dan mal praktik. Sudah selayaknya kita lindungi. Kalau perlu sediakan system frenchise (ritel) agar mereka terlindungi. Selain melindungi junior, kita juga akan punya tanggung jawab mengembangkan bisnis mereka karena menyangkut saham dan nana baik klinik milik kita.

Pasar perlu dikembangkan dan dipengaruhi. Pemasaran membutuhkan iklan. Iklam membutuhkan icon atau simbol-simbol. Kita butuh pelayanan mandiri keperawatan yang jadi icon, jadi mercusuar perkembangan keperawatan. Saya bermain-main dengan meramalkan ini terjadi 5 tahun lagi terutama di bidang wound dan holistic care. Wocare, Rumat, Holistic Care di Undip, sudah menjadi inovator. Mereka terus hidup dan inovatif. Saya kira pasar akan semakin merasakan kebutuhan ini. Dalam pameran kecil saya di Unsoed kemarin, banyak yang menanyakan tentang perawatan luka ini. Bahkan mahasiswa pun mulai tertarik. Semakin banyak simbol-simbol beredar di masyarakat semakin jelan bentuk pelayanan keperawatan.

Pasar perlu melihat pelayanan keperawatan. Perlu tahu wujud perlayanan keperawatan yang mandiri, baru mempertimbangkan kebutuhannya untuk membelinya. Pencitraan sangatlah penting. Jadi jangan sampai citra yang sudah dibangun teman-teman terus dihantam dengam isue lainnya, mari kita juga blow up. Semakin mandiri perawat, semakin merdeka organisasi profesi dalam memperjuangkan UU. Kebutuhan UU akan semakin dirasakan oleh masyarakat dan tentu saja oleh para wakilnya di DPR.

Pasar indonesia sangat potensial. Jika kita dapat kembangkan dan ambil pasar ini, perawat semakin sejahtera. Tidak perlu lah kita memperjuangkan ke luar negeri, lha para junior kita juga tidak menginginkan. Kita bangun dulu pasar dalam negeri. Kita kuasai agar tidak jatuh ke bentuk penjajahan baru. Kita ke luar negeri bukan untuk jadi majikan bukan? Kita dapat menjadi majikan di negeri sendiri, kalau sudah kuat,kita juga bisa jadi majikan di negeri orang. MERDEKA.


Read more!

Friday, February 22, 2008

Mungkinkah Perawat (Ners) Praktik Mandiri?

Oleh: Wastu Adi Mulyono

Pertanyaan ini sangat menyinggung saya ketika pertama kali lulus menjadi perawat, apalagi setelah menyandang gelar Sarjana Keperawatan. Gelar yang sangat langka waktu itu. Sebuah simbol pejuang kemandirian keperawatan. Jelas saja, waktu itu seolah-olah sayalah yang paling benar dan yang lain perlu dikoreksi. Belum lagi, kuliah di keperawatan seperti kuliahnya katak dalam tempurung saja. Bagaimana tidak? Pukul 07:00 sudah mulai kuliah, pulang setelah pukul 19:00 itupun kalau pas tepat waktu. "Wah pantat ini rasanya sampai tepos." Kata seorang kawan saya yang sampai membawa bantal tweety® dalam tasnya, agar sewaktu-waktu dapat digunakan ketika os ischii sudah mulai menekan m guleteus terlalu lama.

Sejalan dengan perkembangan umur, dan pergaulan dan berhubungan dengan trick and clique dalam dunia kerja, pandangan saya sedikit berubah menjadi lebih bijak (menurut saya). Segala sesuatu perlu ditinjau secara luas dari berbagai sudut pandang. Mendengar, mengamati dan memahami lingkungan sekitar telah mendatangkan perspektif yang berbeda dalam pemecahan masalah termasuk merespon pertanyaan seperti judul di atas.

Kemandirian praktik keperawatan menurut hemat saya, adalah suatu bentuk praktik profesional berupa proses identifikasi permasalahan berdasarkan metodologi yang independen, merumuskan dan menyelesaikan masalah secara independen juga. Pemahaman seperti ini sebenarnya sudah disosialisasikan (didogmakan) pada para mahasiswa keperawatan dalam mata kuliah konsep dasar keperawatan (KDK). Paradigma keperawatan secara jelas sudah menyoal hal ini.

Tetapi, paradigma ini kemudian dikhianati oleh kurikulum itu sendiri. Lihat saja penamaan mata kuliah seperti Keperawatan Anak, Medikal Bedah, Gawat Darurat, Mental Psikiatri dll. Jelas sekali terlihat, setelah kita mengajarkan kebutuhan dasar manusia, kita tidak melanjutkan permasalahan kebutuhan dasar manusia yang kita klaim sebagai ilmu dasar keperawatan tersebut menjadi lebih detil dan mendalam. Yang dibicarakan justru penyakit-penyakit dan kelainan-kelainan yang sebenarnya bukan wilayah keperawatan. Kalaupun ada yang berpendapat itu sangat berhubungan, silakan jawab pertanyaan ini. Adakah perbedaan mendasar intervensi keperawatan pada masalah nyeri, kerusakan mobilitas fisik, integritas kulit dan sebagainya pada fraktur, appendisitis, hepatitis atau melahirkan? Pada dasarnya sama saja (Baca saja NIC) yaitu stimulasi kulit, distraksi dan relaksasi.

Pembahasan penyakit bukannya tidak penting, tapi jangan dijadikan menjadi sesuatu yang harus dipenuhi. Misalnya, praktikan diharuskan pernah merawat pasien appendisitis, hepatitis, fraktur dll., satu orang minimal satu kali. Tentu saja tidak akan pernah dapat dipenuhi 100%, karena jumlah praktikan yang membludak sebagai dampak dibukanya kran pendirian pendidikan tinggi keperawatan (akper) sejak tahun 1994, menjadikan rasio praktikan dengan pasien menjadi sangat kecil.

Ketidakmandirian ini semakin jelas terlihat ketika masuk lingkup rumah sakit. Seluruh Standar Asuhan Keperawatan (SAK) disusun berdasarkan penyakit. Bayangkan saja, Anda sedang menerima pasien baru di bangsal dan belum ada diagnosis medisnya, apa Anda dapat melakukan asuhan keperawatan?

Pertanyaan-pertanyaan mengganggu ingi selalu muncul sejak saya menjadi penguji ujian akhir mahasiswa akper (D3 Keperawatan) 7 tahun lalu. Alangkah bingungnya teruji ketika harus merawat seorang pasien yang didiagnosis observasi febris. Tidak ada di literatur manapun yang merumuskan diagnosis keperawatan untuk ”penyakit observasi febris”. Ini bukan salah pembuat diagnosis penyakit, tetapi memang dia belum dapat memastikannya.

Kebingungan belum berakhir. Teruji selanjutnya diwajibkan menyusun karya tulis ilmiah (KTI) berdasarkan kasus yang dikelola sewaktu ujian praktik di RS. Dia tidak boleh menuliskan pendapat sendiri dalam KTI, tetapi harus membaca atau mengutip dari literatur. Padahal dia tidak menemukannya. Akhirnya, pembimbing yang kreatif datang menolong. Tidak ingin anak didiknya gagal ujian, maka dibuatlah judul ”asuhan keperawatan pada Tipus Abdominalis.” Luar biasa, tanpa pelengkap pemeriksaan apapun observasi febris berubah menjadi Tipus Abdominalis. Sudah dapat diduga, tiba waktu presentasi, teruji hanya melongo dihujani pertanyaan penguji.

Boleh saja beralasan, bahwa profesi perawat (Ners) adalah derivat dari ilmu kedokteran dan psikologi. Tetapi, bukankah kita sudah mengklaim bahwa keperawatan memiliki pohon ilmu? Oleh karena itu disebut profesi. Profesi yang mandiri tentu punya otonomi. Otonomi yang mengharuskan perawat mempunyai metodologi sendiri dalam merumuskan dan menyelesaikan masalah kliennya.

Fakta ini sebenarnya sudah sering dipertanyakan oleh mahasiswa yang kritis. Tetapi sebagai perawat (Ners), tentu akan saya luruskan pertanyaan mereka dengan sebuah tantangan. ”Kalau Anda ingin merasakan seperti apa perawat praktik secara mandiri, jangan cuma ingin jadi pegawai negeri atau bekerja di Indonesia. Pergilah ke luar negeri, cari sendiri jawabannya. Setelah tahu jawabannya, cepatlah pulang dan beritahu saya. Karena obsesi saya untuk mencari jawaban sendiri, sedang terpatar di sini.”

Praktik keperawatan mandiri adalah sebuah aksi. Sesuatu yang harus di lakukan, bukan hanya dipikirkan dan didiskusikan. Beberapa teman telah melangkah dengan caranya sendiri-sendiri. Akupuntur, akupressur, herba dan sebagainya telah digunakan sebagai media penarik. Cara yang cerdas, karena jika menggunakan tindakan dan obat medis pasti akan dicap mal-praktik, tidak kompeten dan sebagainya. Tetapi boleh juga dicoba oleh yang lain. Sebab klien yang membutuhkan asuhan keperawatan tidak akan datang ke praktik mandiri ”khayalan”. Mereka butuh tempat dan wujud praktik itu sendiri.

Revolusi (maaf, saya tidak ingin menggunakan kata reformasi, takut tidak dapat mengubah apapun) pendidikan keperawatan sangat dibutuhkan. Redefinisi, restrukturisasi dan re-enlightning kurikulum dan mata kuliah harus melihat dari berbagai aspek, dipikirkan secara matang, tidak sekedar menghabiskan uang rakyat. Tidak ada buku contoh untuk benchmark? Kita ciptakan sendiri, terbitkan sendiri, edarkan sendiri. We are ourselves. Kalau perlu jadi tred setter-nya, bukan cuma follower seperti jingle iklan “..other can only follow..”. Apakah saya pemimpi? Bukan! Ini adalah Mision Statement. Kita bisa kalau kita mau!

Jika kita tidak bergerak sekarang, silakan jawab pertanyaan dalam judul artikel ini dengan kata ”tidak”. Selamanya jawabannya akan tetap tidak. Lalu, sorry No Idea!


Read more!

Pengumuman!

Bagi Anda yang ingin memberi komentar pada tulisan di Blog Perawat Manajer Indonesia ini, tapi tidak mempunyai user id atau member Blogger.com, dapat menggunakan Anonymous user. Anda tinggal klik pada check list anonymous user sebelum komentar dipublish. Kalau ingin dikenali tinggal tuliskan saja nama Anda di dalam komentar.