Cari di Google

Google

iklan di sini

Thursday, April 24, 2008

Praktik Keperawatan Profesional

Oleh: Wastu Adi Mulyono

Hari ini saya berkunjung ke tempat kerja lama saya. Maklumlah, kadang-kadang kita perlu bersilaturahmi dengan teman-teman lama. Selain sebagai obat kangen, silaturahmi selalu mendatangkan kebaikan dan gagasan-gagasan baru. Ya betul, silaturahmi membuat kita menjadi bagian dari perubahan dunia.

Silaturahmi, ternyata memang menyegarkan kembali semangat saya. Saya bisa bertemu dengan Bu Titin Suheri, yang menurut saya adalah orang yang punya tempat di hati seluruh perawat di Jawa Tengah ini. Beliau termasuk guru bagi saya. Melalui beliaulah saya punya semangat ingin belajar ke luar negeri, meskipun untuk saat ini belum dapat terwujud. Tetapi saya dengan optimis menyampaikan, 3 tahun lagi saya akan ambil doktor di luar negeri. Kita harus berani optimis -ini ucapan guru saya Pak Purdi, - sebagai murid saya tentu akan mengikutinya. Terus terang, saya langsung bersemangat lagi setelah ketemu beliau.

Kebaikan lainnya yang saya dapatkan adalah, keinginan seorang teman untuk membuka praktik keperawatan jiwa di Desa yang cukup terpencil di Cilacap. Meskipun jaraknya cukup dekat, tetapi karena lokasinya agak de dalam, kesannya ndeso sekali, makanya saya sebut saja terpencil. "Wow! luar biasa, ini peluang Bung!" kata saya dalam hati. Tetapi yang dirasakan teman saya adalah sebuah kebingungan. Mulainya dari mana?

Praktik keperawatan di kota besar, itu saya yakin 100 % laku. Senior-senior saya di Semarang, menurut berita Bu Titin, sudah punya SIPP, buka praktik dan laku. Nah kan! Semarang saja sudah laku, apalagi di Jakarta, Surabaya atau Medan yang lebih besar? Pasti lakunya. Tinggal kita buka saja, promosikan, layani yang datang. Beres, praktik profesional sudah berjalan bukan?Praktik keperawatan di daerah terpencil? Sama saja. Tinggal buka, promosikan, yang datang dilayani. Sudah, kita sudah melakukan praktik keperawatan? Mudah Bukan. Apanya yang sulit, jadi lakukan saja.

Lha terus, apa mereka sanggup membayar? Nah ini dia. Kita mau praktik apa mau bisnis? kok minta bayaran. Praktik, ya praktik saja. Praktikkan ilmu keperawatan, metodologi keperawatan, bantu pasien mengelola responnya, itulah praktik keperawatan. Bukan sanggup atau tidaknya orang membayar. Lha, kalau begitu tidak profesional dong? O.. jadi kalau profesional itu harus dibayar tho! Baru tahu saya. Kalau itu yang dimaksud, berarti itu menjual jasa pelayanan keperawatan profesional. Ini soal lain.

Menjual jasa berarti, berkaitan dengan pembeli. Pembeli berhak menukarkan uangnya dengan siapa saja atau apa saja yang dia inginkan. Oleh karena itu, Mbah saya selalu menyapa pembeli di Pasar dengan sebutan "Den..", meskipun mereka tidak memiliki gelar Raden Mas dll. Kata Si Mbah, yang dipanggil Den itu uangnya. Ah.. bisa saja Si Mbah ini. Janganlah kita mengira orang desa itu miskin atau bodoh. Mereka sebenarnya memiliki aset yang luar biasa banyaknya, hanya karena uang yang beredar di desa lebih sedikit saja, yang menyebabkan mereka enggan membelanjakan uang yang dimiliki. Padahal sebenarnya mereka sangat kaya. Jadi soal membeli jasa pelayanan keperawatan itu bukan hal yang sulit, keciiil. Mau buktinya! Saya ceritakan saja di desa asal saya.

Desa kelahiran saya terletak di kaki Gunung Semeru, masuk daerah bahaya III letusan. Dua puluh tahun yang lalu, ketika harga lemari es masih mahal, Mereka mampu membeli lemari es, meskipun di rumah tidak ada listrik. Mereka membeli lemari es karena bagus bentuknya. Tetapi karena tidak ada listrik, lemari es tersebut akhirnya digunakan sebagai lemari pakaian. Nah, siapa yang tidak kaya? lemari es yang harganya selangit itu, dipakai untuk menyimpan pakaian kumal yang baru kering setleh dicuci di kali. Hanya orang kaya yang mampu berbuat demikian, bukan?

Kebanyakan dari kita, sudah mikir bayaran sebelum bekerja. Katanya profesional, kok belum bekerja sudah tanya bayarannya. Hebohnya lagi, buka saja belum, sudah berdebat soal BEP (Break event point) atau titik impas -ini juga dicuplik dari pak Purdi- Pembayaran, dan berapa klien mau bayar, tergantung bagaimana nilai pelayanan kita pada klien. Nah kalau belum lagi dikerjakan terus minta bayaran, dari mana mengukurnya.

Orang yang tinggal di desa, biasanya membayar mahal untuk yang berbau kekeluargaan. Nggak percaya? Coba saja lihat, ketiga kerjabakti. Yang dikerjakan berapa meter, yang kerja berapa orang. Hebonya lagi konsumsinya itu lho, banyaaak banget! Nah, betul kan. Bisnis di desa, ya dibuat saja secara kekeluargaan. Bayar pakai pisang ok, padi juga OK. Dibayar nunggu panen juga OK. Tetapi, mereka sudah pasti membayar.

Jadi pelayanan apapun, dimanapun, oleh siapapun pasti ada nilainya. Nilainya dapat ditukar dengan uang, cek, barang, atau bahkan dengan hutang budi sampai mati. Pelayanan keperawatan profesional juga memiliki nilai yang dapat ditukar dengan apapun. Meskipun demikian sikap profesional tetap mewarnai pelayanan yang diberikan, berapapun nilai tukarnya. Model, metodologi, skill, dokumentasi sudah seharusnya tetap harus ditampilkan. Karena kita perawat (Ners) Profesional.


Untuk teman saya yang kebingungan tadi saya sarankan saja untuk membuka. Terima saja tawaran investor yang mau bekerja sama. Buat perjanjiannya, hak dan kewajiban masing-masing. Ada baiknya pasal perjanjian memuat pasal kemungkinan pembaharuan perjajian setiap 2 atau 3 tahun. Selanjutnya, buka saja praktik, pasang papan nama, publikasikan. Kemudian layani kien yang datang dengan baik. Saya yakin seratus persen, sebelum pulang mereka akan bertanya, "Berapa bayarnya, Pak?" Pada titik ini, pelayanan kita sudah ada nilainya. Tentukan sendiri. Saya yakin dengan seyakin-yakinnya (kaya' janji sama pacar saja), Anda sudah tahu jawabannya berdasarkan, sejarah kehidupan dan perhitungan Anda sendiri. Selamat praktik, sukses selalu menyertai kita.

24 comments:

Anonymous said...

Apakah bapak/ibu bisa membantu saya, siapa yg harus saya hubungi, kalau saya butuh seorang perawat jaga di rumah (pocokan) dikehendaki cowok, untuk merawat ayah saya yg sudah lansia di semarang?
Tks

HH

Anonymous said...

Mas, saya mau nanya dlm RUU Keperawatan (draft 19), BAB III,pasal 4d tentang Lingkup Praktek Keperawatan dikatakan bhw: “Memberikan pengobatan dan tindakan medik terbatas, pelayanan KB, imunisasi, pertolongan persalinan normal dan menulis permintaan obat/resep”:
1. Tindakan medis apa yg boleh perawat lakukan dan yg tidak boleh dilakukan ?
2. Apakah perawat mampu memberikan pertolongan persalinan normal ?
3. Apakah perawat bisa menulis resep obat ?
Contoh kasus begini :
Seorang ibu hamil primipara aterm 9 bln datang ke tempat praktek perawat mandiri dgn keluhan sakit perut hebat dan muntah2 setelah makan ikan laut.
Bagaimana kita perawat mau melaksanakan ilmu keperawatan terhadap kasus tersebut ?
-tindakan medis apa yg bisa perawat lakukan ?
-seandainya ibu tersebut mau melahirkan apakah boleh kita lakukan persalinan yg kita sendiri blm yakin ini mau melahirkan atau keracunan
-andaikan kita anggap keracunan, apakah kita boleh memberikan resep obat pd ibu tersebut ? terus obatnya apa yg mau kita resepkan ?
-Kesimpulannya apa yg sebenarnya perawat bisa lakukan terhadap ibu tersebut bila datang ke tempat praktek perawat mandiri ?
Terakhir,apakah kita perawat sudah siap buka praktek ? seperti sudahkah kita perawat trampil dan cekatan melakukan persalinan normal ? apakah kita perawat sudah mampu memberikan obat via resep yg kita tulis ?
apakah semua perawat sudah mampu melakukan pengkajian fisik dan menyimpulkannya secara tepat dlm diagnosa keperawatan kita ?
Dan andaikan kita perawat tidak cekatan dlm melakukan persalinan normal yg menyebabkan bayinya meninggal, kita kena tuntut ga’ ?
Dan andaikan kita salah memberikan obat yg mengakibatkan ibunya pingsan atau bayi dlm perutnya meninggal,bisa dituntut ga’ kita perawat yg praktek itu ?
Tolong donk mas gimana pendapatnya.

Anonymous said...

Sudahkah perawat siap buka praktek perawat mandiri nya di tinjau dari sudut hukum ?
Coba kita simak keterangan hukum dibawah ini sebagai tanggapan lanjutan ‘saksi ahli’ di atas dari profesi keperawatan di pengadilan.

Berdasarkan UU No 8 Tahun 1981 Menurut KUHAP

Keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan. Baik pendapat maupun rekaan, yang diperoleh dari hasil pemikiran saja, bukan merupakan keterangan ahli.

Coba kita analisis ayat demi ayat berikut ini:

Menurut Rancangan UU RI No 20 Tentang Praktik Keperawatan

Pada Bab I pasal 1 tentang ketentuan umum dikatakan pada ayat 6-10

(6)Perawat vokasional adalah seseorang yang telah lulus pendidikan Diploma III Keperawatan dan Sekolah Perawat Kesehatan yang terakreditasi dan diakui oleh pejabat yang berwenang.

(7)Perawat profesional adalah seseorang yang lulus dari pendidikan tinggi keperawatan dan terakreditasi, terdiri dari ners generalis, ners spesialis dan ners konsultan.

(8)Ners generalis adalah seseorang yang telah menyelesaikan program pendidikan Ners.

(9)Ners Spesialis adalah seseorang yang telah menyelesaikan program pendidikan spesialis keperawatan 1.

(10) Ners Konsultan adalah seseorang yang telah menyelesaikan program pendidikan spesialis keperawatan 2.
Pertanyaannya:
1.Di Indonesia ini siapa saja perawat yang ners spesialis dan ners konsultan ?
2.Apakah sudah banyak dan tersebar keberadaan ners spesialis dan konsultan ini bila diperlukan dalam ’saksi ahli’ di pengadilan dimana perawat dituntut malpraktek dalam praktek perawat mandirinya ?
3.Tidak dijelaskan secara terperinci ners spesialis apa dan konsultan apa sehingga hal ini dapat diragukan keterangannya sebagai ’saksi ahli’ ? Misalnya, pada kasus diatas, apa ada ners spesialis OBGYN atau ners konsultan ortopedi yg dapat diminta keterangannya sehubungan dg adanya tindakan perawat yg menyebabkan kerugian pada klien/pasien saat memberikan pertolongan persalinan normal di tempat praktek perawat mandirinya ?
Mudah-mudahan ini suatu ide atau masukkan buat teman-teman perawat.

ian-sh

Anonymous said...

mohon komentarnya ada iklan seperti ini :
KLINIK KEPERAWATAN ‘MANDIRI CARE’

Buka setiap hari : Senin - minggu, kecuali hari kamis dan libur hari besar
Jam buka : pukul 16.00 - 22.00
Pelayanan : Praktek Keperawatan (Konsultasi keperawatan), Home care dll, Akupuntur, Thibbun nabawi, pengobatan herbal (produk HPA), Becam, Kiropraktik
Alamat : Jl.Kenari II No.134 Kenari, Jakarta Pusat
Telp : 081384040208, 021-70829702
1. Apakah hal tersebut sudah tepat dan sesuai dengan hukum bagi perawat yang membuka praktek layaknya seorang dokter ? Memberikan terapi dan tindakan medis tanpa kolaborasi ?
2. Apakah sesuai dengan kewenangan perawat ?
3. Bagaimana tanggung jawabnya bila terjadi korban akibat tindakan malpraktek keperawatan tersebut ?
4.Apa ini yg dimaksud dg praktik keperawatan profesional ?
5. Apa sudah ada standar kompetensinya buat praktek ?
Terima Kasih

Anonymous said...

Ditujukan pada Ns. Daenk,SKep di samarinda:
Perawat tahun 70 berbeda dg tahun 80, 90,2000 dan 2008,terutama skillnya. Pada tahun 70, seorang perawat itu skillnya banyak dan hebat serta menguasai hampir semua bidang,namun perawat tamatan 1990-2008 skillnya minim sekali cuma bisa nyuntik,ganti perban dan kadang2 pasang infus. Perawat tamatan D3 skillnya beda dg S1 reguler dari SMA soal ketrampilan kliniknya, namun ilmu-nya juga kurang walaupun sudah sarjana, sedangkan perawat itu tidak dilihat degree-nya tapi skillnya, karena itu wajar kalau orang memandang rendah perawat, apanya yg mau dipuji atau dikasih honor ? Makin tinggi skill perawat tentu makin tinggi jasanya bukan ilmunya dan contohnya perawat di LN, mereka tidak ada istilah sarjana keperawatan tapi konsil keperawatan atas reward skill yg dimilikkinya. Jadi buat pak daenk anda itu termasuk perawat yg dusun semua dikerjakan dg terpaksa bukan anda itu perawat yg ahli terus dikatakan pintar juga tidak,dikatakan punya skill juga tidak, sebab masalahnya di dusun itu sumber daya manusianya minim tidak mengerti dg kesehatan apalagi hukum, nah kalau anda dikota,jangan coba2 hanya dg perawat bisa melakukan tindakan sirkumsisi karena ada hukumnya dan anda bisa dituntut bila terjadi kesalahan oleh karena dikota besar tindakan sirkumsisi tidak bisa dilakukan oleh perawat, saran saya anda banyak2 baca dan ikut pelatihan2 buat input neurokorteks anda agar skill dan ilmu anda sebagai 'perawat dusun' tidak ketinggalan informasi dan jangan gunakan korteks mamalia dan reptil anda dalam praktek perawat, karena objek perawat itu adalah MANUSIA sama dengan anda dan bukan BINATANG yg semau anda saja perlakukan sebagai uji coba ilmu perawat anda.

Anonymous said...

Dunia perawat carut marut dan hal tersebut berkaitan dg banyaknya jumlah S1 keperawatan yang tugasnya banyak menjadi dosen ketimbang tenaga kesehatan di rumah sakit. Hal inilah yang menurunkan citra dunia keperawatan oleh karena kebanyakan para skep tersebut tidak saja terlalu banyak berteori namun juga banyak tuntutan. Kita tahu bahwa perawat itu suatu profesi yang sangat memerlukan ketrampilan klinik ketimbang menabung ‘teori’. Sehingga banyaknya tenaga skep menurunkan “SKILL” perawat yang terjun ke dunia klinik. Dan fakta ini sangat erat sekali dengan banyaknya tenaga skep yang tidak mau terjun menjadi perawat yg mau belajar untuk menambah ketrampilan kliniknya. Banyak mereka yg skep maunya kalau kerja menjadi BOS tidak mau terjun ke bawah dan bisanya cuma cuap2 alias ber-teori saja. Inilah yg menurunkan martabat perawat dimata masyarakat bahwa perawat S1 itu banyak yg tidak bisa apa2 selain banyak tuntutan

Anonymous said...

saatnya para praktisi Ners keperawatan untuk mengaplikasikan ilmu yang dah didapat,untuk membuktikan bahwa tingkat pendidikan memang beda(bukan berteori n cuap2)ayo kaji sistem pelayanan yang ada sekarang bila perlu libatkan kalangan akademisi untuk membuktikan teor,dengan tujuan akhir untuk kepuasan pasen dan keluarganya(pelanggan) dan yang tak kalah penting adalah kepuasan kita perawat sebagai profesional, jika itu tak dibenahi saya yakin kejenuhan akan menimpa kalangan profesi perawat khususnya yang dah menempuh pendidikan tinggi dengan biaya tak sedikit, yang ujung-ujngnya para sarjana keperawtan loncat jadi dosen n pejabat yang lebih prestisius?????? bukankah kita memasuki jenjang perguruan tinggi keperawatan kepengin jadi perawat profesional? jika semua pengin loncat kapan dunia keperawatan akan eksis!!! ayo kita tunggu karyamu

Anonymous said...

Komentar ttg Mandiri care:
Keadaan sekarang n emang nyata praktek murni keperawatan msh belum diakui/dihargai oleh masyarakat(jk ada aku ucapkan hebat)sedang sahabat kita menghadapi realita hidup dikota metropolitan ha ha bayangin, dimana jika sahabat kita mungkin nunggu UU Keperawatn yg memuat peningkatan Kesejahteraan profesi masih nihil (konon di ruu kep.tak termaktub, tdk seperti uu guru n dosen, kan jelas pasalnya ada)yg perlu diperhatikan yg penting yang bersangkutan mempunyai kopentensi dibidangnya n bersertifikasi seperti apa yang ditulis di papan praktek, makanya ayo kita pikirkan dan tindak lanjuti perjuangan kita, perkuat terus organisasi kita,kaji sistim pendidikan perawat yang ada di Indonesia, misal semua perawat harus melalui pendidikan S1, pedidikan diploma 3 stop, D4 diperuntukan teman kita yang dah terlanjur di D3 ok?

Anonymous said...

Buat renungan, jika masa depan perawat tidak ada kepastiannya,susah mencari pekerjaan, susah mendapat kesejahteraan hidup,tidak bisa berkreatifitas dalam menerapkan ilmu keperawatan,lantas timbul pertanyaan, kenapa anda bercita-cita menjadi "perawat" ? Apakah anda semua menjadikan profesi perawat itu sebagai bentuk mekanisme substitusi alias pelarian saja ?

Anonymous said...

membaca komentar-komentar di atas :
1. memang dasar hukum praktek belum ada, tapi its no problem sepanjang prakteknya jelas tetap praktek perawat (ruang lingkupnya ya perawat yang tau)
2. jgn sekedar karena mirip praktek dokter atau dukun lalu disebut malpraktek, coba pelajari betul definisi malpraktek !!
3. saya dukung perawat yang ingin dan telah berusaha untuk maju meski sering babak belur dikritik sana-sini dan juga menghadapi tantangan termasuk teror
4. TIDAK ADA sesuatu yang tiba-tiba menjadi sempurna, semua butuh proses, dalam proses sering terjadi gejolak dan itu wajar. Yang penting terus belajar dan memperbaiki diri (termasuk profesi) dalam setiap aspek : knowledge, skill, mental/attitude, and yuridis
5. hanya para PEJUANG SEJATI yang terus maju menghadapi tantangan, hanya PECUNDANG yang lari atau menyerah di bawah ketiak musuh / masalah

Anonymous said...

Definisi malpraktek keperawatan adalah “kelalaian dari
seseorang perawat untuk mempergunakan tingkat
kepandaian dan ilmu pengetahuan dalam merawat
pasien,atau melakukan tindakan medis yang lazim dipergunakan terhadap pasien atau orang yang terluka menurut ukuran dilingkungan yang sama” (Valentin v. La Society de Bienfaisance Mutuelle de Los Angelos, California, 1956).

Anonymous said...

Untuk malpraktek keperawatan secara hukum atau yuridical malpractice dibagi dalam 3
kategori sesuai bidang hukum yang dilanggar, yakni Criminal malpractice,Civil malpractice dan Administrative malpractice.
1. Criminal malpractice
Perbuatan seseorang dapat dimasukkan dalam kategori criminal
malpractice manakala perbuatan tersebut memenuhi rumusan delik pidana
yakni :
a. Perbuatan tersebut (positive act maupun negative act) merupakan
perbuatan tercela.
b. Dilakukan dengan sikap batin yang salah (mens rea) yang berupa
kesengajaan (intensional), kecerobohan (reklessness) atau kealpaan(negligence).
_ Criminal malpractice yang bersifat sengaja (intensional) misalnya
melakukan euthanasia (pasal 344 KUHP), membuka rahasia jabatan
(pasal 332 KUHP), membuat surat keterangan palsu (pasal 263
KUHP), melakukan aborsi tanpa indikasi medis, sirkumsisi,melakukan persalinan abnormal ( pasal 299 KUHP).
_ Criminal malpractice yang bersifat ceroboh (recklessness) misalnya Perawat melakukan tindakan medis tanpa persetujuan pasien dan tidak ada pendelegasian dari dokter (informed consent)
_ Criminal malpractice yang bersifat negligence (lalai) misalnya kurang
hati-hati mengakibatkan luka, cacat atau meninggalnya pasien,
Pertanggung jawaban didepan hukum pada criminal malpractice adalah
bersifat individual/personal dan oleh sebab itu tidak dapat dialihkan
kepada orang lain atau kepada rumah sakit/sarana kesehatan.

Anonymous said...

Setelah membaca keterangan lengkap tentang malpraktek keperawatan secara mendalam di atas lalu timbul pertanyaan, apakah anda sudah berani membuka praktek keperawatan ? Bagaimana anda membedakan praktek keperawatan dengan tindakan medis ? Apa contohnya ?

Anonymous said...

Ditujukan kepada perawat yg buka praktek tanpa izin dan dasar hukum yg jelas wajib membaca ini :
UU RI No.8 Thn.1999 Tentang Perlindungan Konsumen
B A B I KETENTUAN UMUM
Pasal 1:
1. Perlindungan kmonsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberikan perlindungan kepada konsumen.
2. Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.
5. Jasa adalah setiap layanan yang berbentuk pekerjaan atau prestasi yang disediakan bagi masyarakat untuk dimanfaatkan oleh konsumen.
9. Lembaga perlindungan konsumen Swadaya Masyarakat adalah lembaga non pemerintah yang terdaftar dan diakui oleh Pemerintah yang mempunyai kegiatan menangani perlindungan konsumen.

B A B III. HAK DAN KEWAJIBAN
Bagian Pertama
Hak dan Kewajiban Konsumen
Pasal 4
Hak Konsumen adalah :
a. hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan / atau jasa;
b. hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;
c. hak atas informasdi yang benar, jelas, dan jujur mengani kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;
DIREKTORAT JENDERAL PELAYANAN KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN
d. hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan;
e. hak untuk mendapatkan advokasi, perlinndungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;
f. hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
g. hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;
h. hak untuk mendapatkann kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;
i. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.
Tindakan praktek keperawatan anda yg dapat merugikan klien/pasien atau konsumen dapat menjerat anda secara hukum dikenakan sanksi pidana melalui UU Perlindungan Konsumen.
Mohon agar dapat diindahkan dan diperhatikan agar jangan sampai rakyat atau masyarakat yg dirugikan

Anonymous said...

Perawat tak bisa sembarangan buka praktek mandiri dg melakukan tindakan medis walaupun terbatas. UU No. 29 Tahun 2004 memuat sanksi pidana dan denda kepada siapapun yang menjalankan praktek kedokteran tetapi sebenarnya tidak berwenang. Sumber: Hukumonline.com

Anonymous said...

Sekedar mengingatkan bahwa sesuai dengan peraturan Pemerintah No 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan yang menegaskan perawat dan bidan melakukan pekerjaannya harus dibawah pengawasan dokter. "Akan tetapi jika terjadi penyimpangan dari pedoman yang telah ditetapkan dalam algoritma klinik yaitu dengan terjadinya malpraktek maka perawat dan bidan harus bertanggung jawab atas terjadinya malpraktek tersebut,"

Anonymous said...

Perawat yg terbukti memberikan pelayanan medis secara mandiri menyalahi Permenkes RI Nomor 512 / MENKES / PER / IV / 2007 dan dapat dituntut dan diberikan sanksi menurut delik pidana dan juga di denda.

Anonymous said...

Wahai "PEJUANG SEJATI" yg besar omong,mana komentarmu itu,tolong pelajari baik2 tentang hukum kesehatan ? Kalau mau cari rejeki silahkan saja namun jangan sampai menipu rakyat dan mengorban masyarakat hanya karena bernafsu ingin mencoba2 berkedok praktek keperawatan namun kenyataannya praktek kedokteran yg anda lakukan dg jasa seperti layaknya jasa dokter dan kami dari LSM Kesehatan akan selalu mengawasi PRAKTEK ANDA...!!!

Wastu Adi Mulyono said...

Wah memang praktik keperawatan banyak jadi perdebatan ya. Padahal belum dibuka saja sudah ditafsirkan macam-macam.

Kalau kita praktik keperawatan profesional mandiri, dasari dengan ilmu keperawatan itu sendiri. Memberikan resep, tindakan medis, memberi obat, itu hanya sebagian kecil layanan. Kalau hal tersebut masih dipertentangkan, pertanyaanya mengapa? Tabib, tukang supit, akupunturis, juga memberikan resep. Tapi resepnya pasti atas pengetahuan praktisi.

Dasar Hukum?
Ya kita berani praktik pasti berani juga di tuntut. tinggal kita dapat membedakan saja apakah itu kasus hukum atau etik.

Semua tinggal jalani saja. Sayang sekali semua komentar tampil anonymous. Meskipun banyak informasi yang didapat. Tapi diskusi jadi tidak tahu jluntrungnya.

Perawat belajar dari ilmu biomedis sampai antropologi. Praktik di semua tatanan pelayanan dengan target kompetensi yang diharapkan. Lihat saja kurikulumnya. Perawat spesialis maternitas juga harus menolong 100 persalinan normal jika ingin lulus? Masih kurang?

Wajar jika komentar bervariasi. Tapi perlu dipahami, jika ada kebutuhan pasti ada pelayanan. Jika ada peluang pasti ada tindakan. Cari uang hak siapapun, merugikan orang lain, tergantung ukuran moral masing-masing.

Saya pernah datang ke praktisi profesional, spesialis lagi kompeten. Dia cuma mengucapkan salam, menanyakan keluhan, terus memberi resep?

Saya juga pernah mengantar seorang ibu, datang ke praktik tenaga kesehatan yang legal, diperiksa, diberikan tindakan sesuai kompetensinya, tetapi saya lihat sebelah saya seorang lansia sesak napas datang minta obat pada praktisi tersebut dan itu bukan kewenangannhya, tetap diberikan obat.

Praktiklah perawat sesuai dengan kompetensimu. Jika masyarakat membutuhkanmu pasti mereka datang. Jika kamu merugikannya pasti dituntut. Ya siap saja. Hukum itu adil kok, dan Tuhan Maha Adil.

Wastu Adi Mulyono said...

Setiap praktik dimulai dari filosofi dasar, bentuk pelayanan, dan kewaspadaan.
Metodologi praktik keperawatan sudah jelas. Diagnosis keperawatan juga sudah jelas, Standar tindakan juga sudah jelas,Kurikulum pendidikan juga sudah jelas. Yang belum jelas cuma landasan hukumnya, supaya masyarakat terlindungi. Jika kita dapat menjalankan praktik keperawatan (bukan praktik/tindakan medis) dengan benar berbasiskan keilmuan keperawatan yang kuat, pasti ada evident base yang terekam dan terdokumentasi jelas. Dengan demikian wujud nyata praktik akan jelas, tinggal dikembangkan riset berikutnya. Sebagai LSM sangat mulia melindungi rakyat, tapi pernahkah terpikir untuk membantu rakyat dari sisi yang berbeda? Misalnya dengan membantu mendukung terealisasinya UU Praktik keperawatan? Undang-undang pada dasarnya untuk melindungi rakyat.
Kemarin kami menyelenggarakan seminar teori keperawatan sebagai dasar praktik keperawatan mandiri. Ini hanya sebagian langkah-langkah kecil agar praktik mandiri keperawatan terwujud tanpa merugikan siapapun.

priyanto said...

gak anonymous pak Wastu, kelihatannya orangnya sama dengan yang kasih coment di blognya pak nardi
chek link nya

Anonymous said...

Assalamualaikum...
Pak saya tertarik u/ membuka nursing center.Karena kebetulan diplbg blm ada.
Tp saya kesulitan dlm mengambil langkah krn tdk ada bimbingan dlm membuatny.Saya tidak tau harus kemana mengurus sik n sipp.
Mohon bantuanny.
Bisa bpk email saya di: Yunie_020485@yahoo.Com.Sg
atau ym : yunie_0204
atau fs yg emailny sama.
Thx b4

Anonymous said...

[url=http://www.ganar-dinero-ya.com][img]http://www.ganar-dinero-ya.com/ganardinero.jpg[/img][/url]
[b]La mejor web sobre ganar dinero[/b]
Hemos encontrado la mejor pagina web en internet de como ganar dinero internet. Como fue de interes para nosotros, tambien les puede ser de utilidad a ustedes. No son unicamente metodos de ganar dinero con su pagina web, hay todo tipo de metodos para ganar dinero en internet...
[b][url=http://www.ganar-dinero-ya.com][img]http://www.ganar-dinero-ya.com/dinero.jpg[/img][/url]Te recomendamos entrar a [url=http://www.ganar-dinero-ya.com/]Ganar-dinero-ya.com[/url][url=http://www.ganar-dinero-ya.com][img]http://www.ganar-dinero-ya.com/dinero.jpg[/img][/url][/b]

Anonymous said...

All nude celebrities [url=http://vladokranjec.typepad.com/blog/2010/07/hilary-duff-is-far-too-sexy--yes-hilary-duff-left-her-house-wearing-something-other-than-a-pilates-workout-outfit-i-love-it.html] naked video clips[/url] Naked celebrity

Pengumuman!

Bagi Anda yang ingin memberi komentar pada tulisan di Blog Perawat Manajer Indonesia ini, tapi tidak mempunyai user id atau member Blogger.com, dapat menggunakan Anonymous user. Anda tinggal klik pada check list anonymous user sebelum komentar dipublish. Kalau ingin dikenali tinggal tuliskan saja nama Anda di dalam komentar.