Oleh: Wastu Adi Mulyono
Pertanyaan ini sangat menyinggung saya ketika pertama kali lulus menjadi perawat, apalagi setelah menyandang gelar Sarjana Keperawatan. Gelar yang sangat langka waktu itu. Sebuah simbol pejuang kemandirian keperawatan. Jelas saja, waktu itu seolah-olah sayalah yang paling benar dan yang lain perlu dikoreksi. Belum lagi, kuliah di keperawatan seperti kuliahnya katak dalam tempurung saja. Bagaimana tidak? Pukul 07:00 sudah mulai kuliah, pulang setelah pukul 19:00 itupun kalau pas tepat waktu. "Wah pantat ini rasanya sampai tepos." Kata seorang kawan saya yang sampai membawa bantal tweety® dalam tasnya, agar sewaktu-waktu dapat digunakan ketika os ischii sudah mulai menekan m guleteus terlalu lama.
Sejalan dengan perkembangan umur, dan pergaulan dan berhubungan dengan trick and clique dalam dunia kerja, pandangan saya sedikit berubah menjadi lebih bijak (menurut saya). Segala sesuatu perlu ditinjau secara luas dari berbagai sudut pandang. Mendengar, mengamati dan memahami lingkungan sekitar telah mendatangkan perspektif yang berbeda dalam pemecahan masalah termasuk merespon pertanyaan seperti judul di atas.
Kemandirian praktik keperawatan menurut hemat saya, adalah suatu bentuk praktik profesional berupa proses identifikasi permasalahan berdasarkan metodologi yang independen, merumuskan dan menyelesaikan masalah secara independen juga. Pemahaman seperti ini sebenarnya sudah disosialisasikan (didogmakan) pada para mahasiswa keperawatan dalam mata kuliah konsep dasar keperawatan (KDK). Paradigma keperawatan secara jelas sudah menyoal hal ini.
Tetapi, paradigma ini kemudian dikhianati oleh kurikulum itu sendiri. Lihat saja penamaan mata kuliah seperti Keperawatan Anak, Medikal Bedah, Gawat Darurat, Mental Psikiatri dll. Jelas sekali terlihat, setelah kita mengajarkan kebutuhan dasar manusia, kita tidak melanjutkan permasalahan kebutuhan dasar manusia yang kita klaim sebagai ilmu dasar keperawatan tersebut menjadi lebih detil dan mendalam. Yang dibicarakan justru penyakit-penyakit dan kelainan-kelainan yang sebenarnya bukan wilayah keperawatan. Kalaupun ada yang berpendapat itu sangat berhubungan, silakan jawab pertanyaan ini. Adakah perbedaan mendasar intervensi keperawatan pada masalah nyeri, kerusakan mobilitas fisik, integritas kulit dan sebagainya pada fraktur, appendisitis, hepatitis atau melahirkan? Pada dasarnya sama saja (Baca saja NIC) yaitu stimulasi kulit, distraksi dan relaksasi.
Pembahasan penyakit bukannya tidak penting, tapi jangan dijadikan menjadi sesuatu yang harus dipenuhi. Misalnya, praktikan diharuskan pernah merawat pasien appendisitis, hepatitis, fraktur dll., satu orang minimal satu kali. Tentu saja tidak akan pernah dapat dipenuhi 100%, karena jumlah praktikan yang membludak sebagai dampak dibukanya kran pendirian pendidikan tinggi keperawatan (akper) sejak tahun 1994, menjadikan rasio praktikan dengan pasien menjadi sangat kecil.
Ketidakmandirian ini semakin jelas terlihat ketika masuk lingkup rumah sakit. Seluruh Standar Asuhan Keperawatan (SAK) disusun berdasarkan penyakit. Bayangkan saja, Anda sedang menerima pasien baru di bangsal dan belum ada diagnosis medisnya, apa Anda dapat melakukan asuhan keperawatan?
Pertanyaan-pertanyaan mengganggu ingi selalu muncul sejak saya menjadi penguji ujian akhir mahasiswa akper (D3 Keperawatan) 7 tahun lalu. Alangkah bingungnya teruji ketika harus merawat seorang pasien yang didiagnosis observasi febris. Tidak ada di literatur manapun yang merumuskan diagnosis keperawatan untuk ”penyakit observasi febris”. Ini bukan salah pembuat diagnosis penyakit, tetapi memang dia belum dapat memastikannya.
Kebingungan belum berakhir. Teruji selanjutnya diwajibkan menyusun karya tulis ilmiah (KTI) berdasarkan kasus yang dikelola sewaktu ujian praktik di RS. Dia tidak boleh menuliskan pendapat sendiri dalam KTI, tetapi harus membaca atau mengutip dari literatur. Padahal dia tidak menemukannya. Akhirnya, pembimbing yang kreatif datang menolong. Tidak ingin anak didiknya gagal ujian, maka dibuatlah judul ”asuhan keperawatan pada Tipus Abdominalis.” Luar biasa, tanpa pelengkap pemeriksaan apapun observasi febris berubah menjadi Tipus Abdominalis. Sudah dapat diduga, tiba waktu presentasi, teruji hanya melongo dihujani pertanyaan penguji.
Boleh saja beralasan, bahwa profesi perawat (Ners) adalah derivat dari ilmu kedokteran dan psikologi. Tetapi, bukankah kita sudah mengklaim bahwa keperawatan memiliki pohon ilmu? Oleh karena itu disebut profesi. Profesi yang mandiri tentu punya otonomi. Otonomi yang mengharuskan perawat mempunyai metodologi sendiri dalam merumuskan dan menyelesaikan masalah kliennya.
Fakta ini sebenarnya sudah sering dipertanyakan oleh mahasiswa yang kritis. Tetapi sebagai perawat (Ners), tentu akan saya luruskan pertanyaan mereka dengan sebuah tantangan. ”Kalau Anda ingin merasakan seperti apa perawat praktik secara mandiri, jangan cuma ingin jadi pegawai negeri atau bekerja di Indonesia. Pergilah ke luar negeri, cari sendiri jawabannya. Setelah tahu jawabannya, cepatlah pulang dan beritahu saya. Karena obsesi saya untuk mencari jawaban sendiri, sedang terpatar di sini.”
Praktik keperawatan mandiri adalah sebuah aksi. Sesuatu yang harus di lakukan, bukan hanya dipikirkan dan didiskusikan. Beberapa teman telah melangkah dengan caranya sendiri-sendiri. Akupuntur, akupressur, herba dan sebagainya telah digunakan sebagai media penarik. Cara yang cerdas, karena jika menggunakan tindakan dan obat medis pasti akan dicap mal-praktik, tidak kompeten dan sebagainya. Tetapi boleh juga dicoba oleh yang lain. Sebab klien yang membutuhkan asuhan keperawatan tidak akan datang ke praktik mandiri ”khayalan”. Mereka butuh tempat dan wujud praktik itu sendiri.
Revolusi (maaf, saya tidak ingin menggunakan kata reformasi, takut tidak dapat mengubah apapun) pendidikan keperawatan sangat dibutuhkan. Redefinisi, restrukturisasi dan re-enlightning kurikulum dan mata kuliah harus melihat dari berbagai aspek, dipikirkan secara matang, tidak sekedar menghabiskan uang rakyat. Tidak ada buku contoh untuk benchmark? Kita ciptakan sendiri, terbitkan sendiri, edarkan sendiri. We are ourselves. Kalau perlu jadi tred setter-nya, bukan cuma follower seperti jingle iklan “..other can only follow..”. Apakah saya pemimpi? Bukan! Ini adalah Mision Statement. Kita bisa kalau kita mau!
Jika kita tidak bergerak sekarang, silakan jawab pertanyaan dalam judul artikel ini dengan kata ”tidak”. Selamanya jawabannya akan tetap tidak. Lalu, sorry No Idea!
Konsultasi Syariah Islam (KSI)
12 years ago
32 comments:
Pertanyaan yg sulit dijawab: Kemandirian perawat di Rumah Sakit hanyalah mimpi belaka, otoritas penuh terhadap pasien tetap ada di tangan dokter, hanya disini letak pentingnya peran perawat "perawat terlatih untuk melakukan beberapa tindakan keperawatan yg memiliki efek mengobati". Pwt setelah mendiagnosa keperawatan, tidk bisa langsung begitu saja memberikan intervensi yg sipafnya mengobati harus mendapatkan intruksi dulu dari dokter yg merawat. Hanya perawat mandiri dalam membantu pasien dalam melakukan aktifitas sehari hari selama di rumah sakit ( hlping patient in ADL). Kecuali di beberapa negara lain sudah mulai memberikan peran/tugas dari undang undang menjadi perpanjang tangan dokter untuk memeriksa pasien, membuat permohonan pemeriksaan lab dan menulis resep obat sebagai bentuk intervnesi mandiri pwt terhadap pasien (artinya ada undang undang yg mengijinkan pwt bertindak seperti dokter, dan tdk perlu menunggu dokter). Sedangkan pendidikan pwt modern di Indonesia diarah pwt menjadi perawat bukan menjadi pengobat. Fungsi pwt di Indonesia menjadi sangat sederhana, sebagai pengobservasi pasien, memberikan obat atas instruksi dokter dan membimbing pasien. Sangat mustahil pwt melakukan intervensi berdasarkan penyakit, sebaiknya berdasarkan ketidak mampuan pasien dalam melakukan ADL, perawat lah berperan secara mandiri ada disamping pasien seperti yg dilakukan para pendahulu Florence N. Hanya sejarah pendidikan pwt pada awalnya bukan asli menjadi pwt, tapi menjadi pembantu dokter dilapangan dalam mengobati pasien yg tdk terjangkau oleh dokter, hingga materi pendidikan keperawatan diwarnai oleh ilmu yg dipelajari oleh dokter, akhirnya apa yg terjadi pada pwt kita, dibilang Pwt faktanya banyak pasien yg kurang terurus di Rumah sakit, jadi pengobat sudah dilarang oleh undang undang.
Apa betul yah?
betul ya, praktik mandiri keperawatan itu, masih jauh dari kenyataan, masih dalam khayalan atau bisa jadi mimpi2.
setelah saya kuliah s2 pun, ternyata praktek mandiri keperawatan tetap gelap. so kalo tadi qta disuruh ke luar negeri, supaya bisa dapet informasi yg jelas ttg praktek keperawatan,sy dapat info diluar negeripun katanya praktek keperawatan masih belum bagus...,ya kita jalani saja
berapa lama observasi febris dilakukan?mengingat anak saya sudah 3 hari dengan terapi antibiotik atas demamnya, DL dan Widal test sudah diketahui negatif dan tidak ada yang menonjol
mungkin aja kuG. asal kan ada orang perawat di DPRD pusat yang memperjuangkan hak buat kita seorang perawat. dan yang saya ketahui belakangan ini, perwat bisa praktik mandiri asalkan ada persetujuan dari bupati setempat, seperti di slah satu kota di Jatim. yang perawatnya buka praktik mandiri.
Sudah ada kali, coba lihat http://wocare.blogspot.com ............
that's right, tp jgn hny bs menilai dan menyudutkn tmn2 yg ada drmh skt krn kebijakan yg ada drmh skt sprt itulah adanya perubahan yang berawal dr bawah sgtlh ssh jika dilht dr knytaan yg ada mkx perlu adanya payung hukum (UU Perawat), persoalannya ampe dmn perjuangan itu? siapa yg akan melanjutkan perjuangan itu?
probation inadequacies myers workflows eranakulam ordered diegodog resonant whether chloroplasts apostrophes
lolikneri havaqatsu
Perawat sekarang uwda pendidikannya tinggi2.. malah uwda ada yang sampe profesor.... jadi uwda ga SPK lagii.. tolong jangan dipandang sebelah mata.....
alprazolam mg xanax withdrawal 2mg - known side effects xanax
order ativan cheap ativan - ativan gradual withdrawal
order valium valium for anxiety and panic attacks - valium 5mg vidal
generic xanax xanax pills look - xanax withdrawal length
buy xanax online cheap xanax generic version - buy alprazolam forum
buy diazepam oxazepam en zoloft - diazepam dosage to sleep
buy xanax no prescription xanax high feel like - xanax effects recreational use
order ativan ativan to xanax conversion - ativan long term side effects
diazepam 10mg diazepam withdrawal symptoms forum - buy msj diazepam online
cheapest xanax xanax withdrawal day 2 - xanax online overnight delivery
xanax cost xanax pills id - side effects from xanax pills
diazepam online diazepam online review - diazepam 2mg panic
carisoprodol online buy omnitrope somatropin - carisoprodol while breastfeeding
carisoprodol online generic soma india - soma on drug test
purchase soma order soma online from mexico - carisoprodol joint pain
soma online side effects taking carisoprodol - buy soma drink
buy valium online generic valium appearance - where to buy valium in bangkok
soma medication soma perfect drug - soma sleep medication
buy generic valium no prescription buy valium online nz - buy valium in china
For most recent newѕ уou have tо pay а
ѵisit internet аnd оn the web I found
thіs websіte as a most excellent site fοr hottest
uрdates.
Hегe is my pаge ... Pay Day Loans
Here is my web page - Payday Loan
diazepam no prescription types of generic valium - buy valium online no rx
Yоur оωn wrіte-uρ οffers confiгmed nеcessarу to me.
It’s quite useful and you're certainly quite educated of this type. You have got opened my personal eyes to be able to various opinion of this particular subject matter with intriquing, notable and reliable content material.
Here is my website: viagra
Also visit my page : viagra
Anda benar oak, profesi keoerawatan sebenarnya sangat dibutuhkan, misal pasien yg didiagnosa hipertensi harusnya askep hipertensi yg dilakukan oleh seorang perawat, perawat tidak perlu "berebut" pasien dg dokter karena sdh ada tgsnya msg2, itu sebenarnya tugas kemenkes untuk mengaturnya
Post a Comment