Cari di Google

Google

iklan di sini

Wednesday, February 20, 2008

Melihat apa yang dipikirkan

Oleh: Wastu Adi Mulyono

"Melihat apa yang kita pikirkan." Kalimat ini mungkin sangat puitis dan penuh filosofis bagi Anda. Yah memang begitulah! Kalimat itu saya kutip dari pernyataan salah seorang tamu kalau tidak salah Dimas, di acara Kick Andi di Metro TV "DENGAN HATI MELIHAT DUNIA" yang ditayangkan Kamis, 14 Februari 2008 dan Minggu 17 Pebruari 2008.

Episode kali ini menampilkan rekan-rekan tunanetra yang mengenyampingkan segala keterbatasannya dan berhasil membuktikan eksistensi mereka melalui kreatifitas. Pernah tidak, Anda bayangkan seorang tunanetra bisa membuat halaman web? Nah! itulah yang terjadi. Kunjungi saja Kartunet.com untuk melihatnya.

Menonton acara ini, seolah-olah saya mendapatkan pencerahan baru. Betapa kerdilnya saya yang dengan segala kelebihan yang diberikan Allah, masih banyak mengeluh dan menyia-nyiakan waktu. Dan barangkali saya tidak sendirian. Setiap kali kita mendengar alasan klasik ketika akan membuat suatu tindakan atau hal-hal yang lebih maju. Anda pasti sudah sering mendengarnya, yaitu, "Tidak ada Anggaran, kurang tenaga, kurang SDM berkualitas, Banjir ini karena alam, sehingga kita tidak dapat melawan bencana alam."

Nah begitulah ceritanya. Keterbatasan ternyata tidak menghalangi orang untuk berkreatifitas. Selama pikiran dan niat berisi hal-hal yang baik, pasti ada caranya. Lha wong niat jahat, mau korupsi saja, selalu ada ide untuk mencari celah peraturan dan pelaporan yang ada kok! Iya kan? Tetapi, saya tidak menyarankan cari akal untuk korupsi lho.

Yang perlu dicontoh di sini adalah, bahwa kita dapat melakukan sesuatu yang tidak pernah terbayangkan oleh orang lain. Kita punya 99% potensi otak yang belum terpakai. Jangan biarkan myelin menipis dan syaraf otak tidak berkembang. Kita perlu stimulasi yang terus menerus. Jangan istirahat terlalu lama setelah mencapai sesuatu. Nanti terjadi seperti dalam kontraksi otot, kalau terlalu lama istirahat, menyebabkan perangsangannya menjadi harus lebih besar lagi energi yang dibutuhkan. Selain itu juga jangan terlalu kelelahan, dalam fisiologi kontraksi otot nanti bisa terjadi tetani (kejang/kram).

Keterbatasan bukan sebuah alasan. Seperti yang saya dengar hari ini, seorang teman sejawat mengatakan, "Kita ini kekurangan tenaga!" Padahal setelah dihitung dengan rumus kebutuhan tenaga kok sudah cukup ya? Seringkali ini terjadi pada kita para perawat (Ners) bukan? Mungkin kita memang kelelahan, tapi mungkin juga karena manajemen tugas yang tidak tepat. Buktinya masih banyak perawat yang pulang dari dinas di RS satu dilanjutkan ke RS yang lain. Atau karena Anda didholimi oleh manajemen? Hal itu semua tetap harus diatasi dengan melihat apa yang kita pikirkan, bukan memikirkan apa yang kita lihat. Dengan demikian kita dapat mengambil inisiatif perubahan baik dalam diri kita sendiri, partner kerja, atau atasan Anda.

Mari kita mulai melihat dunia dan melihat apa yang kita pikirkan.

No comments:

Pengumuman!

Bagi Anda yang ingin memberi komentar pada tulisan di Blog Perawat Manajer Indonesia ini, tapi tidak mempunyai user id atau member Blogger.com, dapat menggunakan Anonymous user. Anda tinggal klik pada check list anonymous user sebelum komentar dipublish. Kalau ingin dikenali tinggal tuliskan saja nama Anda di dalam komentar.