Oleh: Wastu Adi Mulyono, S.Kp.
Komputer sudah di password, antivirus sudah diupdate , tapi kok masih juga bisa ditembus ya? Barangkali itu sebagian pertanyaan yang selalu muncul dalam benak kita setiap kali kita terganggu dengan virus komputer. Kok bisa ya para pencuri atau pembuat virus itu menembus segala macam proteksi? Kreatif sekali mereka?
Kreatif itu merupakan kata sifat yang menunjukkan seseorang mampu mengkreasikan (create) sesuatu. Sifat kreatif tidak lahir dengan sendirinya. Sejak bayi kita sudah belajar kreatif. Lihat saja bagaimana bayi mencoba menemukan puting susu ibunya, atau anak kecil yang tidak bisa menjawab pertanyaan gurunya kemudian mencontek (baca melirik) jawaban temannya. Proses belajar terus menerus.
Pernah saya baca buku yang saya lupa sama sekali buku apa itu, mengajarkan supaya kita terus menulis apapun yang ada di benak kita ke dalam kertas. Lambat laun kita akan dapat merangkai kalimat indah atau lagu yang melegenda. Kita memang harus terus belajar.
Pada dasarnya kita sudah memiliki gagasan yang heboh, hanya saja begitu tiba waktu untuk menuangkannya ke dalam suatu karya yang aktual, kita macet di tengah jalan. Semua ini terjadi karena derasnya aliran ide yang akan keluar, sementara lubang kreasi kita masih sempit. Pernahkah Anda lepaskan balon yang sudah ditiup? Balon akan bergerak kemana-mana tak tentu arah, karena ingin melepaskan sumbatan itu. Begitu juga dengan ide, jika sudah ada jalan keluar yang lebar pasti akan keluar dengan deras. Permasalahannya adalah bagaimana membuat jalan tersebut menjadi lebar, atau mencegah aliran ide yang meluap-luap sehingga menekan pintu keluarnya.
Nah, mulai dari sini kita belajar dari seorang penjahat. Penjahat sebenarnya juga tidak semudah yang kita sangka dalam menemukan cara terbaik untuk membobol tembok keamanan. Dia belajar, mengamati, menguji dan mencoba. Terus menerus dilakukan dengan tetap fokus pada pertanyaan. "Bagaimana menembus dinding pengamanan ini?" Setelah melewatii berbagai langkah dan proses yang menjemukan, akhirnya dia berhasil juga.
Fokus pada masalah dan ulet adalah kunci utama keberhasilan. Penjahat besar selalu belajar sepanjang hayat dimana saja kapan saja. Bahkan ketika di penjara pun dia mendapatkan kuliah gratis bahkan bisa berbagi strategi. Itu kalau tidak ingin bertobat. Ingat berita pesta narkoba dalam sel penjara? Itu buah dari kreatifitas mereka mengamati dan mempelajari perilaku penjaga.
Melalui fokus pada masalah, para penjahat telah menyusun berbagai rencaja dari a sampai z. Rencana-rencana tersebut akan diperkuat dengan data hasil observasi langsung dan data skunder. Setelah melakukan pengujian berulang-ulang barulah aksi yang sebenarnya dilakukan. Pilihannya cuma ada 2, gagal atau berhasil.
Ketika kuliah di S1, seorang dosen pernah menggunakan metode debat 15 menit sebelum perkuliahan dimulai. Kelas akan dibagi menjadi 2 kubu, setuju atau tidak setuju terhadap permasalah yang dilemparkan. Kubu setuju tidak boleh mengeluarkan statemen yang tidak setuju atau ragu-ragu. Semua harus tegas di satu sisi. Demikian pula sebaliknya pada kubu yang lain. Ternyata setelah berpikir hanya di satu sisi saja, kita jadi kreatif untuk mencari alasan-alasan yang kuat yang bahkan tidak pernah terpikiran sebelumnya. Baik kubu setuju maupun tidak setuju tetap selalu menemukan jawaban untuk memperkuat pilihan mereka. Debat ditutup tanpa menarik simpul tengah, agar permasalahan terus mengambang dan hangat.
Bagaimana dengan perawat (ners)? Banyak hal yang kita kerjakan bukan merupakan tugas kita. Kita hanya menjadi kuli dari tenaga kesehatan lainnya, kemudian mendapatkan sebagian kecil dari pendapatan tenaga kesehatan yang kita bantu. Yes!! We just assist them! They call us assistant. Tahu artinya assistant/asisten? pembantu. Lalu mana slogan profesionalnya. Perawat adalah profesi?
Maaf bukan saya menafikan fakta bahwa kita butuh makan. Saya hanya membutuhkan sekepal nasi semangat kita semua. Fokus lagi pada profesionalisme. Bersatu padu mematuhi rencana dan platform PPNI. Katanya 2015 perawat Indonesia harus setara S1 (ners). Tetapi mengapa kita buka program yang lainnya? Kalau tidak bisa mematuhi, apa arti organisasi profesi PPNI, siapa saja anggotanya? apa kita masih termasuk anggotanya?
Ayolah contoh kreatifitas penjahat itu. Bagaimanapun tembok pengamanan pasti ada celah untuk ditembus. Kreatif. kreatif. Semua berhak untuk kreatif dan sukses. Kata Andrie Wongso, "Sukses adalah Hak!". Maka kita kejar hak kita.
Catatan:Anda merasa bingung membaca tulisan ini? Jangan teralalu dipikirkan, ini adalah salah satu bentuk usaha saya untuk membongkar sumbatan ide yang selama ini telah membatasi kreatifitas saya. Terimakasih atas perhatiannya.
Konsultasi Syariah Islam (KSI)
12 years ago
1 comment:
Bener, memang bener. Teruskan ya Pak. Saya tunggu buku yang terbit dari tulisan Bapak apa Mas saja yah.
Post a Comment