Saat diminta menyusun blok pembelajaran yang merupakan fusi dari kewirausahaan, kepemimpinan dan manajemen keperawatan, saya sedikit tercenung. Apalagi setelah menelusuri kisah-kisah tokoh pengusaha Indonesia, semakin malu rasanya saya.
Tokoh-tokoh entrepreneur tersebut selalu memiliki "sejarah" berkaitan dengan "mind-set". Suatu kondisi perpindahan dari mind set orang kebanyakan menjadi mind set spesial.
Hal yang paling menakutkan adalah saat berada pada situasi perpindahan. Kondisi ketika kita harus membalik sebuah nilai yang telah kita pegang dan diyakini benar. Belum lagi, orang-orang di sekitar kita sudah menganggap diri kita adalah bagian dari nilai tersebut. Sungguh hal itu adalah sesuatu yang sangat mengguncang.
Ketika dalam presentasi ada usulan, keluaran pembelajaran adalah sebuah kreasi atau event usaha yang dilakukan oleh mahasiswa, saya sedikit terkesima. Sudah sangat tinggikah harapan kita terhadap jiwa kewirausahaan mahasiswa, sehingga keluaran proses pembelajaran ini sebegitu tingginya? Apakah kita para "gurunya" juga sudah memiliki pengalaman melakukan suatu usaha?
Lagi-lagi saya tercenung. Pertanyaan dan keraguan saya tersebut sebenarnya adalah contoh bahwa saya masih jauh dari memiliki jiwa kewirausahaan. Nilai kepegawaian saya sudah mendarah-daging rupanya, sehingga suatu hal yang mudah saja masih terasa berat dirasakan. Hah...pikiran...lagi-lagi penjara pikiran.
Apa salahnya memiliki harapan dan impian. Mahasiswa sekarang bukan seperti jaman tetua dulu. Mahasiswa sekarang lebih kreatif dan tangguh. Pergaulan mereka sudah sangat luas, apalah artinya tantangan sekecil itu?
Optimisme saya, ternyata masih tersandung juga. Muncul kekuatiran, kalau mahasiswa kita kemudian menjadi "petungan", menilai setiap tindakan harus dibayar, kemana nilai altruism. Bagaimana mencegah dampak ini? Suatu tantangan yang harus saya temukan jawabannya sebelum rancangan blok ini diterapkan. Tapi saya perlu merenung dulu..
Read more!
Oleh: Wastu Adi Mulyono
Bangun!
Deg! saya terjaga dari tidur-tidur ayam diantara waktu menatap layar lcd Dell Lattitude D410 tua kesayanganku. Suara itu begitu dekat dengan telingaku, seolah-olah ada yang membentakku.
Hampir 2 tahun sejak mulai kuliah lagi, dapat dikatakan saya menonton TV hanya sejam dalam seminggu itupun di sela-sela acara lain. Bukan karena idelisme tapi, kebetulan TV tunner nya lagi rusak dan malas membeli yang baru, karena sudah tidak ada spare partnya lagi.
Kata tersebut bagai menghujam ke jantung hatiku. Seperti orang yang mendapatkan pencerahan, begitulah. Sebuah kesadaran baru, pemahaman baru. Kesadaran apakah pantas kita mencemooh Presiden, anggota DPR, bahkan sahabat-sahabat kita sendiri, para demonstran pra bayar dan pasca bayar.
Saya coba senandungkan lagu A. Simanjuntak..
Bangun pemudi pemuda Indonesia
Tangan bajumu singsingkan untuk negara
...
Setalah baris itu, kok saya nggak nyambung-nyambung lagi ya? padahal waktu ikut PS (paduan suara) baik waktu di Akper Malang maupun di FIK UI 97, seolah-olah sudah di luar kepala sampai notasinya. Eh "gemblung!" kok nggak nyambung-nyambung?.
Ku ulang-ulang berkali-kali tetap saja. Menyerah! Aku search di Internet eh, ketemu di organisasi.org. Sambungannya adalah sebagai berikut, malah dapat sambungan baitnya.
...
Masa yang akan datang kewajibanmu lah
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas
Tak usah banyak bicara trus kerja keras
Hati teguh dan lurus pikir tetap jernih
Bertingkah laku halus hai putra negri
Bertingkah laku halus hai putra negri
Lalu aku bersenandung kembali sambil menghayati lagu ini. Ah malu sendiri jadinya. Sudahkan kita menanggung masa depan nusa bangsa ini?
Lalu di bait kedua...
Sudahkah kita bisnis dengan jujur dan ikhlas? Apakah kita salah menafsirkan syair ini dengan "berusaha untuk jujur dan ikhlas saja?" Apakah kita sudah kerja keras tanpa banyak bicara?
Teguhkah hati kita menahan godaan nepotisme, kolusi dan koruspi?
Sanggupkah kita tidak menggunakan software bajakan, sementara kita butuh untuk mengerjakan tugas kuliah? Masih bisakah kita berpikir jernih saat para pejabat yang sudah kita anggap jujur, tiba-tiba mengambil keputusan yang salah?
Sudahkan kita bertingkah laku halus dalam berpendapat? tidak mencaci maki, membakar atribut, merusak fasilitas umum, atau menyakiti sesama penduduk negeri tercinta ini.
Atau kita memang sudah bukan pemuda lagi? sehingga sama sekali tidak tersentuh dengan syair lagu ini?
Semoga saya Anda semua juga mendapat pencerahan. Terimakasih Pak A. Simanjutak. Sungguh syair yang sangat menyinggunga perasaanku seorang pengeluh, penidur, dan melankolis. Bangun! Aku masih seorang PEMUDA!
Read more!
Nasib Anda hari ini adalah hasil dari karakter Anda yang merupakan akibat dari perilaku 5 tahun yang lalu. Perilaku Anda merupakan hasil dari keyakinan/nilai Anda sebagai akibat cara berpikir yang Anda miliki 10 tahun yang lalu. Demikian salah seorang yang sukses dalam network
Read more!
UU Keperawatan belum diundangkan juga. Saran dan rekomendasi dari berbagai kalangan pun sering disampaikan. Salah satu diantaranya adalah menjadikan UU Keperawatan tersebut menjadi kepentingan masyarakat secara keseluruhan.
Read more!
Pagi ini setelah shalat subuh (dengan menerapkan hasil pelatihan shalat khusyuk) tiba-tiba blink...suir suir suir. Ah...ini baru blink beneran. Sebuah gagasan untuk "mewujudkan" profesionalisme. Satu impian saja yang ternyata tidak dapat saya wujudkan sendirian. Saya butuh kompeni, saya butuh sahabat, saya butuh sejawat, saya butuh lembaga, saya butuh lulusan spesialis.
Friend yang baru lulus spesialis, ayo kita mulai. Hari ini saya sudah ACTION. Ayo kita baren-bareng saja.
...maaf kehabisan ide...ini hanya BLINK yang tidak dapat saya bendung.
Read more!
Perawat bergerak, akupun tergerak. Daya dan kekuatan yang menyatu merupakan energi yang tak tergantikan. Aksi damai, audiensi, demonstrasi merupakan suatu bentuk perjuangan. Termasuk mogok nasional.
Tiba-tiba hati saya berdesir. Mogok nasional, suatu pilihan yang sangat berat. Mungkin aku termasuk yang approach-avoidance dalam kecemasan.
Seruan mogok kerja nasional untuk perawat indonesia? Tiba-tiba aku teringat sumpah profesi dan sumpah pns. Sebagai perawat aku harus menjunjung nilai kemanusiaan diatas segalanya. Sebagai pns aku harus loyal pada pimpinan? Sebagai anggota profesi aku juga harus berjuang untuk masa depan profesi secara keseluruhan.
Barangkali ini juga dirasakan oleh teman-teman perawat yang lain. Ini memang letak kelemahan kita. Jiwa altruisme begitu kuat tertanan dalam bawah sadar kita, juga jiwa pengabdian PNS. Secara langsung semua itu telah menjadi mental blocking bagi saya untuk bergerak menyokong perjuangan profesi keperawatan.
Mental blocking ini terasa begitu mengganggu dan sampai saat ini nggak ada solusi. Aku hanya duduk termangu. Bingung aku!
Read more!
Pengumuman!
Bagi Anda yang ingin memberi komentar pada tulisan di Blog Perawat Manajer Indonesia ini, tapi tidak mempunyai user id atau member Blogger.com, dapat menggunakan Anonymous user. Anda tinggal klik pada check list anonymous user sebelum komentar dipublish. Kalau ingin dikenali tinggal tuliskan saja nama Anda di dalam komentar.