jks
Read more!
Blog ini saya dedikasikan untuk kemajuan keperawatan di Indonesia. Isinya berupa pemikiran-pemikiran pribadi dan idealisme yang tidak dapat diungkapkan langsung karena saya tidak pandai bicara.
oleh: Wastu Adi Mulyono Hasil sebuah pekerjaan sangat dipengaruhi oleh motiv yang mendasari orang yang melakukan pekerjaan tersebut. Motivasi sendiri dapat berasal dari dalam maupun dari luar dirinya. Yang jelas, motivasi yang berasal dari dalam adalah dorongan yang paling diharapkan oleh para pemberi pekerjaan. Motivasi internal ini berawal dari sebuah kesadaran terhadap makana pekerjaan tersebut bagi dirinya. Motif yang paling diidamkan adalah motif spiritual yang mendasari pekerjaan itu. Kita dapat melihat jejak para nabi. Mereka dengan kesadarannya yang murni berjuang, bekerja tanpa kenal lelah untuk memberikan pencerahan pada kaumnya. Atau juga para pekerja-pekerja kemanusiaan semacam ibu Theresa, Dalai Lama, Gandhi. Contoh terdekat adalah para pekerja-pekerja pelaku bisnis kecil dalam kereta, bis, di terminal. Mereka bekerja terus memutar roda perekonomian. Tanpa kenal lelah saling berbagi rezeki. Tukang siomay keliling dengan omzet ratusan ribu saja berbagi tugas dengan memberikan pekerjaan pada seorang janda tua untuk mencuci botol-botol bumbunya. Atau penjual pecel di OW Baturraden, mereka membagi pelanggan untuk dilayani teman yang belum dapat pembeli. Sungguh menakjubkan. Tulisan ini tidak ingin menggali apapun tentang mereka, hanya sekedar mencurahkan ilham ke dalam blog ini setelah macet hampir 2 tahun. Sekedar membuka bendungan pikiran, agar ide-ide mengalir lagi dan penyakit pikun ini sedikit demi sedikit menghilang. Sekedar membuka pintu tahu, bahwa kesadaran spiritual itu adalah motivasi yang tak akan pernah terpadamkan. Mimpi... barangkali. Setelah eforia pengesaah RUU keperawatan oleh DPR kemarin, apakah kita dapat kembali membangkitkan kesadaran spiritual untuk merawat manusia, bukan sekedar memoles dalam kegiaatan "entrepreneur" kita. Dapatkah kita mengelola klien kita dengan tanpa memikirkan jasa. Untunglah masih ada kabar baik. Kabar bahagianya adalah... riset-riset sederhana mahasiswa tentang spritualitas perawat di rumah sakit menggambarkan perawat memiliki kecerdasan emosional yang baik atau lebih baik lagi. Dengan demikian, perawat-perawat ini masih bisa diandalkan untuk bekerja ikhlas seperti jaman Florence. Yang perlu diwaspadai adalah, jika kemudian kecerdasan spritual ini hanya sebuah pencapaian individual yang langka, bukan produk pendidikan atau fasilitasi dari organisasi. Sebab, secara pribadi saya merasa belum mampu membuka ruang spiritual mahasiswa, atau mengisi ruang spiritual rekan kerja, apalagi menjadi bagian dari ruh organisasi. Sekali lagi ini hanya sebuah serpihan-serpihan gagasan yang mungkin tidak bermanfaat bagi Anda. Tetapi saya merasakan manfaatnya dengan jebolnya bendungan ide dalam memori otak yang sudah mulai harus di-defrag lagi secara rutin. baca satu dua tiga
Perawatan luka dapat dijadikan sebagai template (cetakan) praktik keperawatan yang lain. Perawatan luka sangat spesifik, dan mempunyai komunitas baik global, nasional maupun lokal. Kompetensi perawatan luka juga mengandung kompetensi yang berada pada area bersama antara medis dan keperawatan.
Praktik keperawatan yang diinginkan, berdasarkan percakapan pada pertemuan-pertemuan sebenarnya mirip dengan konsep Nurse Practitioner, yang ada di Amerika maupun Australia. Nurse practitioner merupakan pilihan karena keterbatasan keterjangkaun tenaga medis. Skill mix merupakan bentuk kompetensi medikal yang dapat dikerjakan secara khusus oleh perawat dengan batas-batas tertentu. Perawat bersertifikasi khusus dibutuhkan untuk menangani area ini. Sertifikasi ini merupakan bentuk pengakuan bahwa perawat pemegang sertifikasi telah memiliki kompetensi yang diperlukan.
Pola-pola pengendalian melalui standar kompetensi dan kredensial dapat digunakan untuk mengembangkan skill-skill perawatan lainnya.Pelayanan keperawatan tidak dapat dilakukan secara cepat seperti praktik diagnosis dalam praktik dokter. Pelayanan keperawatan berkaitan dengan waktu. Faktor waktu pelayanan yang sangat penting dalam praktik keperawatan ini menyebabkan praktik keperawatan spesifik/spesialistis lebih tepat. Praktik khusus ini akan memudahkan dalam penyediaan peralatan maupun perangkat untuk praktik, sekaligus standarisasi pelayanannya.
Area perawatan yang lain dapat dikaji dengan pola-pola seperti pada perawatan luka. Memisahkan skil-skill independen, kolaborasi, dan medikal. Mendirikan asosiasi (peer group) untuk mengkaji bersama dan membuat kompetensi yang diinginkan. Melakukan sounding dengan profesi lain yang berpotensi tumpang-tindih dengan profesi lain. Selanjutnya tingkatan keahlian dibuat secara sistematis. Kompetensi dan keahlian tersebut dibutuhkan sebagai dasar pertimbangan membuat continuing education maupun program sertifikasi.
Jadi praktik keperawatan luka hanya sebuah cetakan (template) untuk mengembangkan area keperawatan yang lain seperti perawatan anak, perawatan maternitas, perawatan medikal bedah, perawatan jiwa, perawatan komunitas, perawatan dasar, bahkan perawatan menjelang ajal.
Praktik mandiri keperawatan ini akan menjadi basis perkembangan perawatan dan regulasi keperawatan di Indonesia. Setelah praktik ini ada (ontologi), maka kita dapat menjelaskan (epistemiologi) dengan baik kalau ada yang bertanya. Peran dalam pembangunan (aksiologi) kesehatan juga semakin jelas. Metode (metodologi) pelayanannya juga semakin terukur. Demikian juga pengendaliannya (etik) dapat terkontrol melalui etik.
Bentuk inilah yang kemudian dilihat masyarakat. Pelayanannya diakui memberikan manfaat. Metodenya efektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Selanjutnya, UU Keperawatan bisa diajukan. Amandemen terhadap undang-undang kesehatan maupun kedokteran juga memungkinkan.
Oleh: Wastu Adi Mulyono, M.Kep.
Berapakan jumlah rumah sakit di Indonesia. Sejumlah rumah sakit tersebut mampu menampung berapa perawat. Perawat setingkat Ners menempati berapa persen dari kebutuhan tersebut? Apakah lulusan Ners cukup tertampung dalam formasi tersebut?
Berkutat dengan pertanyaan berputar-putar tersebut sungguh memusingkan. Tentu saja bagi para perawat dosen yang memiliki keprihatinan tinggi. Pusing memperhitungkan penyerapan anak didiknya di lapangan kerja. Para pemilik sekolah pusing lebih berlipat kali. Selain ancaman tidak terserapnya lulusan sumber pusing juga berasal dari minimnya input yang berkualitas, biaya proses pembelajaran (terutama klinik) yang mahal, dan tuntutan kesejahteraan staf dan karyawannya.
Beberapa sekolah beralasan dengan mengajukan fakta adanya kebutuhan tinggi keperawatan di luar negeri seperti Jepang dan Amerika. Sayang sekali program-program pendidikan tidak mengarahkan mencapai pasar tersebut. Kalaupun ada, program tersebut juga tidak sukses. Seorang pejabat dari departemen kesehatan dalam sebuah seminar mengatakan, bahwa dari seratus peserta pelatihan hanya tinggal 40 yang yang dapat meneruskan program. Keempatpuluh orang tersebut ketika dites user hanya dapat lolos 3 orang. Kemampuan berbahasa sering dijadikan alasan.
Dulu kami pernah berinvestasi besar dalam mengembangkan kemampuan berbahasa ini. Lembaga bahasa kita libatkan dalam pengembangan kemampuan ini. Hasilnya tetaplah nihil. Mahasiswa tidak termotivasi untuk belajar. Ketika ditanyakan keinginannya bekerja di luar negeri, mahasiswa tersebut yang kebanyakan adalah perempuan menyatakan tidak berminat. Mereka beralasan terlalu jauh, ingin menikah segera, tidak diijinkan orang tua (bisa juga pacar), dan biaya yang tidak mampu dijangkau.
Akar masalah sebenarnya bukan di bahasa atau yang saya sebutkan tadi. Akar masalahnya adalah mental dan karakter. Lingkungan dan kebiasaan telah membentuk mental submisif dan penuh ketakutan terhadap hal baru. Hal tersebut membentuk karakter yang lemah dan enggan menghadapi tantangan. Maka menjadi PNS pun bagaikan tujuan akhir yang patut ditunggu-tunggu dan diperjuangkan meski harus kehilangan banyak waktu dan uang untuk memperoleh jalan lulus. Setelah lulus...wush!! tiba-tiba kedisiplinan, semangat, dan idealisme hilang entah kemana.
Saya memiliki sudut pandang yang lain dalam menghadapi ini. Kita tidak bisa memaksa adik-adik itu pergi merantau, lha kita sendiri tidak pernah merantau jauh apalagi ke luar negeri. Kita bisa memulainya dengan menumbuhkan kesadaran untuk praktik mandiri. Praktik mandiri penuh tantangan, tapi tidak seberat untuk mengirim mereka ke luar negeri. Support mereka masih banyak dan mudah diperoleh. Migrasi ke luar negeri memang berat begitu cerita di Surinamem, maupun cerita tentang TKI kita di luar negeri sana.
Sebagian besar dari kita tentu paling banyak adalah early and late majority. Kelompok ini membutuhkan contoh dulu. Jangan berharap ada inovator. Kitalah para senior, dosen, pembimbing yang jadi inovator. Kita susun model, kita tumbuhkan iklim mentoring. Ini saya contoh dari Wocare Bogor lho.
Proses penciptaan sistem dan pemeliharaan iklim mentoring ini perlu biaya. Sudah layaklah hal itu dihargai dengan materi atau uang. Kita yang sudah terbiasa berwirausaha sangat memperhatikan ini. Tanpa perputaran modal, usaha mandeg dan rugi. Tantangan ini yang sering dianggap enteng oleh teman-teman non wirausahawan. Kebanyakan mereka berpikir cost oriented dengan dasar nilai keperawatan yang altruisme. Sebagai pembelajar entrepreneurship saya mengalami permasalahan shift nilai dari altruis ke komersialis ini. Sungguh amat berat.
Shift mental dari karyawanis menjadi wirausahis ini yang harus dibentuk. Contoh wirausaha untuk keperawatan ini sangatlah banyak. Kita tinggal malakukan saja. Sebagian besar dari perawat juga sudah melakukannya, sayang belum dikemas secara profesional. Seorang teman senior yang berpengalaman dalam hal ini pun memiliki kesan bahwa ketrampilan dan kemahirannya tidak dapat diajarkan. Hal ini karena metode mentoringnya yang kurang tepat sehingga ia merasakan kegagalan dalam suksesinya.
Melalui aktivitas senior yang membangun praktik mandiri dan membentuk sistem yang kuat, secara tidak langsung telah menjadi promotor pelayanan keperawatan. Pasar dapat mengenal bentuk pelayanan keperawatan itu apa (ontologis), bagaimana pelaksanaannya(epistemiologis), dan merasakan manfaatnya (axiologis). Secara tidak langsung pasar terbentuk. Langkah selanjutnya tinggal menciptakan pace maker (multiply factor) sehingga terjadi booming. Sebelum booming terjadi mentee kita sudah siap menangkap. Kalau tidak siap...maka tetap saja...kita kalah cepat...peluang ditangkap oleh yang lain. Jangan salahkan mereka.
Para junior yang sudah siap praktik juga jangan ditakut-takuti dengan UU dan mal praktik. Sudah selayaknya kita lindungi. Kalau perlu sediakan system frenchise (ritel) agar mereka terlindungi. Selain melindungi junior, kita juga akan punya tanggung jawab mengembangkan bisnis mereka karena menyangkut saham dan nana baik klinik milik kita.
Pasar perlu dikembangkan dan dipengaruhi. Pemasaran membutuhkan iklan. Iklam membutuhkan icon atau simbol-simbol. Kita butuh pelayanan mandiri keperawatan yang jadi icon, jadi mercusuar perkembangan keperawatan. Saya bermain-main dengan meramalkan ini terjadi 5 tahun lagi terutama di bidang wound dan holistic care. Wocare, Rumat, Holistic Care di Undip, sudah menjadi inovator. Mereka terus hidup dan inovatif. Saya kira pasar akan semakin merasakan kebutuhan ini. Dalam pameran kecil saya di Unsoed kemarin, banyak yang menanyakan tentang perawatan luka ini. Bahkan mahasiswa pun mulai tertarik. Semakin banyak simbol-simbol beredar di masyarakat semakin jelan bentuk pelayanan keperawatan.
Pasar perlu melihat pelayanan keperawatan. Perlu tahu wujud perlayanan keperawatan yang mandiri, baru mempertimbangkan kebutuhannya untuk membelinya. Pencitraan sangatlah penting. Jadi jangan sampai citra yang sudah dibangun teman-teman terus dihantam dengam isue lainnya, mari kita juga blow up. Semakin mandiri perawat, semakin merdeka organisasi profesi dalam memperjuangkan UU. Kebutuhan UU akan semakin dirasakan oleh masyarakat dan tentu saja oleh para wakilnya di DPR.
Pasar indonesia sangat potensial. Jika kita dapat kembangkan dan ambil pasar ini, perawat semakin sejahtera. Tidak perlu lah kita memperjuangkan ke luar negeri, lha para junior kita juga tidak menginginkan. Kita bangun dulu pasar dalam negeri. Kita kuasai agar tidak jatuh ke bentuk penjajahan baru. Kita ke luar negeri bukan untuk jadi majikan bukan? Kita dapat menjadi majikan di negeri sendiri, kalau sudah kuat,kita juga bisa jadi majikan di negeri orang. MERDEKA.
Oleh: Wastu Adi Mulyono, M.Kep.
Memperoleh gelar akademik bukan berarti kita profesional. Seorang profesional harus mengabdikan ilmunya pada masyarakat dan selalu memperbaharui kemampuannya melalui ujian-ujian yang akan terus mengasahnya sesuai dengan perkembangan jaman.
Lulus dalam suatu pendidikan atau suatu bentuk pelatihan/kursus yang berkaitan dengan profesionalitas tidak berarti seseorang selesai dari kewajiban untuk menjalankan ujian. Ujian seringkali menjadi "momok" karena posisi kita berada pada zona tidak nyaman. Seorang teruji selalu diposisikan inferior baik oleh teruji sendiri maupun kadang-kadang oleh penguji. Posisi inferior ini sebenarnya yang telah mengancam ego sehingga seringkali menolak jika akan diuji atau ada kebijakan ujian. Ujian mutlak diperlukan oleh seorang profesional untuk dapat mengukur kemampuannya.
Saya sering mendengar keluhan terhadap berbagai bentuk ujian yang berkaitan dengan kemampuan keperawatan. Berbagai alasan (meskipun belum pernah diteliti) antara lain:
1. Teruji merasa tingkat pendidikannya lebih tinggi dari yang diuji. Aneh memang jika penguji memiliki tingkat pendidikan lebih rendah. Tapi inilah yang sering terjadi pada dunia praktis. Orang yang praktik lebih terampil daripada orang sekolahan.
2. Hasil ujian tidak memberikan pengaruh pada posisi dan peran dalam lingkungan kerja. Alasan ini saya ketika seorang teman mengeluh terhadap ujian kompetensi perawat yang dilakukan di satu propinsi untuk memperoleh SIP. Kondisi ini terjadi ketika praktik tidak memberikan keuntungan ekonomi atau status sosial pada teruji setelah mengikuti ujian. Ujian atau tidak ujian posisi di ruang rawat sama saja. Jenjang karir fungsional yang belum terbentuk membuat campur-aduk peran ini. Seorang teman dari sebuah rumah sakit yang menerapkan jenjang karir fungsional dapat merasakan dampak jenjang karir terhadap ujian.
3. Persepsi teruji terhadap ujian itu sendiri. Beberapa waktu terakhir saya mengikuti suatu ujian profisiensi, untuk menguji kelayakan saya terhadap standar RN yang setara di 23 negara (begitu kata penyelenggara)yang diprakarsai BNSP dan LPRN. Teman-teman yang mengikuti ujian berasal Sulawesi, Kalimantan, Jawa, Sumatera Utara dan Aceh. Persepsi dan ekpektasi positif mereka telah mendorong untuk mengeluarkan dana ekstra hanya untuk mengikuti ujian ini. Saat mengikuti ujian, semua serius menjalankan, tidak ada contek mencontek, tengok kiri atau kanan seperti yang sering kita jumpai di kelas-kelas. Keseriusan untuk mengukur kelayakan diri sendiri ini lah yang memotivasi mengikuti ujian.
Alasan-alasan tanggapan terhadap ujian baik positif maupun negatif tersebut telah mendorong kita menjalankan atau tidak melakukan ujian. Apapun hasilnya, output yang ada adalah sebuah bentuk gelar, nilai, atau sebutan baru. Gelar atau sebutan tersebut memiliki konsekuensi terhadap peran dan tanggung jawab baru yang disandang. Peran di masyarakat tersebut akan menentukan karya apa yang kita hasilkan. Peran yang akan mewarnai perkembangan keperawatan di Indonesia.
Karya apapun yang kita buat tidak ada artinya jika tidak dikenal dan dimanfaatkan orang lain. Kita boleh saja merendah dengan jurus ikhlas bahwa kita mengabdi bukan untuk dikenal. Betul, kita mengabdi dengan ikhlas, tetapi bukan kita yang perlu dikenal tetapi karya kita yang perlu dikenal. Orang lain dapat mencontoh karya yang baik dan memperbaiki karya yang kurang baik. Tidak ada karya yang tidak baik, oleh karena itu tidak ada alasan untuk menolak untuk berkarya.
Mengenalkan karya dimulai dengan dokumentasi yang baik setiap aktivitas kita. Ilmu manajemen membantu kita dengan fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian. Karya yang terencana, terorganisasi, terarah, dan terkendali sudah pasti terdokumentasi. Karya yang terdokumentasi dengan baik akan mudah terpublikasi. Hal inilah yang akan membuat karya kita lebih bermanfaat.
Pendidikan,kursus, pelatihan, atau ujian sebenarnya hanya sebuah tonggak. Sebuat batu pertanda suatu momentum baru. Momentum yang menandai perubahan-perubahan pada diri kita. Kita perlu memperbanyak momentum perubahan agar hidup profesional kita menjadi dinamis. Hal ini bagaikan mewujudkan mekanisme kontraksi otot dimana kontraksi berikutnya dimulai sebelum kontraksi awal berakhir agar menghasilkan gerak yang optimal. Terlena dengan status baru sering menjadikan kita terlambat memulai hal baru dan berakibat berlu energi ekstra untuk memulai hal baru. Saya mengalaminya ketika harus mulai studi S2 ini setelah 10 tahun terlena oleh kenyamanan bekerja. Sungguh sangat berat mencocokkan konsep dan pola pikir saya sebelumnya dengan pola pikir yang telah berkembang. Sepuluh tahun terlalu lama untuk berdiam diri tanpa dinamika berada pada zona kenyamanan. Kita harus terus mengupdate hal hal baru, baik melalui pendidikan maupun ujian-ujian. Oleh karena itu saya sepakat dengan teman seminat di perawatan luka di CWCC Program yang harus mengikuti ujian ulang setiap 2 tahun.
Gelar baru peran baru dan perilaku baru, saya kira tepat untuk hal ini. Setiap peran menuntut perilaku. Tuntutan standar perilaku ini yang akan mendorong kita mengikuti dengan baik. Sepertinya kita perlu menyusun standar perilaku baru sesuai tuntutan peran kita. Perilaku tersebut adalah, belajar sepanjang hayat, melalui continuing education program apapun bentuknya. Selamat berkarya kembali, jangan lupa dokumentasi dan publikasi, sehingga peran kit memberi manfaat untuk sekitar kita. Kembali kita kembali ke misi awal dilahirkan, "MENJADI RAHMAT SEMESTA ALAM
Oleh: Wastu Adi Mulyono, S.Kp.,CWCC
Pelatihan Certified Wound Care Clinician Program di Wocare Bogor memberi oksigen lagi pada sel Perawat Profesional saya yang sudah mulai iskemi. Saya jadi memahami mengapa kita harus berbuat hal kecil tapi bermanfaat sambil menunggu perubahan paling fundamental UNDANG UNDANG KEPERAWATAN. Sungguh saya salut dengan teman teman di bagian Research and Development Wocare yang menjadi penggagas sekaligus penyelenggara CWCC Program.
Pelatihan ini memang "mahal" untuk ukuran kita perawat yang mengaku profesional tapi belum mampu menggantungkan hidup dari keperawatan sepenuhnya. Saya pun memang nekat untuk mengikuti pelatihan ini, apalagi banyak informasi simpang siur berkaitan dengan program ini. Penasaran saya semakin kuat dan tidak ada jalan lain untuk mengetahui dari asal muasal sumbernya, --ya seperti kata penelitian etnografi itulah--, saya harus mengikuti program ini dan terlibat di dalamnya, apapun yang terjadi.
Dugaan saya benar, informasi yang yang banyak beredar banyak biasnya dan tidak memperhatikan filosofi mendalam yang dicita-citakan para founder. Tujuan teman-teman yang terlibat dalam program ini sungguh mulia. Membangun profesionalisme perawat, praktik keperawatan, hubungan profesional, dan pengembangan riset dan pendidikan berkelanjutan. Langkah yang dilakukan memang menentang arus utama kebijakan keperawatan di Indonesia yang lebih membantuk struktur sistem yang kokoh, langkah yang dilakukan mereka lebih sederhana, bagaiman perawat dapat menghargai pekerjaannya dan masyarakat dapat menerima pekerjaan tersebut serta membayarnya sesuai dengan nilai jasa yang diterimanya.
CWWCC sendiri merupakan program split/pecahan dari WOCN (Wound Ostomy and Continence Nursing Program) yang hanya membutuhkan waktu 2 minggu. WOCN Program sendiri butuh waktu 3 bulan. Teman teman menyebutnya sebagai perawat 3 B (Borok, Berak dan Beser), sebuah wilayah pekerjaan yang sudah lama dihindari perawat seperti saya. Program split ini dapat dilanjutkan pada program split lainnya yaitu stoma dan continence untuk dapat sertifikasi WOCN komplit.
Belajar dari para pendiri, saya memperoleh kesadaran bahwa kita harus banyak berbuat agar perawat dirasakan "eksistensinya" (ontologi), disadari hubunganannya dalam sistem kesehatan (epistemiologi), dan diraskan manfaatnya (aksiologi), memiliki metode metode yang ketat untuk profesinya dan memiliki kode etik. Jika semua sudah nyata maka kebenaran keperawatan pasti diketahui (tujuan filsafat). Maka keperawatan profesional jadi lebih mudah untuk didefinisikan dalam undang-undang.
Saya dapat merasakan bagaimana para peserta sangat merindukan praktik mandiri keperawatan, terutama teman-teman yang tidak bernasib baik mampu meneruskan pendidikan ke Ners maupun spesialis. Sungguh hal ini mimpi yang sulit terjangkau bagi mereka. Saya jadi menyadari betapa egoisnya saya memaksa teman-teman ini sekolah sedangkan untuk membalikkan modalnya gak tahu berapa tahun sertifikat rumah akan dapat di tebus dari Bank atau rentenir lainnya.
Saya yang telah mengikuti training-training entrepreneurship dengan investasi ber jut jut itu, sempat menyesal juga mengapa tidak dari dulu saya ambil course ini, mengapa setelah mahal saya baru dapat akses untuk mengikuti pelatihan ini. Terakhir saya menyadari bahwa itu memang sebuah proses. Jika saya tidak dapat membalikkan MIND SET, dapat dipastikan pasti saya akan berpikir seperti kebanyakan orang meskipun saya mengikuti pelatihan ini.
Kata kuncinya adalah kesadaran bahwa kita adalah perawat profesional. Perawat profesional tahu kompetensinya, tanggung gugatnya, dan tahu harga dari jasa pelayanan yang diberikannya. Menghargai profesionalismenya sendiri sangat penting. Barangkali ini yang sulit untuk saya. Nilai altruisme yang tertanam dalam diri saya sangat kokoh mencengkeram nilai saya ketika sudah mulai menuntut bayaran. Apalagi klien kita adalah orang sakit yang sudah berinvestasi teramat banyak untuk membayar kesehatannya. Sungguh luar biasa membuat lambung hipersekresi.
Program ini telah menolong saya membuka kesadaran ini. Meskipun topiknya sederhana hanya Moist Dressing untuk luka, tapi membangun sistem profesionalya itu lho yang membuat saya paham. Kita harus banyak belajar dan bersatu. Membangun asosiasi yang kuat. Berbeda itu boleh saja, dan tidak perlu takut terpecah-pecah. Selama kita masih memiliki tujuan yang sama, artinya kita tidak terpecah-pecah.
Saya belajar banyak dari perawat 3 B ini. Saya akan segera bangun klinik sendiri, praktik sendiri. Semua jadi lebih mudah kalau kita mau bersama-sama belajar. Profesional itu ternyata bukan berasal dari kita, tapi bagaimana konsumen menilai kita. Jadi belajar terus, bersatu terus dalam continuing education. Mari berjuang lagi, selagi dapat oksigen baru dan tidak jadi Nekrosis, tapi langsung Granulasi dan maturasi.
Oleh: Wastu Adi Mulyono
Menunggu hasil revisi proposal tesis sambil browsing cari-cari software analisis butir soal di bawah payung di kampus Depok. Eh banyak calon mahasiswa yang sedang wawancara ngobrol dan "ngrasani" departemen peminatan yang akan mereka pilih. Ada yang cemas, ada yang mencari alasan dan pembenaran pendapatnya. Saya langsung teringat hasil penelitian Sajidin bahwa rencana untuk berhenti seorang karyawan sudah ada sejak dia mulai bekerja.
Tidak jauh berbeda dengan dengan para karyawan, saya umpamakan calon mahasiswa baru yang sekarang wawancara adalah calon karyawan. Mereka sudah mengajukan aplikasi dan telah melakukan ujian tulis, tinggal wawancara. Ada yang sudah yakin dengan hasil ujian tulis, ada juga yang tidak yakin.
Hal inilah yang menyebabkan komentar mereka berbeda-beda terhadap situasi yang dihadapi sekarang, meskipun situasinya tetap sama yaitu "menunggu...giliran wawancara yang harus dia lakukan". Yang sudah yakin dengan hasil ujian tertulis dengan sombong berkata, "buat apa sih wawancara... toh yang menentukan ujian TPA". Yang tidak yakin juga berkata dengan cemas, "iya ya... buat apa sih wawancara...kalau sudah gak lulus kan sia-sia saja."
Mengamati hal ini saya tersenyum sendiri. Alangkah mahalnya komitmen. Penting sekali komitmen itu. Apapun yang kita hadapi sebenarnya jika kita sudah berkomitmen, tidak akan menjadi beban. Keluarga, biaya, waktu adalah komitmen-komitmen lain yang telah kita buat, dan kita dengan santai menjalaninya karena kita berkomitmen terhadapnya.
Lalu kalau sudah mau menjadi anggota organisasi ini (sekolah), mengapa kita juga meributkan hal kecil yang sudah menjadi bagian dan budaya organisasi tersebut? Mau mengubah? Apa yang telah kita ketahui? kok berani-beraninya ingin mengubah?
Membangun komitmen memang perlu usaha keras dam itu butuh kepercayaan (trust). Siapa percaya pada siapa, itu masalahnya. Ketika salah satu merasa lebih dari yang lain, maka kepercayaan adalah palsu, dan dengan bangga mungkin saya akan berkata bahwa komitmen keduanya adalah lemah.
Kepercayaan itu tidak dapat dipaksakan. Seorang istri yang tidak percaya dengan suaminya, akan selalu mengomel ketika suaminya terlambat pulang meskipun sebenarnya dia sedang dapat kerja lembur untuk menambah keuangan keluarga. Kepercayaan muncul dari dalam...sebuah kesadaran. Kesadaran terhadap posisi kita masing masing.
Kesadaran terhadap posisi ini yang saya yakini merupakan modal komitmen. Kesadaran ini pernah disampaikan oleh tokoh pahlawan nasional kita Ki Hajar Dewantoro. Kesadaran terhadap posisi yang sering disebut sebagai gaya kepemimpinan menurut beliau. Posisi yang dimaksud adalah: ing ngarso sung tuladha (di depan memberi contoh), ing madyo mangung karso (di tengah membangun semangat dan usaha), dan tut wuri handayani (di bawah/belakang mendukung dan memberikan dayanya).
Tiga nilai kesadaran terhadap posisi yang sangat briliant. Selama ini kita sibuk dengan gaya-gaya kepemimpinan versi x,y,z dst. yang kita adopsi dari literatur asing. Kita melupakan bahwa komitmen itu dibangun atas kepercayaan, kepercayaan terhadap bangsa sendiri. Literatur asing tidak mengenali bangsa kita sendiri. Hanya orang kampung sendiri yang tahu seluk-beluk kampungya (begitu pepatah umum yang sering kita dengarkan).
Kembali pada situasi yang sedang saya amati dan calon mahasiswa baru tersebut, saya memberikan sedikit sentilan saja. Berada di posisi manakah kita? Jika di posisi berkuasa (atas) ya mbok sadar, bahwa ruang tunggu wawancara itu tidak nyaman, jadi jangan lama-lama wawancaranya atau dibuat jadual yang tepat. Kalau di posisi lemah (bawah), ya mbok sadar, belum jadi anggota saja sudah banyak protes, terus mau memberikan apa pada organisasi nanti. Sadar lah, jangan ikut-ikutan, karena orang lain omong tidak perlu bukan berarti kita ikut pendapat dia. Berbeda pendapat juga boleh, percaya dirilah... masak mau jadi master kok tidak pe-de.
Jika kita percaya diri, teguh, kuat kita dapat menjadi panutan. Jadi ketika kita berada pada posisi atas, akan jadi panutan yang baik (sung tuladha). Jika sudah jadi contoh yang baik, sudah nilai dasar bangsa kita untuk mencontoh yang baik dan meninggalkan yang buruk. Bawahan kita pasti mencontoh dengan baik. Komitmen tidaklah sulit dibuat. Saya jamin lah.
Saya ingin menutup tulisan saya ini dengan kata-kata motivasional. Saya tidak ingin jadi penyebar jiwa pesimis. Hipnotis terlah terbukti dapat mengubah alam bawah sadar kita, tapi itu sama saja kita akan diperbudak dengan terapi-terapi tersebut. Kita mulai berubah dari hal yang paling dasar. Kesadaran terhadap posisi kita. Kesadaran terhadap "keberadaan" kita sekarang. Selamat berbahagia dengan komitmen-komitmen selanjutnya.
Saat diminta menyusun blok pembelajaran yang merupakan fusi dari kewirausahaan, kepemimpinan dan manajemen keperawatan, saya sedikit tercenung. Apalagi setelah menelusuri kisah-kisah tokoh pengusaha Indonesia, semakin malu rasanya saya.
Tokoh-tokoh entrepreneur tersebut selalu memiliki "sejarah" berkaitan dengan "mind-set". Suatu kondisi perpindahan dari mind set orang kebanyakan menjadi mind set spesial.
Hal yang paling menakutkan adalah saat berada pada situasi perpindahan. Kondisi ketika kita harus membalik sebuah nilai yang telah kita pegang dan diyakini benar. Belum lagi, orang-orang di sekitar kita sudah menganggap diri kita adalah bagian dari nilai tersebut. Sungguh hal itu adalah sesuatu yang sangat mengguncang.
Ketika dalam presentasi ada usulan, keluaran pembelajaran adalah sebuah kreasi atau event usaha yang dilakukan oleh mahasiswa, saya sedikit terkesima. Sudah sangat tinggikah harapan kita terhadap jiwa kewirausahaan mahasiswa, sehingga keluaran proses pembelajaran ini sebegitu tingginya? Apakah kita para "gurunya" juga sudah memiliki pengalaman melakukan suatu usaha?
Lagi-lagi saya tercenung. Pertanyaan dan keraguan saya tersebut sebenarnya adalah contoh bahwa saya masih jauh dari memiliki jiwa kewirausahaan. Nilai kepegawaian saya sudah mendarah-daging rupanya, sehingga suatu hal yang mudah saja masih terasa berat dirasakan. Hah...pikiran...lagi-lagi penjara pikiran.
Apa salahnya memiliki harapan dan impian. Mahasiswa sekarang bukan seperti jaman tetua dulu. Mahasiswa sekarang lebih kreatif dan tangguh. Pergaulan mereka sudah sangat luas, apalah artinya tantangan sekecil itu?
Optimisme saya, ternyata masih tersandung juga. Muncul kekuatiran, kalau mahasiswa kita kemudian menjadi "petungan", menilai setiap tindakan harus dibayar, kemana nilai altruism. Bagaimana mencegah dampak ini? Suatu tantangan yang harus saya temukan jawabannya sebelum rancangan blok ini diterapkan. Tapi saya perlu merenung dulu..
Oleh: Wastu Adi Mulyono
Bangun!
Deg! saya terjaga dari tidur-tidur ayam diantara waktu menatap layar lcd Dell Lattitude D410 tua kesayanganku. Suara itu begitu dekat dengan telingaku, seolah-olah ada yang membentakku.
Hampir 2 tahun sejak mulai kuliah lagi, dapat dikatakan saya menonton TV hanya sejam dalam seminggu itupun di sela-sela acara lain. Bukan karena idelisme tapi, kebetulan TV tunner nya lagi rusak dan malas membeli yang baru, karena sudah tidak ada spare partnya lagi.
Kata tersebut bagai menghujam ke jantung hatiku. Seperti orang yang mendapatkan pencerahan, begitulah. Sebuah kesadaran baru, pemahaman baru. Kesadaran apakah pantas kita mencemooh Presiden, anggota DPR, bahkan sahabat-sahabat kita sendiri, para demonstran pra bayar dan pasca bayar.
Saya coba senandungkan lagu A. Simanjuntak..
Bangun pemudi pemuda Indonesia
Tangan bajumu singsingkan untuk negara
...
Setalah baris itu, kok saya nggak nyambung-nyambung lagi ya? padahal waktu ikut PS (paduan suara) baik waktu di Akper Malang maupun di FIK UI 97, seolah-olah sudah di luar kepala sampai notasinya. Eh "gemblung!" kok nggak nyambung-nyambung?.
Ku ulang-ulang berkali-kali tetap saja. Menyerah! Aku search di Internet eh, ketemu di organisasi.org. Sambungannya adalah sebagai berikut, malah dapat sambungan baitnya.
...
Masa yang akan datang kewajibanmu lah
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas
Tak usah banyak bicara trus kerja keras
Hati teguh dan lurus pikir tetap jernih
Bertingkah laku halus hai putra negri
Bertingkah laku halus hai putra negri
Lalu aku bersenandung kembali sambil menghayati lagu ini. Ah malu sendiri jadinya. Sudahkan kita menanggung masa depan nusa bangsa ini?
Lalu di bait kedua...
Sudahkah kita bisnis dengan jujur dan ikhlas? Apakah kita salah menafsirkan syair ini dengan "berusaha untuk jujur dan ikhlas saja?" Apakah kita sudah kerja keras tanpa banyak bicara?
Teguhkah hati kita menahan godaan nepotisme, kolusi dan koruspi?
Sanggupkah kita tidak menggunakan software bajakan, sementara kita butuh untuk mengerjakan tugas kuliah? Masih bisakah kita berpikir jernih saat para pejabat yang sudah kita anggap jujur, tiba-tiba mengambil keputusan yang salah?
Sudahkan kita bertingkah laku halus dalam berpendapat? tidak mencaci maki, membakar atribut, merusak fasilitas umum, atau menyakiti sesama penduduk negeri tercinta ini.
Atau kita memang sudah bukan pemuda lagi? sehingga sama sekali tidak tersentuh dengan syair lagu ini?
Semoga saya Anda semua juga mendapat pencerahan. Terimakasih Pak A. Simanjutak. Sungguh syair yang sangat menyinggunga perasaanku seorang pengeluh, penidur, dan melankolis. Bangun! Aku masih seorang PEMUDA!
Nasib Anda hari ini adalah hasil dari karakter Anda yang merupakan akibat dari perilaku 5 tahun yang lalu. Perilaku Anda merupakan hasil dari keyakinan/nilai Anda sebagai akibat cara berpikir yang Anda miliki 10 tahun yang lalu. Demikian salah seorang yang sukses dalam network
UU Keperawatan belum diundangkan juga. Saran dan rekomendasi dari berbagai kalangan pun sering disampaikan. Salah satu diantaranya adalah menjadikan UU Keperawatan tersebut menjadi kepentingan masyarakat secara keseluruhan.
Pagi ini setelah shalat subuh (dengan menerapkan hasil pelatihan shalat khusyuk) tiba-tiba blink...suir suir suir. Ah...ini baru blink beneran. Sebuah gagasan untuk "mewujudkan" profesionalisme. Satu impian saja yang ternyata tidak dapat saya wujudkan sendirian. Saya butuh kompeni, saya butuh sahabat, saya butuh sejawat, saya butuh lembaga, saya butuh lulusan spesialis.
Friend yang baru lulus spesialis, ayo kita mulai. Hari ini saya sudah ACTION. Ayo kita baren-bareng saja.
...maaf kehabisan ide...ini hanya BLINK yang tidak dapat saya bendung.
Perawat bergerak, akupun tergerak. Daya dan kekuatan yang menyatu merupakan energi yang tak tergantikan. Aksi damai, audiensi, demonstrasi merupakan suatu bentuk perjuangan. Termasuk mogok nasional.
Tiba-tiba hati saya berdesir. Mogok nasional, suatu pilihan yang sangat berat. Mungkin aku termasuk yang approach-avoidance dalam kecemasan.
Seruan mogok kerja nasional untuk perawat indonesia? Tiba-tiba aku teringat sumpah profesi dan sumpah pns. Sebagai perawat aku harus menjunjung nilai kemanusiaan diatas segalanya. Sebagai pns aku harus loyal pada pimpinan? Sebagai anggota profesi aku juga harus berjuang untuk masa depan profesi secara keseluruhan.
Barangkali ini juga dirasakan oleh teman-teman perawat yang lain. Ini memang letak kelemahan kita. Jiwa altruisme begitu kuat tertanan dalam bawah sadar kita, juga jiwa pengabdian PNS. Secara langsung semua itu telah menjadi mental blocking bagi saya untuk bergerak menyokong perjuangan profesi keperawatan.
Mental blocking ini terasa begitu mengganggu dan sampai saat ini nggak ada solusi. Aku hanya duduk termangu. Bingung aku!
Oleh: Wastu Adi Mulyono
Setelah membuka-buka tesis dan laporan penelitian berkaitan dengan dokumentasi keperawatan, ternyata permasalahan dokumentasi keperawatan tidak hanya di Indonesia. Kompleksitas masalah tersebut dapat berupa permasalah dokumentasi itu sendiri juga dapat berupa faktor yang lain. Faktor dokumentasi sendiri dapat berupa struktur, kontinuitas, kesederhanaan maupun bentuk format itu sendiri. Faktor lain yang berpengaruh berkaitan dengan organisasi, sistem kerja maupun perawat itu sendiri.
Dokumentasi keperawatan diakui sangat penting baik oleh perawat itu sendiri maupun oleh rumah sakit. Perawat mengakui bahwa dokumentasi penting untuk perkembangan profesional. Rumah sakit berkepentingan dengan akreditasi, karena dokumentasi keperawatan merupakan salah satu indikator mutu rumah sakit.
Yang mengherankan sejak penelitian tahun 1998 sampai dengan tahun 2006, permasalahan di Indonesia masih berkutat pada kelengkapan dokumentasi. Pendokumentasian secara digital/elektronik dan adanya sistem informasi keperawatan, meskipun diakui sangat bermanfaat bagi keperawatan tetapi masih juga belum menjawab tantangan tersebut. Beberapa masalah yang sering dilaporkan adalah beban kerja dan intensitas pekerjaan yang menghalangi perawat dalam mendokumentasikan.
Bahkan pendokumentasian elektronik dimana rumusan diagnosis dan rencana sudah terstandarisi memperoleh penilaian kritis dari sebagian perawat itu sendiri. Pembelajaran dokumentasi keperawatan di kampus dan praktik di lapangan dengan dokumen terstandar menurut mereka dapat menurunkan kemampuan kritis perawat dalam mengidentifikasi permasalahan keperawatan. Benar atau salah pendapat tersebut perlu suatu penelitian untuk menjawab dan itu yang akan sedang diteliti oleh teman saya.
Saya sendiri lebih mengamati pada proses pembangkitan internal motivasi pembuat dokument itu sendiri. Motivasi yang berasal dari dalam dan tidak terpengaruh oleh imbalan dan beban kerja yang selama ini menjadi alasan klasik di seluruh Indonesia. Situasi yang mungkin tidak akan pernah terpecahkan, karena dunia keperawatan seperti sebuah anomali. Ketika banyak perawat nganggur, mereka dibayar dengan harga murah, tetapi anehnya ketika jumlah perawat sedikit, imbalan yang diterima mereka juga tidak mengikuti hukum ekonomi dimana harga tinggi jika kebutuhan tinggi. Anomali.
Kembali ke topik motivasi internal, menurut pengamatan saya, merupakan suatu penyakit kronis. Saya telah merasakan adanya gejala ini sejak lama. Mahasiswa sungguh memiliki keengganan tinggi dalam menulis, belajar, apalagi jika berkaitan dengan penelusuran literatur. Malas bukan main. Kesadaran ini semakin jelas setelah saya menjalani sendiri pendidikan lanjutan, kita sangat sibuk dengan berbagai urusan yang sebenarnya juga kita buat sendiri. Proses buang-buang waktu yang selalu terjadi setiap hari. Ini kondisi yang sangat demotivasional.
Penelurusan liteatur menjadi sangat membosankan ketika prasarana yang kita harapkan berjalan baik mengalami banyak gangguan, sehingga kita frustrasi dengan jaringan internet yang tidak lancar. Belum lagi ditambah akses ke database harus berbayar, syukur di FIK kita bisa akses proquest secara remote. Tapi tetap saja selalu ada faktor penghambat, misalnya password expired sementara informasi baru belum ada.
Kondisi ini membuat saya berpikir, mungkinkah suatu fasilitasi terhadap penelusuran sumber ilmiah bagi perawat praktisi yang "sangat sibuk" dapat membangkitkan motivasi internal. Membangkitkan kesadaran paling mendalam tentang keharusan mendokumentasikan dan manfaat universal yang diakibatkannya.Sebuah akibat yang akan membuat semua praktik keperawatan berbasis pada fakta dan obyektif. Suatu Evidence Base Practice perawat. Mimpi apa ya?
Ah ini mungkin juga perlu penelitian. Ya sudah tak telusuri lagi saja. Semoga saja ada relawan yang dapat menambahkan informasi berkaitan kepada saya.
Kuliah tentang kebijakan kesehatan memang sangat menarik. PKebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah ternyata saling mendukung, saling tumpang tindih, bahkan saling bertentangan.
Tata urutan perundangan yang dulu diulang-ulang dalam pelajaran sekolah sampai penataran P4 ternyata baru saya mengerti maksudnya sekarang (bodoh banget ya). Hal tersulit menurut saya pada waktu itu adalah susahnya mencari sumber-sumber peraturan atau undang-undang yang harus dibaca. Belum lagi harus fotokopi berlembar-lembar dan pasal pasal yang banyak.
Syukurlah jaman internet ternyata sangat membantu. Teknologi informasi sangat membantu kita saat harus belajar aturan ini dan itu, bahkan kajian terhadap kebijakan tersebut cuga tersebar di internet dan dengan mudahnya kita cari. Terimakasih pada para penemu dan pengembang. Kirim al fatihah buat mereka, siapapun itu.
Berikut ini adalah link yang sangat membantu untuk mencari barang-barang penting tersebut. Klik saja www.legalitas.org. Selamat belajar kajian kebijakan. Terimakasih pada para penemu dari matematika sampai teknologi internet dan komputer. Terimakasih telah bersedia membaca ayat-ayat tuhan buat kami yang masih bebal ini.
Sejak semester ini saya lumayan silent daripada semester kemarin.
Saya coba untuk menjadi diam, agar dapat mengembalikan lagi energi insihgt yang mulai pudar. Expressive words dan jokes yang sering saya lontarkan waktu lalu ternyata telah menumpulkan kesadaran lingkungan (darling) ku.
Active memang perlu. Tujuanku sebenarnya untuk menghidupkan diskusi-diskusi. Diskusi hanya dengan satu tema seragam bukanlah hal yang sehat menurutku. Pemahaman ini yang sering mendorong terlontarnya pendapat di luar arus, yang mungkin sangat "menyebalkan".
Diam menghasilkan kesunyian, tapi lagi-lagi kesunnyian memberikan dampak pada ku, semua produktivitasku jadi ikuta silent, diam tak bergerak. Heran, seolah-olah tidak ada pendorong untuk menulis, belajar, diskusi, bahkan jadi sangat pikun dan missed everything. Kacau deh.
Tapi saya bertekad tetap mempelajari silent ini, sampai tidak mempengaruhi hal yang lain. Kadang terlalu banyak bicara tidaklah baik. Mudah menyakiti orang lain, meskipun sebetulnya bukan salah kita juga, salah sendiri mereka pikirin, lha kita aja yang ngomong tidak pernah mikir. Tapi sesuatu yang berlebihan tetap bukanlah hal baik. Too much words will kill you (plesetan dari too much love will kill you).
Facebook, ternyata cukup memberikan variasi silent ini. Penelusuran kembali jejak-jejak masa lalu untuk meghambat de-myelinisasi serabut saraf otak. Teman-teman sma ketemu lagi, dengan segala kelucuan yang masih mereka bawa. Melihat foto lama yang mengingatkan kembali bahwa ternyata aku dulu orangnya usil juga. Bercermin dari mereka seperti melihat perkembangan sendiri.
Jadi jangan kaget jika tahun ini blog saya jadi kurang up to date, saya masih dalam suasana retreat, introspeksi, solitude, semadi, menjelajah diri, atau apa saja lah. I am silent but I am watching you. Waspadalah.... waspadalah....
Hasil voting tentang "Apakah PPNI akan dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah dalam bidang kesehatan?" yang tayang 1 tahun di Blog saya hanya mampu menarik partisipan 66 orang. Partisipan yang memjawab Ya 42 % (28 orang), tidak setuju 48% (32 orang) dan tidak tahu 9% (6 orang).
Hasil ini mungkin tidak mewakili jutaan perawat di Indonesia yang dihasilkan kurang lebih seribuan (data belum valid) institusi pendidikan keperawatan. Yang dapat dipahami adalah persentase yang tidak percaya ternyata lebih banyak dari yang percaya, meskipun beda tipis.
Mengapa kita tidak dapat meyakini bahwa PPNI tidak dapat mempengaruhi pemerintah? Jika diumpamakan PPNI adalah tubuh perawat itu sendiri, artinya partisipan tadi adalah hati kecil PPNI. Hati kecil PPNI ternyata masih meragukan action yang dilakukan tubuhnya. Artinya masih ada pesimis dalam melangkah.
Mengapa bisa pesimis? Kalau menurut keperawatan jiwa, hal itu terjadi karena kita menilai diri terlalu rendah. Harga diri rendah, kalau mau ditegaskan. Mari kita coba instropeksi:
1. Seberapa tinggi harapan kita?
2. Seberapa rasional target kita?
3. Berapa sering kita berhasil mencapai tujuan kita?
4. Apakah kita mudah tersinggung jika ada yang mengkritik kita?
5. Apakah kita sering menghindar untuk menghadapi tantangan orang lain?
Kita harus mulai membalik persepsi diri jika semua pertanyaan berujung pada negatif. Bagaimana kita berhasil jika melangkah setengah-setengah. Habis energi hati kecil untuk berbantah-bantahan. Sebaiknya gunakan energi untuk tetap fokus pada tujuan. Menerima yang sudah dicapai, memoles lagi agar jadi pondasi yang kuat untuk melompat lebih tinggi. Jika perlu kita gunakan energi ikhlas (zona ikhlas) agar ada lompatan quantumnya yang menghasilkan energi nuklear hati.
Support system tidak ada maknanya jika di dasar hati kita belum menemukan jati dirinya. Mari kita percayai wakil kita di kepengurusan, kita dukung dengan iuran, kita sebarluaskan pencapainnya. Hidup PPNI. Andalkan diri kita sendiri, orang lain itu hanya suplemen multivitamin tambahan.
Ayo Perawat Indonesia kita sedang dalam ancang-ancang untuk melompat lebih tinggi. Jangan mudah menyerah hanya karena proses tugas akademik, konsultasi skripsi yang memusingkan, menyusun tesis yang susah, praktik profesi yang mengecewakan. Expresikan semua pada obyeknya, jangan berkeluh kesah sendiri, kita semua sehat jiwa karena kita bagian dari Indonesia sehat 2010. Jadi ekspresikan saja, jangan takut, asertif tidak menyakiti siapapun.
|
|