Cari di Google

Google

iklan di sini

Saturday, June 30, 2007

Peran perawat

Oleh: Wastu Adi Mulyono, S.Kp.

Hari Kamis, 28 Juni 2007 kemarin saya berada di ruang perawatan anak di sebuah rumah sakit di Purwokerto. Iseng-iseng saya mengamati (observasi) kegiatan perawat selama saya berada di ruangan tersebut.

Deskripsinya sebagai berikut. Perawat serah terima dengan perawat jaga sebelumnya yang masih tinggal (tidak semua perawat hadir). Selanjutnya mereka mulai aktivitas.

Mulai dengan pengecekan buku laporan, mencatat, mencek buku obat, buku suhu, buku apalagi saya tidak tahu. Pendeknya mereka berada di nurse station kurang lebih 2 jam.

Perawat datang ke pasien jika keluarga ada yang datang ke nurse station untuk meminta bantuan, itupun yang datang ke pasien biasanya siswa perawat atau siswa yang lain. Perlu di ketahui perawat jaga saat itu PNS 2 orang, pendidikan D3 dan SPK, perawat Harian Lepas 2 orang, siswa akbid 2 orang. Jumlah Pasien waktu itu kurang lebih 30 orang.

Tidak lama kemudian datang supervisor, kepada beliau saya sampaikan apa yang saya amati. Selanjutnya terjadilah diskusi yang menarik. Melalui diskusi tersebut dapat saya simpulkan beberapa hal yang mungkin dapat mengilhami perawat-perawat manajer yang membaca blog ini.

Pertama, banyak sekali pengulangan catatan yang terjadi. Kedua, pendokumentasian tidak dilaksanakan sesuai prinsip 'hear and now'. Bahkan mereka mendokumentasikan (mewakilkan mencatat) apa yang dikerjakan orang lain yang jaga shift sebelumnya. Ketiga, terjadi kebingunan peran pada beberapa perawat akibat adanya rotasi dan promosi yang di luar kebiasaan.

Saya kemudian mengusulkan gagasan, bagaimana kalau dokumentasi itu dikomputerisasi, sehingga proses pengulangan pencatatan tidak terjadi. Tanggapannya positif. Namun ada kekuatiran, yang disampaikan dalam kalimat, "..bagaimana dengan saudara tua kita yang lainnya?"

Demikian hasil observasi dan diskusi singkat yang secara tidak sengaja telah memberikan saya inspirasi. Saya terilhami oleh semangat gotong royong di LINUX. Saya ingin mengajak semua perawat yang terhubung dengan internet untuk menyusun bersama Nursing Care Plan. Kemudian akan dibangun suatu home page yang berkaitan sistem informasi asuhan keperawatan. Wah kalau saja ada yang dapat membantu saya pasti lebih cepat.


Read more!

Wednesday, June 20, 2007

Pelatihan Kepala Shift

Oleh: Wastu Adi Mulyono

Hari, Rabu 20 Juni 2007, saya diundang untuk memberikan materi dalam pelatihan kepala shift di sebuah rumah sakit swasta di kabupaten Banarnegara. Saya memberikan 2 topik dalam pelatihan tersebut, yaitu Motivasi dan Kepuasan Kerja dan topik berikutnya adalah Delegasi dan Supervisi.

Sesi pertama adalah Motivasi dan Kepuasan Kerja. Sesi ini saya buka dengan memberikan 6 pertanyaan yang berkaitan dengan motivasi dan tumbuhnya motivasi. Setiap peserta diminta menulis dalam kertas hal-hal yang berkaitan dengan motivasi, yaitu:

  1. Sebutkan 10 hal yang Anda butuhkan sampai 10 tahun mendatang secara berurutan berdasarkan prioritas
  2. Apa arti adil menurut Anda
  3. Hasil apa yang Anda harapkan dengan menjadi kepala shift
  4. Kekuatan apa yang mendorong Anda tetap bertahan pada pekerjaan/prestasi sekarang
  5. Langkah-langkah apa yang telah Anda lakukan untuk mencapai presetasi/kondisi seperti sekarang
  6. Dorongan apa yang membuat Anda untuk tetap mempertahankan presetasi/pencapaian saat sekarang?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut pada dasarnya dapat digunakan untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang membangkitkan dan mempertahankan motivasi agar tetap ada. Jawaban dari peserta sangat bervariasi, tetapi yang saya catat adalah, kurangnya kemampuan untuk menetapkan harapan dan tujuan secara realistis, malu mengakui prestasi yang telah dicapai dan tidak menyadari potensi-potensi dan usaha-usaha yang telah dilakukan untuk memperoleh hal tersebut.

Menyadari hal tersebut saya sempat berdiskusi pada orang yang bertanggungjawab terhadap hal tersebut. Beliau menyatakan untuk tahap pelatihan selanjutnya memang ditujukan untuk itu. Kegitan tersebut berupa penyusunan POA (Planning of Action) dari setiap individu.

Prestasi kerja memang merupakan penyatuan antara motivasi dan kompetensi. Pelatihan motivasi dibarengi dengan peningkatan kompetensi dapat dipastikan akan menghasilkan performa kerja yang optimal. Oleh karena itu jika Anda adalah manajer sebuah rumah sakit atau institusi sejenisnya, jika menyelenggarakan pelatihan untuk staf, cobalah kombinasikan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi dan motivasi. Karena performa kerja ditentukan oleh baik motivasi maupun kompetensi.


Read more!

Saturday, June 9, 2007

Manajer dan Korupsi

Wastu Adi Mulyono, S.Kp.

Membaca Radar Banyumas Rabu 6 Juni 2007 yang menjadikan berita korupsi pengadaan obat di Banyumas sebagai headline menyadarkan saya betapa mengambangnya definisi korupsi itu sendiri. Bagaimana tidak? sebagai seorang manajer (Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten) drg. KK berusahan meningkatkan kesejahteraan bawahan, rekan kerja dan atasan dengan mengambil dari diskon pembelian obat telah didakwa melakukan korupsi.

Kata korupsi memang sangat populer sejak SBY menjadi presiden. Lembaga-lembaga yang berjuang untuk memberantas korupsi menjamur. Orang-orang yang terlibat korupsi satu demi satu mulai kena imbas, dari Mantan Ka Bulog sampai mantan Menteri Kelautan. Bahkan figur tokoh "jujur" yang saya kagumi pun tidak terlepas dari jeratan korupsi.

Jika saya introspeksi diri, kesempatan untuk korupsi di tatanan pemerintahan memang sangat mudah dilakukan. Keterlibatan pada korupsi bisa disadari ataupun tidak disadari. Misalnya, dalam suatu proyek kegiatan tertentu dan kita adalah peserta kegiatan tersebut, kadang-kadang acaranya dipadatkan menjadi beberapa hari saja, dan tanda-tangan kehadiaran tetap seperti yang dijadualkan. Atau jika kita mengajukan proposal kegiatan tertentu yang difasilitasi unit tertentu di suatu departemen, kadang-kadang dana yang kita terima hanya 90 persen dari apa yang tertera pada kuitansi.

Lebih parah lagi kita kadang menjadi bagian dari kegiatan tersebut. Seperti yang saya contohkan pertama, kadang-kadang peserta meminta dipadatkan karena sudah beberapa hari meninggalkan keluarga atau karena memang sudah tidak ada pembahasan yang diperlukan lagi. Hal tersebut dapat terjadi karena memang peserta sudah jenuh, atau rancangan kegiatan yang seharusnya bisa dilakukan 1 hari dalam proposal dibuat menjadi 3 hari.

Jadi korupsi dapat melibatkan siapa saja, sadar atau tidak sadar. Awal dari korupsi menurut pendapat saya, berasal dari sesuatu yang tidak ter-manage dengan baik sejak gagasan/ide terhadap hal tersebut muncul., Gagasan yang terencana dengan baik pasti terukur dengan baik. Setiap bentuk penyimpangan pasti diketahui dan dapat diperbaiki sendiri. Jika meminjam istilah manajeman pengendalian, hal ini disebut Cybernetic Control System.

Yang paling penting dalam memberantas korupsi selain produk hukum yang berkaitan, adalah kemauan pemimpin untuk tegas menerapkan hal tersebut. Hampir semua dari kita, atau katakanlah saya, bahwa pemimpin yang baik itu membuat kita segan, termasuk untuk berbuat curang. Jadi jika Anda menjadi pemimpin suatu organisasi nyatakanlah dari awal untuk tidak menerima segala bentuk korupsi. Tegakkan aturan dan jalankan pengendalian dengan baik. Semua pasti terkendali dan dengan bangga Anda bisa berkata, "Korupsi, I'm Sorry, Goodby!!!"


Read more!

Tuesday, June 5, 2007

Susahnya Menghadapi Jiwa Miskin

Oleh: Wastu Adi Mulyono, S.Kp.

Menyaksikan tayangan televisi tentang peristiwa penembakan warga sipil oleh Marinir di Pasuruan karena masalah tanah yang dimiliki di manfaatkan orang lain (baca warga), membuat saya harus merenungi kata miskin lagi. Alangkah ganasnya kuman "Jiwa Miskin" menginfeksi kita semua. Sampai sampai menyebabkan nyawa melayang sia-sia.

Saya teringat ucapan seorang teman ketika pertama kali membeli mobil dan terlibat cek-cok dengan seorang ibu.Waktu itu teman saya melewati jalan yang agak sempit, ada seorang ibu-ibu sedang membeli sayuran di tepi jalan. Karena posisi ibu tadi agak masuk ke jalan teman saya berhenti sejenak dan memberi tanda klakson agar ibu tadi minggir sebentar. Tetapi ibu tadi tidak mengindahkan tanda yang diberikan. Teman saya jengkel, mobil dimajukan dan menyenggol (maaf) pantat ibu tadi sedikit. Si ibu marah-marah dan menggedor kap mobil teman saya sambil berkata, ".. mentang-mentang orang kaya mengendarai mobil seenaknya!" dst.)

Teman saya marah dan langsung turun dari mobil mendekati ibu tadi sambil berkata, "Bu, saya sudah klakson ibu berkali kali tidak minggir, bukan salah saya kalau menyenggol "bokong", lha wong bokongnya ditaruh di jalan. Saya beli mobil ini juga hasil kerja keras, kok ibu enak saja mukul-mukul mobil saya kalau rusak bagaimana? apa ibu mau ganti?" Percekcokan pun semakin seru dan tidak perlu saya lanjutkan lagi di sini.

Peristiwa penembakan dan cerita teman saya tadi memang tidak ada hubungannya. Tetapi saya mengamati berbagai peristiwa di negeri ini yang melibatkan masalah antara orang yang disebut sebagai "orang kaya" dan "orang miskin". Semua tidak berarti jika memang sebutan tadi adalah benar. Masalahnya adalah, jika yang dikira orang kaya tadi adalah kita dan tidak termasuk kaya. Hanya memiliki simbol-simbol kekayaraan yang mungkin pinjaman, warisan, atau hasil kredit bertahun-tahun dan belum lunas.

Kebanyakan kita senang menyebut diri orang miskin karena berbagai alasan. Kita melaporkan kekayaan pribadi atau instansi yang kita pimpin dengan minimal value agar dapat bantuan atau fasilitas tertentu. Orang miskin sering memang menimbulkan rasa belas kasihan, dan kita telah mengekploitasinya dengan baik.
Kemiskinan kadang dijadikan alasan untuk melanggar aturan apa saja. Coba kita lihat tayangan televisi yang berkaitan dengan penggusuran, razia PKL, PSK dan sebagainya, semua pasti menyebutkan kata "orang miskin". Tukul Arwana sering menyindir hal ini dalam setiap shownya dengan mengatakan, "Kamu ini memang berjiwa miskin, makanya miskin terus."

Jika secara tidak sengaja telah diposisikan sebagai "orang kaya" seperti teman saya tadi, apa yang akan anda lakukan? menolak? tentu tidak bisa, karena kita memiliki simbol-simbol yang mewakili orang kaya tersebut. Jadi bersyukurlah dianggap orang kaya. Itu artinya kita telah membunuh kuman "Jiwa Miskin" tadi dengan tidak sengaja. Posisikan diri Anda sebagai "orang kaya" selamanya. Dengan begitu Anda akan menjadi lebih dermawan. Ingat kata ustadz tentang "Power of Giving".
Menjadi manajer juga bagian dari simbol yang mewakili orang kaya tersebut. Manajer harus siap memberi.

Sisi lain dari peristiwa tersebut adalah, pemahaman manajer terhadap aset-aset yang dimiliki. Setelah memahami aset, selanjutnya mengelola aset tersebut dengan baik sehingga tidak dimanfaatkan orang lain yang merugikan kita sebagai pemilik aset tersebut. Setiap orang dapat berubah. Jika kita tidak membuat semua pemanfaatan aset tersebut secara tertulis dan berkekuatan hukum, boleh jadi suatu saat kita yang melakukan pembunuhan meskipun tidak dengan senapan, mungkin dengan jarum injeksi atau yang lainnya.


Read more!

Pengumuman!

Bagi Anda yang ingin memberi komentar pada tulisan di Blog Perawat Manajer Indonesia ini, tapi tidak mempunyai user id atau member Blogger.com, dapat menggunakan Anonymous user. Anda tinggal klik pada check list anonymous user sebelum komentar dipublish. Kalau ingin dikenali tinggal tuliskan saja nama Anda di dalam komentar.