Cari di Google

Google

iklan di sini

Friday, December 5, 2008

Let The Train Hit The Children

Oleh: Wastu Adi Mulyono

Kemarin setelah sebuah diskusi yang ramai dengan perdebatan, dosen kami memberikan pertanyaan kepada kami sebagai berikut:
"Anda adalah seorang petugas pemindah jalur kereta api. Kereta api akan segera lewat, sementara di jalur kereta api aktif ada 5 orang anak bermain, di jalur yang lain adalah jalur kereta api tidak aktif tetapi hanya ada 1 orang yang bermain. Mau kemana kereta api akan Anda lewatkan?"

Jawaban kami bervariasi dengan alasan bervariasi pula. Ada yang menjawab sebaiknya dilewatkan ke jalur yang tidak aktif. Alasannya korban yang akan tertabrak hanya 1 orang, daripada jalur yang aktif dimana korban adalah 5 orang.

Jawaban kedua adalah kereta api dilewatkan ke jalur yang aktif, karena situasi lebih pasti dan dapat diprediksikan daripada jalur tidak aktif yang mungkin akan banyak permasalahan ketika dilewati gerbon kereta api. Korban 5 orang tidak seberapa dibandingkan kemungkinan korban lebih banyak jika terjadi kecelakaan di jalur tidak aktif.

Kedua jawaban tersebut semuanya pada dasarnya sama, yaitu memikirkan kerugian yang terjadi. Semua berfokus pada kerugian yang akan ditimbulkan baik mempertimbangkan nyawa atau material. Tidak ada dari kedua jawaban tersebut yang mempertimbangkan aturan yang ada.

Jika kita kembalikan ke peraturan atau regulasi yang ada, kesalahan ada pada kelima orang anak yang bermain di jalur aktif. Sudah tahu peraturan bahwa di jalur aktif tidak boleh bermain tetap saja bermain, dan kita bermaksud mengorbankan 1 orang anak di jalur tidak aktif yang sebenarnya bertindak benar karea dia tidak melanggar aturan yang ada.

Patut direnungkan, mengapa kami hanya berpikir tentang kerugian material secara otomatis daripada dasar peraturan yang ada. Apakah hal ini karena kita sudah mahfum bahwa setiap peraturan pada akhirnya akan dilanggar? Apakah kami sudah sedimikian materialistisnya sehingga mengorbankan orang yang bertindak benar karena yang berbuat salah itu banyak?

Pertanyaan tersebut tidak perlu dijawab. Mari kita renungkan saja. Mari kita lihat fenomena dan fakta yang ada. Berita-berita di surat kabar, televisi dan media lainnya. Barangkali kami secara tidak sadar telah menjadi bagian dari semua hal yang sebenarnya juga sering kita sorot dan dilabel sebagai korupsi, nepotisme dan lain sebagainya. Alam bawah sadar kita telah terkotori dengan ide-ide buruk yang kita dapatkan dari media massa, maupun pengalaman tersebut.

Mudah sekali kita menuduh orang tidak berakhlak yang baik karena melakukan korupsi, nepotisme atau pelanggaran hukum lainnya. Tapi mari kita lihat perilaku kita sehari-hari. Kita mengurus KTP ingin lebih cepat dari yang lain, mengurus SIM dan STNK lebih cepat dari yang lain. Hal tersebut bukan sesuatu yang salah bukan? Hal itu suatu bentuk kebutuhan. Kesalahan kita adalah karena ingin cepat tersebut kita membiarkan diri kita melanggar aturan. Menyisihkan orang lain agar ditunda karena kita ingin lebih cepat. Membayar calo dan sebagainya.

Susah sekali untuk menilai diri sendiri. Ketika kepentingan itu berlaku untuk diri sendiri, kita akan dengan semangat membelanya mati-matian meskipun harus melanggar hukum. Alasannya, yang lain pun melakukan hal serupa. Lalu kapan semua ini akan berakhir. Kita inginkan semua berjalan dengan baik, tapi kita sendiri yang memupuk dan memelihara perilaku tidak baik.

Kita seringkali menerikkan kata perubahan, tetapi tidak pernah beranjak dari situasi sekarang. Selalu saja memikirkan masa lalu, bolak-balik aturan diubah dengan sangat melelahkan. Pelaksanaannya sendiri tidak pernah dikontrol sudah diubah lagi.

Jadi apapun yang kita lakukan sekarang semenarnya sama dengan kita berucap, "biarkan kereta itu terus menabrak anak-anak kita, baik anak kita bertindak benar atau salah. Let the train hit the children." Kita telah membiarkan peristiwa itu terjadi meskipun kita tahu bahwa kita dapat mencegahnya.

Mari kembali ke kamar, matikan lampu, pasang aromaterapi. Renungkanlah kembali sambil terus mohon ampun pada tuhan, karena kita semua telah melakukan kesalahan dan kebodohan terus menerus. Berdoalah supaya diberikan kekuatan untuk bertindak dengan benar. Salam.



Read more!

Monday, November 24, 2008

Kampus Virtual

Oleh: Wastu Adi Muyono

Pernah mengalami masalah dengan literatur? Atau sumber yang Anda harapkan ternyata berbayar? Sebeeeelll deh.

Permasalaha itu adalah permasalahan umum yang sering terjadi pada kita. Saking umumnya sampai-sampai kita tidak merasakan lagi sebagai suatu masalah, karena dirasakan oleh hampir semua orang dan tidak ada jalan untuk mengakhiri permasalahan tersebut. Akhirnya alam bawah sadar kita melakukan rasionalisasi bahwa hal tersebut bukan masalah, toh banyak teman yang mengalami hal serupa.

Informasi di internet sebenarnya banyak sekali, ibarat kita mencari jarum yang jatuh ke tumpukan jerami, kalau tidak kebetulan pasti ada teknik khusus mencari bahkan beberapa orang memang beruntung mendapatkan fasilitas yang memudahkan memperoleh informasi tersebut.

Saya berpikir bagaimana resources yang sudah diperoleh tersebut bisa dibagi-bagi. Oleh karena itu saya memulai dari apa yang saya dapatkan di dekat saya, saya upload ke internet agar dapat dimanfaatkan oleh yang lain. Slide dosen (dengan ijin tentunya), paper, skripsi, bahkan hasil penelitian jika memungkinkan dapat kita upload ke internet. Cita-cita saya memiliki perpustakaan gratis untuk perawat se Indonesia tercinta.

Terinspirasi oleh sejarah jepang pasca perang dunia II, dengan menterjemahkan buku-buku luar negeri, telah membuat Jepang melaju sebagai macan asia. Apakah kita dapat menirunya? Meskipun tidak se-menggebu Jepang, kita dapat membagi paper-paper kita pada kolega se Indonesia. Yang memiliki buku terbaru segera diterjemahkan, tentunya sesuai kebutuhan masing-masing. Kalau Anda ingin menterjemahkan 1 buku sendirian ya masukkan saja ke penerbit, kecuali memang anda adalah orang yang memiliki caritas dan altruisme sangat tinggi, yang rela berkorban utuk semua, dapat membagi langsung hasil terjemahannya tanpa perduli akan dimanfaatkan oleh orang lain untuk kepentingan sendiri atau tidak.

Sebuah kampus virtual/perpustakaan virtual mungkin dapat membantu. Kampus virtual yang berisi tutorial dan lecture material serta literatur-literatur karya sendiri atau link-link ke free journal bukan suatu kemustahilan untuk diciptakan pada saat ini. Kalau mau membuat blog/situs sendiri, itu lebih bagus, yang penting berbagi link dan free. Kalau tidak sempat membuat sendiri, cukup emailkan saja naskah pada kami, biar kami yang urus bagaimana karya Anda dapat bermanfaat. Suatu hasil penelitian yang mungkin menurut Anda jelek masih dapat bermanfaat untuk orang lain, misalnya supaya orang lain tahu membedakan mana penelitian yang baik dan mana yang jelek (he..hee) tentu tetap bermanfaat bukan. Jadi jangan underestimate terhadap karya dan buah pemikiran Anda sendiri. Biar orang lain memanfaatkannya.

Contoh yang sudah saya lakukan dapat Anda lihat lewat link materi kuiah di kolom kiri blog ini, bersama jurnal-jurnal yang dapat diakses. Bisa juga Anda kunjungi blog perawat konsultan kemudian telusuri koleksi paper dan slide yang ada di kolom kiri. Atau silakan putar scoll mouse Anda untuk melihat link di kolom kiri bawah bersama dengan link ke jurnal-jurnal pada
Blog Perawat Manajer ini.

Ayo jangan ragu-ragu, kirimkan saja paper-paper yang telah Anda buat. Jangan biarkan dia hanya sebagai bungkus kacang dan mendoan. We have been waiting for your participation and your kindness since now. Just send us yours thing to wastu2008@yahoo.com.

Sementara hanya ada topik sains keperawatan dan manajemen keperawatan. Saya yakin dengan partisipasi Anda semua pasti akan tumbuh lebih besar. Jika sudah besar nanti kita akan buat website sendiri dan disimpan dalam server di Indonesia agar cepat download-nya.


Read more!

Friday, November 21, 2008

Cuci Otak 2

Kuliah yang paling menguras pemikiran saya adalah sains keperawatan. Setiap minggu dicecar dengan tugas dan penelusuran literatur. Berbekal bahasa Inggris pas-pasan (nearly fluent)menyusun makalah dengan bahasa dan istilah level tinggi (menurut kami). What did tutor comment them?

Saya hargai Anda telah bekerja keras untuk menyusun paper ini. Presentasi Anda sangat baik. Penjelasan anda dalam makalah juga menggunakan sumber-sumber up to date dari internet maupun buku-buku textboo. Saluut.

Sudah kami pahami, setiap pembelajar pasti tahu bahwa statement seperti itu adalah suatu bentuk reinforcement positif. Sebagai orang sehat, kami juga senang mendapat pujian. Tapi kami juga tahu, bahwa pasti statemen itu ada paradoksnya (saya juga tidak tahu penggunaan kata ini tepat atau tidak).

Dan seperti yang telah kami pikirkan. Statemen berikutnya adalah suatu penilaian jujur dari beliau. Kalau sudah mengutip X dan Y dan Z, selanjutnya apa? What next?Menurut penilaian jujur saya, tulisan ini masih belum menunjukkan kelas Anda!

Nah apa pula ini. Kelas apa yang dimaksud?

Anda sudah S2 bukan? Anda sudah mampu melakukan analisis bahkan meta analisi. Jadi lakukan sesuatu dari yang Anda baca. Jangan disalin langsung semuanya. Informasi yang telah Anda dapatkan itu rumuskan sesuatu menurut penilaian Anda?

Woooooo, kami hampir serentak ber "wooo" ria. Ini, yang disebut kelas. Kami pun serentak tertawa, mentertawai kebodohan seorang calon Master. Berhari-hari kami bekerja menelusuri literatur yang tidak gratis tentunya. Mengutip sumber-sumber, menyusun kutipan-kutipan (menyalin) menjadi paragraf yang bersambungan kemudian berdiskusi dengan alot, hanya menghasilkan suat karya yang tidak berkelas.

Marah? Jelas tidak. Kami semua pembelajar. Belajar harus totalitas. Artinya harus sanggup menerima apapun yang ingin dipelajari meskipun kadang bertolak belakang dengan kebiasaan kita setiap hari. Membalik balik memori, membongkar, kemudian menata kembali dengan perekat-perekat yang lebih baik.

Saya lebih suka menggunakan kata cuci otak. Untuk dapat menerima informasi dengan baik, otak kita harus dicuci. Semua harus bersih dari prasangka. Biarkanlah informasi mengalir dan membentuk sedimentasi baru dalam memori kita.

Hampir tujuh tahun saya meyakini, logika berpikir yang saya anut. Memahami dasar dasar sains keperawatan, filosofi, paradigma, model konseptual, grand theory, middle range theory, sampai dengan practical theory. Menalar korelasi semua konsep yang ada, selanjutnya mensintesis hal-hal baru. Sungguh sangat menantang emotional stability.

Sains keperawatan memang merupakan basis praktik keperawatan profesional. Perawat praktisi sebaiknya mengenal hal ini dengan baik. Aplikasi teori-teori ini dalam praktik sesungguhnya sangat mungkin. Hanya saja pengetahuan kita yang terbatas membuat kita dibodohi oleh kecemasan. Lebih tragis lagi, dosen-dosen yang mengajar sains keperawatan di level bawah juga tidak memahami pentingnya teori ini. Jadinya ya seperti inilah kita perawat Indonesia.

Barangkali kita memang harus kembali ke titik nol (CUCI OTAK). Menguras apa yang telah kita ingat. Mendiskusikan kembali apa yang kita peroleh. Mengurai sekecil-kecilnya. Tidak pernah malu mengakui kita bodoh. Betul-betul kita refleksikan kembali melalu tutor-tutor yang sudah senior dan mempraktikkan ilmu ini. Akhirnya kita dapat menyusun lagi serpihan-serpihan tadi menjadi mozaik pengetahuan sains keperawatan mutakhir yang sahih.

Kami juga mengajak para praktisi keperawatan untuk dapat menghadiri seminar kami tentang aplikasi teori-teori ini dalam praktik. Tunggu saja kabar berikutnya.


Read more!

Tuesday, November 11, 2008

Completely Involved

Oleh: Wastu Adi Mulyono

Live in Jakarta is an opportunity to learn humanity well. As we knew Jakarta is a metropolitan city accompanied by multy complicated problems. Since traffic jam popular for long time ago, no complete solution handled them. So do mass transportation, criminality, and flood.


People live stresful event everyday. My neighbour, I share wall with, is one of the example. No day without screaming, crying and harsh words express by this family. Living cost have burdened them and created stressful day and day, still the mother is a single mother. All have made me practicing relaxation course every day.

I understood that. I have prepared and trained well to compromise situations. I am a nurse. I practiced empathic. Nursing philosophy and values responded automatically whenever and whereever. However, discussing empathic, I feel my empathetical response should be developed. Developing emphatic mean learning directly in the real unplanned situation.

Learning about life and the values need nothing just that life itself. I found that yesterday. I felt completely alike Jakarta citizen. I traped in tight mass transportation, enjoying happiness in mall, stuck in traffic jam and finally my rent room got flooded.

Arriving home on evening, I was shocked by waters filled my room. All of my property nearly wet. Fortunately my niece saved few. Books, hard disc, wires and everything wet soaked in flood. Remember my spiritual guru, I smiled, thanked to God. This I wanted, didn't I. Learning about life and empathic should experiencing it self. And I get it today, I spoke with my self.

Hours I spent to clean my room, rewash clothes, dry book, and save anything it could be save. I really surpraise to my neighbor. Life challenges have made them thoughtful to face the situation. Hand on hand they dry floor and clean room. Briefly they finished everything, beside, I am confusing to do everything.

I feel lucky experincing this. This sudden flood, relay unplanned and unpredictable situation. Event run well to teach me something about life, to learn humanity and emphatic.

I found that people respond automatically to their actual situation well. This automatic responses are build by recurring event they faced. They handled flood more efficient then I did because of experience. Experience is a potential that should be assessed in nursing care. People always have potential. Poverty should not be blamed as scapegoat of unsuccessful nursing care. My experience is one of the fact.

There always ways out for every creature to make them live well.


Read more!

Tuesday, November 4, 2008

Perawat Profesional

Oleh Wastu Adi Mulyono

Pelayanan professional berhubungan dengan kepercayaan klien terhadap profesi yang bersangkutan. Sebagai contoh pelayanan bantuan hukum oleh lawyer melibatkan kontrak kepercayaan antara kliennya dengan lawyer. Lawyer mengetahui segala hal berkaitan dengan kliennya berdasarkan kepercayaan yang dibuat. Contoh yang lain di kesehatan adalah layanan pengobatan oleh medis. Dokter sebagai tenaga profesional akan mengelola pasien sejak masuk sampai dengan pulang atau meninggal dunia.

Bagaimana dengan pelayanan keperawatan? Perawat mengelola pasien berganti-ganti. Kapan pasien masuk atau pulang kadang-kadang tidak tahu sama sekali. Setiap menemukan masalah ditulis, didiangosis, dilakukan rencana tindakan, dilakukan tindakan, dilakukan evaluasi. Tetapi siapa yang bertanggungjawab terhadap semua itu. Bagaimana jika ada kesalahan mengidentifikasi data? Siapa yang mengoreksi?

Berbekal perbandingan uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa pelayanan keperawatan yang seperti sekarang bukanlah pelayanan yang professional. Jika pelayanan belum professional maka jelas sekali tidak akan dapat dinilai tingkat profesionalitasnya. Efek dari ini adalah ketidakjelasan remunirasi bagi pelayanan profesional keperawatan itu sendiri.

Ketidak profesionalan ini juga dapat diakibatkan oleh tidak adanya struktur yang menaunginya, atau yang mendukung bentuk pelayanan keperawatan profesional. Mulai dari struktur organisasi atau tugas pokok dan fungsi yang mendukung.

Setiap rumah sakit sebenarnya hanya membutuhkan 30-35 persen Ners dan Ners specialis akan dapat memberikan pelayanan keperawatan professional. Jumlah sisanya 65-70 % dapat diisi oleh perawat vokasional. Perawat yang profesional akan dapat mengelola asuhan keperawatan secara menyeluruh. Mulai asessment, diagnosis, rencana, tindakan, sampai evaluasi dilakukan oleh 1 orang perawat profesional. Tetapi dalam implementasinya perawat profesional dapat dibantu oleh perawat vokasional.


Profesionalisme keperawatan bukan suatu mimpi, jika kita dapat mengubah system pelayanan keperawatan. Model-model praktik keperawatan profesional sudah banyak diterapkan dan diteliti. Pelatihan pelatihan sudah sudah sering dilakukan. Bahkan penelitian berkaitan dengan penerapan model tersebut juga sudah sering dilakukan dengan hasil yang baik.


Perawat yang kompeten sudah tersedia, model juga sudah ada, mengapa masih belum juga terwujud praktik keperawatan profesional. Kemauan kita sebagai manajer untuk memfasilitasi penerapan di rumah sakit sangat dibutuhkan. Profesionalisme pelayanan keperawatan seharusnya menjadi prioritas perubahan keperawatan saat ini. Tanpa ada struktur dan system yang mewadahi, semua inovasi keperawatan akan sulit terdokumentasi dengan baik dan menjadi evidence base untuk perkembangan keperawatan.


Perjuangan struktur keperawatan dalam jajaran level strategis juga belum layak diperjuangkan dengan terlalu keras. Perjuangan jabatan struktural direktur keperawatan sebaiknya jangan terlalu dipaksakan jika sumber daya manusia yang akan mengisinya tidak tersedia. Hal ini akan menjadi blunder dalam perjuangan selanjutnya jika struktur ini tidak berfungsi dengan baik dan tidak memberikan kontribusi apapun bagi keperawatan. Hal terbaik menurut saya adalah meletakkan landasan yang kuat di level pelayanan langsung pasien. Pengaruh pada pasien harus jelas dirasakan agar pasien dapat membedakan pelayanan yang profesional dan yang tidak profesional sehingga akan tercapai kondisi "addicted".


Kondisi yang kita ciptakan akan menjadi kekuatan fundamental perkembangan keperawatan. Pondasi yang kokoh akan meningkatkan daya pantul untuk melakukan lompatan yang lebih tinggi. Lompatan kuantum yang kita harapkan akan segera terjadi. Profesionalisme keperawatan bukan menjadi pertanyaan lagi, tetapi sebuah jawaban terhadap tantangan kesehatan. Pasti.


Read more!

Saturday, October 25, 2008

Spiritual Quotient

Oleh: Wastu Adi Mulyono

Kecerdasan spiritual atau yang sering disebut-sebut orang dengan Spiritual Quotient (SQ) --meskipun saya juga tidak mengerti mengapa quotient diartikan sebagai kecerdasan, padahal arti di kamus adalah hasil bagi-- mengarahkan hidup kita menjadi lebih bijak dan bahagia. Kecerdasan spiritual tidak didapatkan serta merta, tetapi melalui suatu proses pemahaman yang berlangsung terus menerus sepanjang kehidupan.

Memiliki kecerdasan spiritual ibarat suatu anugrah dalam kehidupan serba materialis ini. Perjalanan untuk memperolehnya bagaikan kuliah ribuan sks, dengan jenis P atau L (praktikkum atau lapangan). Setiap topik pun ada yang lulus ada juga yang harus ujian her (ulang). Yang jelas seluruh sks harus ditempuh, dan sks nya juga tidak dapat dipastikan jumlahnya.

Itu pemahaman juadul (jaman dulu). Jaman sekarang kecerdasan spiritual dapat dicapai secara instant. Baik cara manual maupun cara teknologi tinggi, semua menawarkan kemudahan untuk mencapai kecerdasan spiritual. Cara teknologi tinggi dapat dilakukan dengan mendengarkan musik-musik generator gelombang alfa otak. Cara ini di Indonesia dikembangkan oleh Erbe Sentanu. Kunjungi saja situsnya http://katahatiinstitute.com, atau http://digitalprayers.com. Kalau ingin lebih serius ikuti saja pelatihannya, luar biasa.

Cara manual untuk memperoleh kecerdasan spiritual adalah dengan cara mengikuti ajaran-ajaran agama. Ritus tertentu dalam setiap aliran agama selalu berimbas pada terbitnya kecerdasan spiritual. Meditasi, sembahyang, salat, yoga, dzikir semuanya membantu seseorang terarah ke pencapaian kecerdasan spiritual.

Kemudahan cara manual ternyata terletak pada mind-set. Selama ini kita sering mengatakan rileks itu sulit, atau kalau orang bergama islam mengatakan shalat khusu' itu susah. Padahal jika kita dapat mengubah mind set bahwa khusu' itu mudah, semua juga mudah. Persepsi tentang sulitnya shalat khusu' ini berakibat, ritual keagamaan menjadi semacam ritual tanpa makna apapun. Kalau kata ustadz, sekedar menggugurkan kewajiban.

Untuk yang beragama Islam silakan download petunjuk shalat khusu' yang mudah di link ini . Garansi 100 %, jika dibaca dan dipraktikkan pasti bisa. Kalau sudah bisa tinggal tunggu kuliah berikutnya di perjalanan spiritual yang lain.

Para manajer atau calon manajer seharusnya memiliki kecerdasan spiritual ini. Pengambilan keputusan penting pasti menimbulkan beban tersendiri, apalagi jika merugikan orang lain. Padahal pengambilan keputusan itu wajib. Jika tidak ada pengambilan keputusan, bisnis tidak berjalan. Apapun hasil keputusan yang kita buat jangan sampai merugikan orang lain dan paling tidak jangan sampai membuat kita tidak dapat tidur berhari-hari karenanya.

Selamat mencoba. Kelas kecerdasan spiritual sudah dibuka. Tinggal kita mau registrasi atau tidak, itu urusan kita sendiri. Jika ingin ikut kuliah ya silakan registrasi dan isi kartu rencana studinya ya.


Read more!

Thursday, October 23, 2008

Digital Learning

Oleh: Wastu Adi Mulyono

Kuliah di jaman serba digital dan berwacana global menuntut kita untuk beradaptasi secara khusus, terutama untuk orang-orang yang terlanjur melabel dirinya gaptek (gagap teknologi). Harus ada (beli) laptop, padahal tidak mengerti sama sekali apa itu spec. Materi kuliah harus di download dari situs/blog dosen padahal tahunya cuma www.google.com., itupun dari tulisan di perut bus kota. Presentasi selalu menggunakan lcd proyektor. Belum lagi dengan pendekatan student centered learning, semua harus dicari oleh mahasiswa sendiri termasuk bahan-bahan kuliah.

Perjalanan beradaptasi juga tidak lepas dari godaan syetan. Bagaimana tidak tergoda, jika sudah bersemangat ingin menjelajah internet, eh... sinyal hotspot down, atau kalau tidak jaringan sedang down, atau kadang masalah ada pada laptop sendiri, setting prokxy diutak atik anak, macet dah!! Mau minta tolong Mr. IT lagi sibuk. Waduh bagaimana nih. Eh... memang setan diturunkan untuk menggoda manusia, salah seorang teman mendapatkan warisan dari senior. Nah... momentum yang sangat tepat dan menggiurkan. Kalau tidak banyak berdzikir dan sudah putus asa (tahap depresi) pasti lah akan diikuti jalan syetan.

Berkaitan dengan hal tersebut ada baiknya saya berbagi pengalaman. Bukan berarti pengalaman saya sangat banyak tetapi ada sedikit yang perlu untuk dibagi-bagi. Terutama kalau ingin mencari file-file pdf atau e book yang bermanfaat.

Kalau kita coba ketik di mesin pencari google frasa "pdf search engine" akan kita dapatkan banyak sekali yang tersedia. Cobalah untuk memilih salah satu. Saya coba yang paling atas yaitu www.pdf-search-engine.com. Jika sudah masuk ke situs tersebut ketikkan saja keyword yang diinginkan, pasti akan tersedia banyak sekali link. Tinggal klik saja salah satu.

Untuk mahasiswa UI sebaiknya sering-seringlah kunjungi http://lib.ui.ac.id. Ikuti terus perkembangannya setiap saat terutama saat sinyal hotspot penuh. Jika Anda beruntung akan dapatkan artikel-artikel up to date yang free.Simpan dengan baik, termasuk sumbernya. Ingat prinsip KAIZEN ya.

Selain itu saya juga mencoba menyimpan slide-slide yang digunakan dosen atas ijin beliau. Jika ingin download silakan saja kunjungi http://nurseconsultant.blogspot.com klik link koleksi slide. Atau langsung http://www.esnips.com/web/NursingEd . Jika Ada yang memiliki soft kopi slide juga dapat melakukan hal yang sama, atau dapat juga saya bantu upload nya.

Selamat belajar. Cepatlah sampai pada fase Resolusi, jangan fase depresinya diperpanjang.


Read more!

Tuesday, October 21, 2008

Sindrom Kembali Sekolah

Oleh: Wastu Adi Mulyono

Belajar seumur hidup adalah tuntutan suatu profesi. Artinya tidak ada kata "mandheg" dalam dunia profesi. Demikian juga profesi perawat. Sekali memilih perawat sebagai jalan hidup, mestinya tidak ada lagi pilihan kata berhenti belajar. Belajar yang dimaksud dapat melalui pelatihan, kursus, termasuk juga sekolah. Yang akan saya sampaikan pada posting ini adalah belajar lagi di bangku sekolah.

Hal terpenting untuk perawat berkerja yang sekolah lagi adalah menyadari adanya sindrom kembali sekolah "Shane's Returning to School Syndrom". Sindrom ini kurang lebih terdiri dari 3 tahap. Tahap pertama tahap bulan madu kemudian tahap konflik dan terakhir tahap reintegrasi. Setiap orang pasti mengalami tahapan ini baik disadari maupun tanpa disadari.

Tahap bulan madu dimulai ketika seorang diterima di sekolah yang diinginkan. Maka senyum pun mengembang. Pamer ke sejawat, membusungkan dada, seolah-olah berkata " ini lho saya masih mampu sekolah." Rasa bangga, lega dan senang bercampur aduk menjadi satu pada tahap ini.

Tahap kedua adalah tahap depresi. Terjadi ketika seorang yang sekolah mulai kewalahan antara tugas pekerjaan dan tugas sekolah. Konflik dengan teman sekelas, sejawat di kantor, keluarga bahkan atasan memenuhi tahapan ini. Tekanan yang terus menerus menuntuk penggunaan energi yang berlebihan. Semua sumber daya seolah-oleh terkuras habis. Hal ini akhirnya membawa seseorang menjadi apatis atau sebaliknya menjadi lebih dewasa dan maju.

Tahap ketiga adalah tahap resolusi. Pilihan adaptasi yang selama tahap ketiga digunakan semakin mantap dipakai. Yang apatis kuliah asal-asal saja, mengerjakan yang dibutuhkan. Yang lain menjadi lebih tertantang, berpikir positif dan mengambil setiap peristiwa seb agai proses pematangan. Atau malah gagal tidak melanjutkan pendidikan, kembali ke lapangan dan menjadi penghambat perkembangan serta troubel maker.

Setiap orang bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Pilihan resolusi mana yang akan digunakan adalah merdeka untuk dipilih. Sarang saya meskipun kita gagal dalam beradaptasi pada saat ini, segeralah melakukan restrukturisasi cara berpikir agar kita tidak menjadi penghambat perkembangan di institusi kita atau menjadi kelompok laggard dalam distribusi perawat indonesia.

Tertarik untuk membaca lebih banyak, baca buku Conceptual Bases of Profesional Nursing karya Susan Leddy dan J Mae Pepper tahun 1993.


Read more!

Pengumuman!

Bagi Anda yang ingin memberi komentar pada tulisan di Blog Perawat Manajer Indonesia ini, tapi tidak mempunyai user id atau member Blogger.com, dapat menggunakan Anonymous user. Anda tinggal klik pada check list anonymous user sebelum komentar dipublish. Kalau ingin dikenali tinggal tuliskan saja nama Anda di dalam komentar.