Cari di Google

Google

iklan di sini

Friday, February 22, 2008

Mungkinkah Perawat (Ners) Praktik Mandiri?

Oleh: Wastu Adi Mulyono

Pertanyaan ini sangat menyinggung saya ketika pertama kali lulus menjadi perawat, apalagi setelah menyandang gelar Sarjana Keperawatan. Gelar yang sangat langka waktu itu. Sebuah simbol pejuang kemandirian keperawatan. Jelas saja, waktu itu seolah-olah sayalah yang paling benar dan yang lain perlu dikoreksi. Belum lagi, kuliah di keperawatan seperti kuliahnya katak dalam tempurung saja. Bagaimana tidak? Pukul 07:00 sudah mulai kuliah, pulang setelah pukul 19:00 itupun kalau pas tepat waktu. "Wah pantat ini rasanya sampai tepos." Kata seorang kawan saya yang sampai membawa bantal tweety® dalam tasnya, agar sewaktu-waktu dapat digunakan ketika os ischii sudah mulai menekan m guleteus terlalu lama.

Sejalan dengan perkembangan umur, dan pergaulan dan berhubungan dengan trick and clique dalam dunia kerja, pandangan saya sedikit berubah menjadi lebih bijak (menurut saya). Segala sesuatu perlu ditinjau secara luas dari berbagai sudut pandang. Mendengar, mengamati dan memahami lingkungan sekitar telah mendatangkan perspektif yang berbeda dalam pemecahan masalah termasuk merespon pertanyaan seperti judul di atas.

Kemandirian praktik keperawatan menurut hemat saya, adalah suatu bentuk praktik profesional berupa proses identifikasi permasalahan berdasarkan metodologi yang independen, merumuskan dan menyelesaikan masalah secara independen juga. Pemahaman seperti ini sebenarnya sudah disosialisasikan (didogmakan) pada para mahasiswa keperawatan dalam mata kuliah konsep dasar keperawatan (KDK). Paradigma keperawatan secara jelas sudah menyoal hal ini.

Tetapi, paradigma ini kemudian dikhianati oleh kurikulum itu sendiri. Lihat saja penamaan mata kuliah seperti Keperawatan Anak, Medikal Bedah, Gawat Darurat, Mental Psikiatri dll. Jelas sekali terlihat, setelah kita mengajarkan kebutuhan dasar manusia, kita tidak melanjutkan permasalahan kebutuhan dasar manusia yang kita klaim sebagai ilmu dasar keperawatan tersebut menjadi lebih detil dan mendalam. Yang dibicarakan justru penyakit-penyakit dan kelainan-kelainan yang sebenarnya bukan wilayah keperawatan. Kalaupun ada yang berpendapat itu sangat berhubungan, silakan jawab pertanyaan ini. Adakah perbedaan mendasar intervensi keperawatan pada masalah nyeri, kerusakan mobilitas fisik, integritas kulit dan sebagainya pada fraktur, appendisitis, hepatitis atau melahirkan? Pada dasarnya sama saja (Baca saja NIC) yaitu stimulasi kulit, distraksi dan relaksasi.

Pembahasan penyakit bukannya tidak penting, tapi jangan dijadikan menjadi sesuatu yang harus dipenuhi. Misalnya, praktikan diharuskan pernah merawat pasien appendisitis, hepatitis, fraktur dll., satu orang minimal satu kali. Tentu saja tidak akan pernah dapat dipenuhi 100%, karena jumlah praktikan yang membludak sebagai dampak dibukanya kran pendirian pendidikan tinggi keperawatan (akper) sejak tahun 1994, menjadikan rasio praktikan dengan pasien menjadi sangat kecil.

Ketidakmandirian ini semakin jelas terlihat ketika masuk lingkup rumah sakit. Seluruh Standar Asuhan Keperawatan (SAK) disusun berdasarkan penyakit. Bayangkan saja, Anda sedang menerima pasien baru di bangsal dan belum ada diagnosis medisnya, apa Anda dapat melakukan asuhan keperawatan?

Pertanyaan-pertanyaan mengganggu ingi selalu muncul sejak saya menjadi penguji ujian akhir mahasiswa akper (D3 Keperawatan) 7 tahun lalu. Alangkah bingungnya teruji ketika harus merawat seorang pasien yang didiagnosis observasi febris. Tidak ada di literatur manapun yang merumuskan diagnosis keperawatan untuk ”penyakit observasi febris”. Ini bukan salah pembuat diagnosis penyakit, tetapi memang dia belum dapat memastikannya.

Kebingungan belum berakhir. Teruji selanjutnya diwajibkan menyusun karya tulis ilmiah (KTI) berdasarkan kasus yang dikelola sewaktu ujian praktik di RS. Dia tidak boleh menuliskan pendapat sendiri dalam KTI, tetapi harus membaca atau mengutip dari literatur. Padahal dia tidak menemukannya. Akhirnya, pembimbing yang kreatif datang menolong. Tidak ingin anak didiknya gagal ujian, maka dibuatlah judul ”asuhan keperawatan pada Tipus Abdominalis.” Luar biasa, tanpa pelengkap pemeriksaan apapun observasi febris berubah menjadi Tipus Abdominalis. Sudah dapat diduga, tiba waktu presentasi, teruji hanya melongo dihujani pertanyaan penguji.

Boleh saja beralasan, bahwa profesi perawat (Ners) adalah derivat dari ilmu kedokteran dan psikologi. Tetapi, bukankah kita sudah mengklaim bahwa keperawatan memiliki pohon ilmu? Oleh karena itu disebut profesi. Profesi yang mandiri tentu punya otonomi. Otonomi yang mengharuskan perawat mempunyai metodologi sendiri dalam merumuskan dan menyelesaikan masalah kliennya.

Fakta ini sebenarnya sudah sering dipertanyakan oleh mahasiswa yang kritis. Tetapi sebagai perawat (Ners), tentu akan saya luruskan pertanyaan mereka dengan sebuah tantangan. ”Kalau Anda ingin merasakan seperti apa perawat praktik secara mandiri, jangan cuma ingin jadi pegawai negeri atau bekerja di Indonesia. Pergilah ke luar negeri, cari sendiri jawabannya. Setelah tahu jawabannya, cepatlah pulang dan beritahu saya. Karena obsesi saya untuk mencari jawaban sendiri, sedang terpatar di sini.”

Praktik keperawatan mandiri adalah sebuah aksi. Sesuatu yang harus di lakukan, bukan hanya dipikirkan dan didiskusikan. Beberapa teman telah melangkah dengan caranya sendiri-sendiri. Akupuntur, akupressur, herba dan sebagainya telah digunakan sebagai media penarik. Cara yang cerdas, karena jika menggunakan tindakan dan obat medis pasti akan dicap mal-praktik, tidak kompeten dan sebagainya. Tetapi boleh juga dicoba oleh yang lain. Sebab klien yang membutuhkan asuhan keperawatan tidak akan datang ke praktik mandiri ”khayalan”. Mereka butuh tempat dan wujud praktik itu sendiri.

Revolusi (maaf, saya tidak ingin menggunakan kata reformasi, takut tidak dapat mengubah apapun) pendidikan keperawatan sangat dibutuhkan. Redefinisi, restrukturisasi dan re-enlightning kurikulum dan mata kuliah harus melihat dari berbagai aspek, dipikirkan secara matang, tidak sekedar menghabiskan uang rakyat. Tidak ada buku contoh untuk benchmark? Kita ciptakan sendiri, terbitkan sendiri, edarkan sendiri. We are ourselves. Kalau perlu jadi tred setter-nya, bukan cuma follower seperti jingle iklan “..other can only follow..”. Apakah saya pemimpi? Bukan! Ini adalah Mision Statement. Kita bisa kalau kita mau!

Jika kita tidak bergerak sekarang, silakan jawab pertanyaan dalam judul artikel ini dengan kata ”tidak”. Selamanya jawabannya akan tetap tidak. Lalu, sorry No Idea!


Read more!

Wednesday, February 20, 2008

Melihat apa yang dipikirkan

Oleh: Wastu Adi Mulyono

"Melihat apa yang kita pikirkan." Kalimat ini mungkin sangat puitis dan penuh filosofis bagi Anda. Yah memang begitulah! Kalimat itu saya kutip dari pernyataan salah seorang tamu kalau tidak salah Dimas, di acara Kick Andi di Metro TV "DENGAN HATI MELIHAT DUNIA" yang ditayangkan Kamis, 14 Februari 2008 dan Minggu 17 Pebruari 2008.

Episode kali ini menampilkan rekan-rekan tunanetra yang mengenyampingkan segala keterbatasannya dan berhasil membuktikan eksistensi mereka melalui kreatifitas. Pernah tidak, Anda bayangkan seorang tunanetra bisa membuat halaman web? Nah! itulah yang terjadi. Kunjungi saja Kartunet.com untuk melihatnya.

Menonton acara ini, seolah-olah saya mendapatkan pencerahan baru. Betapa kerdilnya saya yang dengan segala kelebihan yang diberikan Allah, masih banyak mengeluh dan menyia-nyiakan waktu. Dan barangkali saya tidak sendirian. Setiap kali kita mendengar alasan klasik ketika akan membuat suatu tindakan atau hal-hal yang lebih maju. Anda pasti sudah sering mendengarnya, yaitu, "Tidak ada Anggaran, kurang tenaga, kurang SDM berkualitas, Banjir ini karena alam, sehingga kita tidak dapat melawan bencana alam."

Nah begitulah ceritanya. Keterbatasan ternyata tidak menghalangi orang untuk berkreatifitas. Selama pikiran dan niat berisi hal-hal yang baik, pasti ada caranya. Lha wong niat jahat, mau korupsi saja, selalu ada ide untuk mencari celah peraturan dan pelaporan yang ada kok! Iya kan? Tetapi, saya tidak menyarankan cari akal untuk korupsi lho.

Yang perlu dicontoh di sini adalah, bahwa kita dapat melakukan sesuatu yang tidak pernah terbayangkan oleh orang lain. Kita punya 99% potensi otak yang belum terpakai. Jangan biarkan myelin menipis dan syaraf otak tidak berkembang. Kita perlu stimulasi yang terus menerus. Jangan istirahat terlalu lama setelah mencapai sesuatu. Nanti terjadi seperti dalam kontraksi otot, kalau terlalu lama istirahat, menyebabkan perangsangannya menjadi harus lebih besar lagi energi yang dibutuhkan. Selain itu juga jangan terlalu kelelahan, dalam fisiologi kontraksi otot nanti bisa terjadi tetani (kejang/kram).

Keterbatasan bukan sebuah alasan. Seperti yang saya dengar hari ini, seorang teman sejawat mengatakan, "Kita ini kekurangan tenaga!" Padahal setelah dihitung dengan rumus kebutuhan tenaga kok sudah cukup ya? Seringkali ini terjadi pada kita para perawat (Ners) bukan? Mungkin kita memang kelelahan, tapi mungkin juga karena manajemen tugas yang tidak tepat. Buktinya masih banyak perawat yang pulang dari dinas di RS satu dilanjutkan ke RS yang lain. Atau karena Anda didholimi oleh manajemen? Hal itu semua tetap harus diatasi dengan melihat apa yang kita pikirkan, bukan memikirkan apa yang kita lihat. Dengan demikian kita dapat mengambil inisiatif perubahan baik dalam diri kita sendiri, partner kerja, atau atasan Anda.

Mari kita mulai melihat dunia dan melihat apa yang kita pikirkan.


Read more!

Tuesday, February 19, 2008

Memahami Grafik Barber Johnson

Oleh: Wastu Adi Mulyono

Bagi orang yang bekerja di rekam medis, grafik Barber Johnson merupakan makanan sehari-hari. Tetapi tidak demikian bagi perawat. Hal ini terbukti dari kebingungan salah seorang mahasiswa ketika mendapat tugas dalam pengelolaan dokumen grafik Barber Johnson ini. Usaha bertanya kemana-mana sudah dilakukan (kecuali ke rekam medis barangkali) tetapi informasi untuk membaca grafik tersebut yang belum ditemukan. Oleh karena itu ada baiknya sedikit saya paparkan dengan menggunakan link-link yang saya dapatkan.

Bentuk Grafik Barber Johnson seperti contoh berikut.







Grafik Barber Johnson ini merupakan gambaran efisiensi rumah sakit. Seperti yang disampaikan Riyadi (2008) . Metoda Barber Johnson merupakan salah satu metoda yang dapat digunakan untuk penilaian efisiensi pengelolaan pelayanan rumah sakit. Penilaian efisiensi dapat dilakukan bulanan bahkan tahunan, lihat dalam laporan dan Foster (1999). Indikator-indikator pelayanan rawat inap rumah sakit dapat dipakai untuk mengetahui tingkat pemanfaatan, mutu, dan efisiensi pelayanan rawat inap suatu rumah sakit. Dalam statistik rumah sakit terdapat beberapa indikator pelayanan rawat inap rumah sakit yang dihasilkan dari pengolahan data sensus harian rawat inap yaitu BOR (Bed Occupancy Ratio), AVLOS (Average Length of Stay), TOI (Turn Over Interval), BTO (Bed Turn Over), GDR (Gross Death Rate), dan NDR (Net Death Rate) (Depkes, 2005 dalam Kurniawan(2008).

Grafik ini terdiri dari 4 garis, yaitu garis BOR, AvLOS, TOI, dan garis BTO. Biasanya didalam grafik barber johnson terdapat sebuah area yang biasa disebut daerah efisien. Daerah Efisien ditentukan dengan nilai-nilai standar dari ke-empat parameter tersebut. Nilai-nilai Standar keempat parameter tersebut adalah : BOR : 75%, AvLOS : 3-9 hari, TOI : 1-3 hari,BTO : 30 kali. Daerah efisien digunakan untuk membantu pembaca untuk menentukan apakah dengan nilai-nilai keempat parameter tersebut, pemakaian tempat tidur di sebuah rumah sakit sudah efisien atau tidak. Apabila titik temu keempat garis tersebut berada pada daerah efisien, maka pemanfaatan tempat tidur sudah efisien, begitu pula sebaliknya. NN(2007)

Demikian bahasan singkat tentang Grafik Barber Johnson. Jika kurang jelas silakan klik link dalam refenensi. Semuanya berbahasa Indonesia. Bahkan ada yang menyediakan programnya dalam bentuk MSExcel dan Online.


Referensi:

Foster, at.all, 1999, Data sources, bed supply and performance in hospital systems: An Anglo-Czechoslovak comparison, EUROPEAN JOURNAL OF PUBLIC HEALTH VOL. 9 NO. 2
Online,
http://eurpub.oxfordjournals.org/cgi/reprint/9/2/103.pdf diakses tanggal 19 Pebruari/2008.


Kurniawan, H.,2008, Sistem Pengolahan Data Rawat Inap di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten Berbasis Multiuser. Skripsi. http://heryant.web.ugm.ac.id/artikel2.php?id=37 diakses tanggal 19 Pebruari 2008

Riyadi, S., 2008, Penilaian Kembali Penggunaan Metoda Barber Johnson dalam Penilaian Efisiensi Pelayanan Rumah Sakit di Indonesia. http://heryant.web.ugm.ac.id/artikel2.php?id=37 diakses tanggal 19 Pebruari 2008

NN, 2007, Grafik Barber Jonson on line, http://tantos.web.id/ diakses tanggal 19 Pebruari 2008

Kunjungi Juga:

http://www.publichealth.pitt.edu/supercourse/SupercoursePPT/7011-8001/7891.ppt untuk memperoleh slide yang berkaitan.



Read more!

Praktik Profesi Ners Stase Manajemen Keperawatan

Oleh: Wastu Adi Mulyono

Sudah sejak tanggal 23 Januari 2008 saya membimbing praktik profesi Ners, mahasiswa Profesi Jurusan Keperawatan FKIK Unsoed. Gelombang pertama sudah selesai minggu kemarin. Gelombang kedua akan selesai minggu depan. Manajemen keperawatan merupakan stase terakhir yang harus dilalui mahasiswa sebelum memperoleh sebutan "Ners", setelah satu tahun sebelumnya mereka lulus sarjana keperawatan (S.Kep.).

Praktik profesi manajemen keperawatan ini merupakan suatu bentuk pengejahwantahan ilmu kesarjanaan yang telah mereka dapatkan dalam dunia praktik senyatanya. Kegiatan ini merupakan bentuk pembelajaran sekaligus inisiasi perubahan dalam tempat praktik yang dituju. Tempat kegiatan yang ditentukan adalah RS Margono Soekarjo, yang merupakan rumah sakit rujukan untuk wilayah Jawa Tengah Selatan. Kompetensi yang diharapkan dari mahasiswa adalah kemampuan manajemen bangsal, manajemen bimbingan klinik keperawatan dan manajemen asuhan keperawatan.

Kegiatan dimulai dengan pengumpulan data tempat praktik yang berkaitan dengan ketiga sub sistem manajemen keperawatan tersebut (Bangsal, Bimbingan Klinik dan Asuhan Keperawatan). Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan berbagai pendekatan untuk merumuskan masalah yang perlu diatasi dan strategi pemecahan masalah. Permasalahan dalam satu tempat (bangsal) merupakan masalah kelompok. Permasalah kelompok akan dipecahkan satu per satu melalui proyek-proyek individual. Meskipun proyek-proyek ini bersifat individual, tetapi dalam pemecahanannya tetap menggalang sinergi antar anggota kelompok. Setelah pelaksanaan proyek kelompok selesai akan dikembalikan lagi pada rumah sakit untuk ditindaklanjuti.

Banyak hal-hal yang dapat dicermati dalam kegiatan ini untuk pembelajaran profesi manajemen keperawatan selanjutnya. Sebagai program pertama, banyak hal yang perlu ditingkatkan. Beberapa hal yang menarik akan saya muat dalam blog ini agar dapat dimanfaatkan sejawat atau khalayak umum yang membutuhkan informasi ini.

Akhirnya, praktik manajemen ini akan segera diakhiri. Selamat datang Ners Baru. Mari Berjuang Bersama.


Read more!

Thursday, February 14, 2008

Sosialisasi profesi

Ditulis dengan penuh keprihatinan oleh: Wastu Adi Mulyono

Tahukah Anda seberapa populer kata “perawat” di internet?
Berdasarkan hasil searching saya dengan menggunakan www.twingine.com pada tanggal 14 Pebruari 2008 pukul 19:54 adalah 328.000 di google.com dan 392,000 di yahoo.com.

Siapa yang paling atas?
http://www.inna-ppni.or.id/ di google dan http://www.perawat.blogspot.com/ di yahoo.

Bagaimana dengan kata “ners?”
Di yahoo ada 4,090,000 tetapi tidak ada yang berkaitan dengan keperawatan di halaman pertama. Di google terdapat 1.680.000 syurkurlah PPNI dan fk umy ada di halaman pertama.

Survey sederhana tersebut saya lakukan terdorong oleh komentar salah salah seorang pejabat di tempat saya bekerja bahwa organisasi perawat itu sendirilah yang harus mensosialisasikan Ners pada pihak yang berwenang. Selain itu saya juga terilhami oleh kata-kata Anne Ahira bahwa satu kata di internet adalah satu market. Komentar tersebut merupakan bentuk tanggapan terhadap keluhan dan protes dosen-dosen perawat yang mempertanyakan perbedaan pengakuan gelar profesi yang mereka miliki dibandingkan dengan gelar profesi yang lain. Setelah merenung, saya jadi berpikir bahwa pernyataan beliau tersebut ada benarnya juga. Bahkan menurut saya, bukan hanya organisasi profesi yang mensosialisasikan, tetapi kita sebagai perawat juga harus selalu mensosialisasikan profesi ini.

Saya jadi teringat ketika baru lulus sarjana keperawatan 9 tahun yang lalu. Setiap kali berkenalan atau ketemu orang di bis atau di situasi apapun saya selalu memperkenalkan gelar sarjana keperawatana tersebut. Hal ini bukan suatu bentuk kesombongan, tetapi terpaksa, karena setiap saya menyebutkan lulusan S1 Keperawatan mereka langsung berkata, “ Lho ada tho...” Jadi tidak ada jalan lain saya selalu menjelaskan pada orang belum tahu saya.

Hal ini ternyata cukup sukses. Buktinya, di wilayah barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap dan Kebumen) sekarang sudah terdapat 5 Pendidikan S1 Keperawatan dengan jumlah mahasiswa yang cukup ideal, kurang lebih 40 per angkatan. Hebat , bukan?

Sosialisasi profesi memang sangat dibutuhkan. Sosialisasi yang menurut saya paling tepat adalah membuka praktik keperawatan. Saya sebagai perawat, merasakan sendiri, lebih mudah praktik sebagai pengobat tradisional daripada perawat yang sesungguhnya. Praktik keperawatan memerlukan persyaratan yang sangat memberatkan (menurut saya). Barangkali, karena ingin melindungi pasien, peraturannya sangat ketat. Bahkan untuk mendapatkan Surat Ijin Perawat saja, harus menjalani ujian praktik. Belum lagi, keluarnya surat lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa sekali. Saya bukan penentang ujian untuk SIP ini, tetapi saya berpikir logis saja. Mengapa harus ujian praktik ketrampilan? Mengapa tidak seperti ujian tulis tetapi materinya problem solving. Kalau perlu buat e-exam. Bukankah mereka semua (perawat-perawat itu) sudah lulus sekolah yang sudah diakreditasi, sudah ujian nasional? Yang menguji juga penguji ujian SIP itu sendiri. Bukankah hal ini seoalah-olah kita meragukan kualifikasi kita sebagai penguji ujian praktik akhir itu sendiri???

Jadi bukakanlah pintu kesempatan untuk praktik keperawatan selebar-lebarnya. Seperti yang dilakukan oleh dirjen pajak itu lho, pendaftaran pajak dipermudah untuk menjaring wajib pajak sebanyak-banyaknya. Tidak akan mungkin orang membuka praktik kalau tidak mendapatkan untung bukan? Nah jika praktiknya saja belum jelas mau apa, terus mau dapat untung dari mana? Nah setelah semua rame-rame buka praktik dan punya banyak uang, mulailah dibuat suatu pelayanan keperawatan yang spesial, sampai-sampai pasien merasa kalau tidak diberi pelayanan keperawatan dia tidak akan merasakan datang ke klinik tersebut. Jika sudah seperti ini, kita sudah masuk pada tahap lanjut. Pasien yang seperti ini ibarat “junkies yang sedang sakau”. Apapun akan dilakukan untuk mendapatkan pelayanan ini. Situasi yang seperti inilah yang akan membuat kita dibutuhkan dan dihargai dengan tinggi. Kita buka praktik perawatan saja pun pasti orang akan datang mencari.

Selain praktik keperawatan, aktivitas sosial, politik dan olah raga harus kita jalani. Masak ada mahasiswa yang mengeluh, “Pak, kuliah di keperawatan ini kebanyakan tugas, saya jadi tidak bisa ikut UKM.” Saya jawab, “Ah itu kamunya saja yang malas dan tidak dapat mengorganisir waktu.” Tetapi setelah saya renungkan kembali, saya jadi tertegun juga. Bayangkan saja, mahasiwa harus mengumpulkan makalah per semester kurang lebih enam mata kuliah. Karena kuliah dilakukan dengan tim dan metodenya Student centered learning, mereka harus mencari materi sendiri. Selain itu setiap tim ada sekitar 4 dosen. Jadi 24 makalah per semester. Wah hebat sekali. Dosen saja untuk membuat satu proposal penelitian dosen muda perlu waktu 1 semester. Itu belum seberapa, seteleh makalah dikumpulkan, rewardnya hanya C (Oh ..Teganya). Belum cukup. Mahasiswa yang tidak masuk kuliah karena ada kegiatan kemahasiswaan (demonstrasi anti BHP misalnya), harus mendapatkan tugas tambahan. Jadilah, mahasiswa tersebut kurang pergaulan. Terdiam bagaikan katak dalam tempurung. Bagaimana bisa bersaing di rimba kehidupan?
Sosialisasi profesi bukan hanya melalui wujud profesinya itu sendiri, tetapi juga personal yang ada di baliknya. Dulu perawat identik dengan baju putih ber kap atau sanggul dan bekerja di rumah sakit. Sekarang, teman saya yang jadi tukan pijat refleksi pun pakai baju putih, baby sitter tetangga saya juga. Demikian juga pendidikan. Perawat jaman dulu dididik di asrama dengan kedisiplinan dan kepatuhan pada senior yang tinggi. Sekarang semua itu tidak ada. Perat tidak lagi berbaju putih, pendidikannya juga bervariasi, pola pendidikannya pun juga sudah liberal. Identitas perawat dengan simbol-simbol itu sudah tidak ada sekarang. Semua berubah seiring jaman. Wujud perawat itu sendiri juga tidak tampak secara fisik. Jadi apanya yang mau diperlihatkan, penampakan? tidak tertangkap kamera juga.

Ini emergency kawan. Sosialisasi profesi sangat esensial. Jika setiap orang sudah tersosialisasi, sudah tahu, pasar sudah tercipta dengan sendirinya. Dengan demikian perawat sudah menemukan jati dirinya. Bukankah kata kata Maslow kalau kita belum terpenuhi kebutuhan fisiologis tentu tidak akan dapat mencapai aktualisasi diri? (hmm salah enggak ya)
Nah, bagaimana Ners, siap menerima tantangan ini!!!


Read more!

Friday, February 8, 2008

Memperbaharui Cinta = Love Renewal

Oleh: Wastu Adi Mulyono

We will meet valentine day again next week. People usualy celebrate this day with their couples by giving prize each other or kiss each other. Others do not join in the celebration with their own reason. I am is one of them who not join the celebration. And I have my own reason too.

Although I am not join in the celebration, I would like to write something useful for my love journey. I married my wife on September 2001, five days before WTC towers blown away by terorist. I believe that the disaster based on deep hesitations. Thing that had been cultivated for years inside their heart. An experiences that I do not had.

Love for my is a flame of spirit. It is smoother than ambition. I like work lovely rather than work ambitionally. Work in love scene make everything easy and joyful. We can unify our spirit and soul together creating a synergy. Work together in synergy is the best effort, isn't it? However, too much love will kill you. Love have evolve to hate. When it's happen renew it.

Yes!! love is as fuel for work machine. That are both our physical and psychological whole of us. People, in this moment, I would like to call for you all. You have love. But, It's may be getting older. Renew it!


Read more!

Pengumuman!

Bagi Anda yang ingin memberi komentar pada tulisan di Blog Perawat Manajer Indonesia ini, tapi tidak mempunyai user id atau member Blogger.com, dapat menggunakan Anonymous user. Anda tinggal klik pada check list anonymous user sebelum komentar dipublish. Kalau ingin dikenali tinggal tuliskan saja nama Anda di dalam komentar.