Cari di Google

Google

iklan di sini

Thursday, March 12, 2009

Trauma?

Oleh: Wastu Adi Mulyono

Selasa pagi, 06:45, Koplak Bus Purwokerto. Seperti biasa, dengan terburu turun dari taksi untuk mendapatkan tiket "Sinar Jaya" kesayangan menuju terminal Kampung Rambutan. Ada crew bus lain yang menawari servisnya, tapi tidak saya perhatikan. Acuh saya terus berjalan menujuk loket. Crew bus paruh baya tersebut terus menawari dan tiba-tiba berkata, "Ndak usah takut, Pak. Jawab saja. Disini tidak ada orang Nakal." Saya diam saja tanpa memperdulikannya. "Pak, mau kemana?" dia masih terus mengejar. Kemudian istri saya menjawab, "Jakarta Pak!, Sinar Jaya!" "Nah begitu, jawab saja, ndak usah takut dinakali, di sini ndak ada yang nakal!" katanya lagi sambil meninggalkan kami tanpa tampak kejengkelan di wajahnya. "Ah.." dalam batin saya sedikit menyesal karena tidak menanggapinya dari awal.

Sepanjang perjalanan ke Jakarta,di dalam bis, saya merenung. Mencoba instrospeksi lagi yang telah saya lakukan. Apakah yang telah menyebabkan saya acuh seperti itu? Apakah saya menderita trauma, tapi saya represi ke dalam bawah sadar saya? Pengalaman apa yang telah menyebabkan respon saya menjadi sangat angkuh (individualis) seperti itu? Seperti kata crew bus tadi, apa salahnya menjawab? apakah itu mengancam keamanan saya?

Teringat kembali berpuluh tahun yang lalu. Terminal bis ibarat sesuatu yang sangat menakutkan, penuh preman dan penipu, menurut imajinasi saya. Betapa tidak, secara tidak sadar saya telah "dicekoki" dengan informasi tersebut oleh orang tua, tetangga maupun kerabat melalui cerita-cerita mereka atau nasihat-nasihat mereka. "Jangan main di terminal, nanti kamu kena "palak" atau malah jadi tukang palak!"

Cerita tersebut sangat membekas. Sehingga secara tidak sadar telah membentuk realitas. Beragam peristiwa yang memperkuat memori tersebut juga terjadi. Seperti ketika akan berangkat ke Jakarta dari Surabaya, di depan loket terminal saya ditanya, kemudian saya jawab. Saya kemudian diajak ke loket di luar terminal, dan "kena deh!" tiket bus yang saya beli ternyata tidak sesuai dengan apa yang ditawarkan. Tapi saya masih belum punya stigma apapun.

Peristiwa berikutnya pun terjadi ketika dari terminal Pulo Gadung akan ke Cilacap. Kembali saya ditawari oleh "agen" yang menyambut saya dengan ramah di pintu masuk terminal. "Mau ke mana Pak? mari saya bawakan tas nya!" Ke Cilacap Pak, pakai
Sinar Jaya!", saya jawab dengan tanpa curiga apapun. "Oh ya... mari ke loket..." Saya pun mengekornya sampai depan loket. Saya mulai curiga ketika loket yang ditujut ternyata bukan loket bis yang saya inginkan. Saya pun berkata, "Pak, saya mau dengan Sinar Jaya!" "Oh ya Pak sama saja, loket ini juga bisa!", jawabnya. Saya pun menurut, kemudian membayar sesuai yang dikatakan petugas loket. Saya terima tiket kemudian saya baca. Benar kecurigaan saya. Tiket tidak sesuai dengan yang saya inginkan, bahkan nama bisnya pun tidak familier bagi saya. Saya pun mengembalikan tiket. Seperti yang saya duga, harus beradu mulut dulu. Akhirnya saya mengalah, saya bayar ganti rugi 10 ribu rupiah. "Brengsek!" umpat saya dalam hati.

Belum cukup, ingatan saya kembali ke Medan. Ketika tiba pertama kali di terminal Medan saya disambut supir taksi. Mengetahui saya dari Jawa, diapun berbicara dengan bahasa jawa. Lagi, percaya saja saya. Orang satu suku ndak mungkin menipu. Saya pun naik taksinya sampai Jln. Rajawali Sei Sikambing. Taksi pun menyalakan argonya. Dengan tenang saya menuju tujuan. Sampai tujuan, angka 46 ribu lebih sedikit tertera di argo. Uang 50 ribuan saya berikan, dengan tenang saya berkata, "Kembaliannya buat Bapak saja!". Lalu saya istirahat. Beberapa hari kemudian saya ada urusan yang akhirnya menggunakan taksi lagi dari terminal ke tempat saya. Melalui rute yang sama, dengan taksi yang berbeda. Sama saja menggunakan argo. Sampai tujuan saya melihat argo, eh cuma 20 ribu. Kena lagi deehhhhh!

Peristiwa yang saya alami berulang sampai beberapa bulan terakhir. Meskipun tidak begitu saya pikirkan lagi. Ketika ke semarang dari terminal Kampung Rambutan, saya tanya ke petugas terminal, "Pak, kalau bis yang ke semarang di mana?". Petugas terminal malah menjawab tidak tahun dan mengarahkan saya ke calo. Saya pun terbujuk, pasrah, masuk loket dan ditunjukkan harga tiket yang telah dilaminating. Tanpa curiga apapun saya menawar, harga bisa berkurang 10 ribu. Saya naik bis, lumayan, ber ac, kursi RS masih bagus. Saya menikmati perjalanan, sampai tiba-tiba di dekat tol kami dioper ke bus lain dengan tampilan yang bisa dibilang mengecewakan. "Kena deeh... " Lebih bodoh dari keledai kali ya, selalu terjatuh ke lubang yang sama. Belum lagi di dalam bis kami dengan cerita orang lain yang duduk di kursi belakang saya, bahwa dia di ancam ketika berada dalam loket dan ingin membatalkan transaksi karena harga terlalu mahal.

Ya.. ternyata saya yang merasa sehat jiwa saja mengalami trauma juga. Sampai sampai saya tidak mempercayai lagi informasi dari petugas resmi atau petunjuk arah di terminal. Saya jadi malas menjawab orang yang menawarkan jasa untuk membawakan tas atau crew bus yang menyambut dengan ramah sekali. Saya telah menggeneralisasikan ketidakpercayaan tersebut di semua terminal termasuk di "koplak" bus purwokerto kemarin. Apa yang harus saya lakukan untuk mengatasi trauma ini? Sampai sekarang pun saya masih ragu-ragu dengan orang yang menawarkan "jasa baik". Percaloan sangat marak di negeri ini, bahkan di instansi pemerintah atau rumah sakit milik pemerintah pun sangat banyak calo tipu-tipu ini.

Informasi negatif telah memporak-porandakan kepercayaan saya pada masyarakat terminal. Diperkuat oleh pengalaman pribadi atau menyaksikan peristiwa yang mengenai orang lain membuat saya jadi acuh. Tidak perduli lingkungan. Nggak Darling (sadar lingkungan)Tidak mengherankan jika saya mengabaikan setiap orang yang ada di terminal. Terlalu banyak tipuan yang saya alami.

Kesadaran ini bukanlah suatu penyelesaian. Hanya sebatas kesadaran terhadap apa yang menyebabkan saya berperilaku menyebalkan bagi orang lain seperti crew bus di terminal purwokerto tadi. Entah sampai kapan saya menderita trauma ini. Sampai kapan label saya terhadap keburukan terminal berakhir. Sampai 2012 barangkali. Lho kok. Ya karena katanya nih, 2012 sudah kiamat. Sudah berakhir semua bukan?


Read more!

Wednesday, February 18, 2009

Entrepreneurship dan Perawat

Oleh: Wastu Adi Mulyono

Perawat harus memiliki jiwa entrepreneur?
Dulu saya memiliki pandangan bahwa pelayanan kesehatan tidak boleh dikomersialkan. Oleh karena itu saya sangat membenci rumah sakit yang meminta Down Payment (DP/Jaminan) ketika menerima pasien pada saat admission.

Pemahanan ini didasari dari filosofi awal yang saya terima ketika masuk dalam dunia keperawatan ini. Mengabdi pada kemanusiaan, mengutamakan kepentingan pasien daripada kepentingan sendiri (altruisme), menolong, sumpah Hipokrates dan sebagainya. Sangat membanggakan sekali sewaktu akhir semester 1 sebelum mulai masuk ke rumah sakit, kami dilantik dan disumpah. Mengharukan.

Perjalanan waktu ternyata dapat mengubah cara pandang kita. Tuntutan ekonomi dan pergaulan yang semakin luas membuat cara berpikir saya berubah. Pikiran bisnis yang dulunya "terlarang" bagi saya lambat laun justru menjadi kebutuhan. Saya yang dulunya membenci rumah sakit yang membisniskan pelayanannya, berubah menjadi menyarankan. Secara sadar saya telah mengubah pandangan saya 180 derajat.

Keperawatan sebagaimana pelayanan jasa lainnya, tidak ada istimewanya. Jika ada yang mengatakan istimewa, itu hanya karena yang dilayani manusia yang unik, tidak konsisten dan selalu berubah. Kalau bentuk bisnisnya ya sama saja dengan yang lain. Semua perlu pelaku, pengelola, pemodal dan karyawan serta pernak-perniknya.

Kebutuhan modal artinya harus ada hitungan kembalinya, atau jika mungkin ada selisih kembaliannya, supaya modal menjadi terus bertambah. Pertambahan modal tentu saja berasal dari putaran bisnis keperawatan yang telah kita lakukan. Tentu saja sumbernya ya pasien itu sendiri. Ya, pasien itu sendiri yang kita tarik uangnya untuk mengembalikan modal yang telah kita tanam. Betul pasien, orang yang sakit itu. Meskipun tidak sepenuhnya akan kita dapatkan dari pasien, tetapi sudah dapat dipastikan kita menarik uang dari pasien yang kita layani.

Permasalahan menarik uang dari pasien inilah yang seringkali membuat para pelaku bisnis pelayanan kesehatan menjadi serba salah. Bahkan ada yang kemudian berhenti total dari bisnis ini. Bagaimana tidak serba salah, sebagai pebisnis kita dihadapkan pada masalah menjual dengan laris, artinya kita akan mencari jalan supaya jualan kita laris. Salah satu yang sering dilakukan dan mudah sekali adalah berdoa pada tuhan agar jualan kita laris. Nah ini masalahnya. Berdoa supaya pelayanan kita laris, secara langsung mendoakan supaya orang banyak yang sakit agar banyak yang membeli pelayanan kita. Oh Tuhan, ampuni aku.

Mengembangkan jiwa entrepreneurship berarti juga tidak akan terlepas dari permasalahan tersebut. Hal ini saya alami sampai lama, sampai akhirnya saya memang harus melepaskan siksaan hati ini. Salah satu cara yang saya lakukan adalaha mengubah mind-set secara total. Membalik semua persepsi yang selama ini ada, dan itu bukan hal yang mudah bagi saya. Stres, gastritis, mual dan semua gejala harus dialami dulu untuk menghadap semua perubahan itu (meskipun tidak seharusnya begitu).

Membangkitkan entrepreneurship untuk perawat yang sangat kental dengan metode berpikir dominasi otak kiri, tanpa mengubah mind set adalah sia-sia. Seperti kuliah entrepreneurship yang saya dapatkan minggu kemarin. Hampir semua tanggapan atau pernyataan atau pertanyaan adalah keluh kesah dan hasil persepsi semua. Padahal itu semua tidak ada gunanya. Semua keluh kesah tidak ada penyelesaiannya tanpa adanya "action". Dosen pun tidak akan dapat menyelesaikan keluh kesah tersebut. Terbukti bukan?

Kunci utama entrepreneurship ya mind set itu sendiri. Setelah itu barulah action (bertindak) untuk merealisasikan perubahan mind set itu sendiri. Langkah yang paling spektakuler adalah langsung saja buka praktik keperawatan.

Pasti ada pertanyaan, Lha praktik keperawatan itu seperti apa? Nanti harus bagaimana?

Ya itulah sebenarnya entrepreneurship dalam keperawatan itu. Kita harus dapat menjawab pertanyaan itu sendiri dengan tindakan-tindakan. Saya tidak dapat menjawabnya. Kita harus dapat menjawab masing-masing, karena kita berbeda. Termasuk kadar entrepreneurship kita juga berbeda.

Ayo kawan, lakukan saja. Kita sudah tahu batas-batasnya. Kalau kita tidak pernah melakukan tapi hanya dipikirkan, bisa terlambat, gawat. Saya pernah mengalaminya, semua ide dan pikiran saya ternyata sudah dilakukan oleh orang lain, padahal kami tidak pernah bertemu. Itulah realitas, kata Plato realitas yang sesungguhanya memang sudah diciptakan. Tinggal siapa yang duluan mewujudkannya. Pantas saja pekerjaan perawat selama ini diambil orang lain, karena perawat hanya memikirkannya tetapi tidak pernah melakukannya. Beruntunglah orang yang mengambil lebih awal. Kasihan sekali yang telah mengambil kesempatan.

Ayo...ayo.. ayoo... Harus berapa kali lagi saya harus bilang ayo! Do it, Lad! Now!


Read more!

Saturday, December 20, 2008

Small Action

Oleh: Wastu Adi Mulyono
Jumat, 19 Desember 2008. Hari ini adalah hari terakhir tugas sebagai sipen mata kuliah sains keperawatan. Ada satu proyek besar yang harus dilaksanakan hari ini, seminar besar. Seminar yang akan menunjukkan keberhasilan kami dalam belajar sains keperawatan.


Sebulan lebih persiapan, dan saya sebagai ketua panitia, sama sekali kehilangan kesempatan terlibat di minggu-minggu terakhir. Sangat menegangkan bagi saya pribadi. Beragam mistake terjadi dan tidak mungkin dapat dihapuskan lagi. Undangan salah, tema gak nyambung, konflik, wah bikin dag dig dug.

Syukurlah, tiba waktu pelaksanaan, semua berjalan lancar. Peserta yang mulanya sedikit, terus-menerus mengisi ruang OJO RADIAT, yang megah tersebut. Acara pun dimulai tepat waktu. Semua berjalan lancar. Bahkan luar biasa.

Presentasi teori-teori middle range dari mahasiswa sangat meyakinkan dan penuh percaya diri. Demikian juga kreativitas dan totalitas permainan peran dalam live role play dan pemutaran clip video. Sangat memuaskan peserta. Bagaimana tidak, seminar gratis dengan kualitas materi yang sangat baik, jarang didapatkan. Apalagi topiknya benar-benar fresh dan unik. Baca juga link sains keperawatan di sini

Serasa balon udara yang kempis, mungkin itu gambaran isi kepala saya. Ucapan selamat dari pembimbing terhadap kerja keras kami seolah melumerkan emosi dan ketegangan yang ada selama proses. Sungguh saya secara pribadi sangat terkesan. Kerja keras panitia, dukungan dana dan mental dari teman sangat membantu suksesnya kegiatan ini. Belum lagi support dari pembimbing dan dekan, seolah tertutup semua keteledoran kami. Seolah beliau tidak melihat banyaknya mistaken yang tercipta selam proses. Sungguh pembelajaran hidup bagi saya pribadi.

Seminar sains keperawatan ini memang sebuah action kecil yang berjalan dengan manis. Terimakasih teman-teman, panitia, pembimbing, dekan dan semua jajarannya. Kami akan berusaha lebih sempurna lagi jika bekerja yang menyangkut nama besar fakultas. Kami tidak ingin memalukan lagi. Kami bangga jadi bagian dari semangat UI. Seolah ada lantunan syair lagu terdengar "Selamat datang...pahlawan muda... " Friend you are my hero! Welcome my hero! welcome to my heart. Baca komentar pembaca terhadap posting Praktik Keperawatan Professional di sini . Juga perlu baca komentar tentang program spesialis keperawatan di sini


Read more!

Friday, December 5, 2008

Let The Train Hit The Children

Oleh: Wastu Adi Mulyono

Kemarin setelah sebuah diskusi yang ramai dengan perdebatan, dosen kami memberikan pertanyaan kepada kami sebagai berikut:
"Anda adalah seorang petugas pemindah jalur kereta api. Kereta api akan segera lewat, sementara di jalur kereta api aktif ada 5 orang anak bermain, di jalur yang lain adalah jalur kereta api tidak aktif tetapi hanya ada 1 orang yang bermain. Mau kemana kereta api akan Anda lewatkan?"

Jawaban kami bervariasi dengan alasan bervariasi pula. Ada yang menjawab sebaiknya dilewatkan ke jalur yang tidak aktif. Alasannya korban yang akan tertabrak hanya 1 orang, daripada jalur yang aktif dimana korban adalah 5 orang.

Jawaban kedua adalah kereta api dilewatkan ke jalur yang aktif, karena situasi lebih pasti dan dapat diprediksikan daripada jalur tidak aktif yang mungkin akan banyak permasalahan ketika dilewati gerbon kereta api. Korban 5 orang tidak seberapa dibandingkan kemungkinan korban lebih banyak jika terjadi kecelakaan di jalur tidak aktif.

Kedua jawaban tersebut semuanya pada dasarnya sama, yaitu memikirkan kerugian yang terjadi. Semua berfokus pada kerugian yang akan ditimbulkan baik mempertimbangkan nyawa atau material. Tidak ada dari kedua jawaban tersebut yang mempertimbangkan aturan yang ada.

Jika kita kembalikan ke peraturan atau regulasi yang ada, kesalahan ada pada kelima orang anak yang bermain di jalur aktif. Sudah tahu peraturan bahwa di jalur aktif tidak boleh bermain tetap saja bermain, dan kita bermaksud mengorbankan 1 orang anak di jalur tidak aktif yang sebenarnya bertindak benar karea dia tidak melanggar aturan yang ada.

Patut direnungkan, mengapa kami hanya berpikir tentang kerugian material secara otomatis daripada dasar peraturan yang ada. Apakah hal ini karena kita sudah mahfum bahwa setiap peraturan pada akhirnya akan dilanggar? Apakah kami sudah sedimikian materialistisnya sehingga mengorbankan orang yang bertindak benar karena yang berbuat salah itu banyak?

Pertanyaan tersebut tidak perlu dijawab. Mari kita renungkan saja. Mari kita lihat fenomena dan fakta yang ada. Berita-berita di surat kabar, televisi dan media lainnya. Barangkali kami secara tidak sadar telah menjadi bagian dari semua hal yang sebenarnya juga sering kita sorot dan dilabel sebagai korupsi, nepotisme dan lain sebagainya. Alam bawah sadar kita telah terkotori dengan ide-ide buruk yang kita dapatkan dari media massa, maupun pengalaman tersebut.

Mudah sekali kita menuduh orang tidak berakhlak yang baik karena melakukan korupsi, nepotisme atau pelanggaran hukum lainnya. Tapi mari kita lihat perilaku kita sehari-hari. Kita mengurus KTP ingin lebih cepat dari yang lain, mengurus SIM dan STNK lebih cepat dari yang lain. Hal tersebut bukan sesuatu yang salah bukan? Hal itu suatu bentuk kebutuhan. Kesalahan kita adalah karena ingin cepat tersebut kita membiarkan diri kita melanggar aturan. Menyisihkan orang lain agar ditunda karena kita ingin lebih cepat. Membayar calo dan sebagainya.

Susah sekali untuk menilai diri sendiri. Ketika kepentingan itu berlaku untuk diri sendiri, kita akan dengan semangat membelanya mati-matian meskipun harus melanggar hukum. Alasannya, yang lain pun melakukan hal serupa. Lalu kapan semua ini akan berakhir. Kita inginkan semua berjalan dengan baik, tapi kita sendiri yang memupuk dan memelihara perilaku tidak baik.

Kita seringkali menerikkan kata perubahan, tetapi tidak pernah beranjak dari situasi sekarang. Selalu saja memikirkan masa lalu, bolak-balik aturan diubah dengan sangat melelahkan. Pelaksanaannya sendiri tidak pernah dikontrol sudah diubah lagi.

Jadi apapun yang kita lakukan sekarang semenarnya sama dengan kita berucap, "biarkan kereta itu terus menabrak anak-anak kita, baik anak kita bertindak benar atau salah. Let the train hit the children." Kita telah membiarkan peristiwa itu terjadi meskipun kita tahu bahwa kita dapat mencegahnya.

Mari kembali ke kamar, matikan lampu, pasang aromaterapi. Renungkanlah kembali sambil terus mohon ampun pada tuhan, karena kita semua telah melakukan kesalahan dan kebodohan terus menerus. Berdoalah supaya diberikan kekuatan untuk bertindak dengan benar. Salam.



Read more!

Monday, November 24, 2008

Kampus Virtual

Oleh: Wastu Adi Muyono

Pernah mengalami masalah dengan literatur? Atau sumber yang Anda harapkan ternyata berbayar? Sebeeeelll deh.

Permasalaha itu adalah permasalahan umum yang sering terjadi pada kita. Saking umumnya sampai-sampai kita tidak merasakan lagi sebagai suatu masalah, karena dirasakan oleh hampir semua orang dan tidak ada jalan untuk mengakhiri permasalahan tersebut. Akhirnya alam bawah sadar kita melakukan rasionalisasi bahwa hal tersebut bukan masalah, toh banyak teman yang mengalami hal serupa.

Informasi di internet sebenarnya banyak sekali, ibarat kita mencari jarum yang jatuh ke tumpukan jerami, kalau tidak kebetulan pasti ada teknik khusus mencari bahkan beberapa orang memang beruntung mendapatkan fasilitas yang memudahkan memperoleh informasi tersebut.

Saya berpikir bagaimana resources yang sudah diperoleh tersebut bisa dibagi-bagi. Oleh karena itu saya memulai dari apa yang saya dapatkan di dekat saya, saya upload ke internet agar dapat dimanfaatkan oleh yang lain. Slide dosen (dengan ijin tentunya), paper, skripsi, bahkan hasil penelitian jika memungkinkan dapat kita upload ke internet. Cita-cita saya memiliki perpustakaan gratis untuk perawat se Indonesia tercinta.

Terinspirasi oleh sejarah jepang pasca perang dunia II, dengan menterjemahkan buku-buku luar negeri, telah membuat Jepang melaju sebagai macan asia. Apakah kita dapat menirunya? Meskipun tidak se-menggebu Jepang, kita dapat membagi paper-paper kita pada kolega se Indonesia. Yang memiliki buku terbaru segera diterjemahkan, tentunya sesuai kebutuhan masing-masing. Kalau Anda ingin menterjemahkan 1 buku sendirian ya masukkan saja ke penerbit, kecuali memang anda adalah orang yang memiliki caritas dan altruisme sangat tinggi, yang rela berkorban utuk semua, dapat membagi langsung hasil terjemahannya tanpa perduli akan dimanfaatkan oleh orang lain untuk kepentingan sendiri atau tidak.

Sebuah kampus virtual/perpustakaan virtual mungkin dapat membantu. Kampus virtual yang berisi tutorial dan lecture material serta literatur-literatur karya sendiri atau link-link ke free journal bukan suatu kemustahilan untuk diciptakan pada saat ini. Kalau mau membuat blog/situs sendiri, itu lebih bagus, yang penting berbagi link dan free. Kalau tidak sempat membuat sendiri, cukup emailkan saja naskah pada kami, biar kami yang urus bagaimana karya Anda dapat bermanfaat. Suatu hasil penelitian yang mungkin menurut Anda jelek masih dapat bermanfaat untuk orang lain, misalnya supaya orang lain tahu membedakan mana penelitian yang baik dan mana yang jelek (he..hee) tentu tetap bermanfaat bukan. Jadi jangan underestimate terhadap karya dan buah pemikiran Anda sendiri. Biar orang lain memanfaatkannya.

Contoh yang sudah saya lakukan dapat Anda lihat lewat link materi kuiah di kolom kiri blog ini, bersama jurnal-jurnal yang dapat diakses. Bisa juga Anda kunjungi blog perawat konsultan kemudian telusuri koleksi paper dan slide yang ada di kolom kiri. Atau silakan putar scoll mouse Anda untuk melihat link di kolom kiri bawah bersama dengan link ke jurnal-jurnal pada
Blog Perawat Manajer ini.

Ayo jangan ragu-ragu, kirimkan saja paper-paper yang telah Anda buat. Jangan biarkan dia hanya sebagai bungkus kacang dan mendoan. We have been waiting for your participation and your kindness since now. Just send us yours thing to wastu2008@yahoo.com.

Sementara hanya ada topik sains keperawatan dan manajemen keperawatan. Saya yakin dengan partisipasi Anda semua pasti akan tumbuh lebih besar. Jika sudah besar nanti kita akan buat website sendiri dan disimpan dalam server di Indonesia agar cepat download-nya.


Read more!

Friday, November 21, 2008

Cuci Otak 2

Kuliah yang paling menguras pemikiran saya adalah sains keperawatan. Setiap minggu dicecar dengan tugas dan penelusuran literatur. Berbekal bahasa Inggris pas-pasan (nearly fluent)menyusun makalah dengan bahasa dan istilah level tinggi (menurut kami). What did tutor comment them?

Saya hargai Anda telah bekerja keras untuk menyusun paper ini. Presentasi Anda sangat baik. Penjelasan anda dalam makalah juga menggunakan sumber-sumber up to date dari internet maupun buku-buku textboo. Saluut.

Sudah kami pahami, setiap pembelajar pasti tahu bahwa statement seperti itu adalah suatu bentuk reinforcement positif. Sebagai orang sehat, kami juga senang mendapat pujian. Tapi kami juga tahu, bahwa pasti statemen itu ada paradoksnya (saya juga tidak tahu penggunaan kata ini tepat atau tidak).

Dan seperti yang telah kami pikirkan. Statemen berikutnya adalah suatu penilaian jujur dari beliau. Kalau sudah mengutip X dan Y dan Z, selanjutnya apa? What next?Menurut penilaian jujur saya, tulisan ini masih belum menunjukkan kelas Anda!

Nah apa pula ini. Kelas apa yang dimaksud?

Anda sudah S2 bukan? Anda sudah mampu melakukan analisis bahkan meta analisi. Jadi lakukan sesuatu dari yang Anda baca. Jangan disalin langsung semuanya. Informasi yang telah Anda dapatkan itu rumuskan sesuatu menurut penilaian Anda?

Woooooo, kami hampir serentak ber "wooo" ria. Ini, yang disebut kelas. Kami pun serentak tertawa, mentertawai kebodohan seorang calon Master. Berhari-hari kami bekerja menelusuri literatur yang tidak gratis tentunya. Mengutip sumber-sumber, menyusun kutipan-kutipan (menyalin) menjadi paragraf yang bersambungan kemudian berdiskusi dengan alot, hanya menghasilkan suat karya yang tidak berkelas.

Marah? Jelas tidak. Kami semua pembelajar. Belajar harus totalitas. Artinya harus sanggup menerima apapun yang ingin dipelajari meskipun kadang bertolak belakang dengan kebiasaan kita setiap hari. Membalik balik memori, membongkar, kemudian menata kembali dengan perekat-perekat yang lebih baik.

Saya lebih suka menggunakan kata cuci otak. Untuk dapat menerima informasi dengan baik, otak kita harus dicuci. Semua harus bersih dari prasangka. Biarkanlah informasi mengalir dan membentuk sedimentasi baru dalam memori kita.

Hampir tujuh tahun saya meyakini, logika berpikir yang saya anut. Memahami dasar dasar sains keperawatan, filosofi, paradigma, model konseptual, grand theory, middle range theory, sampai dengan practical theory. Menalar korelasi semua konsep yang ada, selanjutnya mensintesis hal-hal baru. Sungguh sangat menantang emotional stability.

Sains keperawatan memang merupakan basis praktik keperawatan profesional. Perawat praktisi sebaiknya mengenal hal ini dengan baik. Aplikasi teori-teori ini dalam praktik sesungguhnya sangat mungkin. Hanya saja pengetahuan kita yang terbatas membuat kita dibodohi oleh kecemasan. Lebih tragis lagi, dosen-dosen yang mengajar sains keperawatan di level bawah juga tidak memahami pentingnya teori ini. Jadinya ya seperti inilah kita perawat Indonesia.

Barangkali kita memang harus kembali ke titik nol (CUCI OTAK). Menguras apa yang telah kita ingat. Mendiskusikan kembali apa yang kita peroleh. Mengurai sekecil-kecilnya. Tidak pernah malu mengakui kita bodoh. Betul-betul kita refleksikan kembali melalu tutor-tutor yang sudah senior dan mempraktikkan ilmu ini. Akhirnya kita dapat menyusun lagi serpihan-serpihan tadi menjadi mozaik pengetahuan sains keperawatan mutakhir yang sahih.

Kami juga mengajak para praktisi keperawatan untuk dapat menghadiri seminar kami tentang aplikasi teori-teori ini dalam praktik. Tunggu saja kabar berikutnya.


Read more!

Tuesday, November 11, 2008

Completely Involved

Oleh: Wastu Adi Mulyono

Live in Jakarta is an opportunity to learn humanity well. As we knew Jakarta is a metropolitan city accompanied by multy complicated problems. Since traffic jam popular for long time ago, no complete solution handled them. So do mass transportation, criminality, and flood.


People live stresful event everyday. My neighbour, I share wall with, is one of the example. No day without screaming, crying and harsh words express by this family. Living cost have burdened them and created stressful day and day, still the mother is a single mother. All have made me practicing relaxation course every day.

I understood that. I have prepared and trained well to compromise situations. I am a nurse. I practiced empathic. Nursing philosophy and values responded automatically whenever and whereever. However, discussing empathic, I feel my empathetical response should be developed. Developing emphatic mean learning directly in the real unplanned situation.

Learning about life and the values need nothing just that life itself. I found that yesterday. I felt completely alike Jakarta citizen. I traped in tight mass transportation, enjoying happiness in mall, stuck in traffic jam and finally my rent room got flooded.

Arriving home on evening, I was shocked by waters filled my room. All of my property nearly wet. Fortunately my niece saved few. Books, hard disc, wires and everything wet soaked in flood. Remember my spiritual guru, I smiled, thanked to God. This I wanted, didn't I. Learning about life and empathic should experiencing it self. And I get it today, I spoke with my self.

Hours I spent to clean my room, rewash clothes, dry book, and save anything it could be save. I really surpraise to my neighbor. Life challenges have made them thoughtful to face the situation. Hand on hand they dry floor and clean room. Briefly they finished everything, beside, I am confusing to do everything.

I feel lucky experincing this. This sudden flood, relay unplanned and unpredictable situation. Event run well to teach me something about life, to learn humanity and emphatic.

I found that people respond automatically to their actual situation well. This automatic responses are build by recurring event they faced. They handled flood more efficient then I did because of experience. Experience is a potential that should be assessed in nursing care. People always have potential. Poverty should not be blamed as scapegoat of unsuccessful nursing care. My experience is one of the fact.

There always ways out for every creature to make them live well.


Read more!

Tuesday, November 4, 2008

Perawat Profesional

Oleh Wastu Adi Mulyono

Pelayanan professional berhubungan dengan kepercayaan klien terhadap profesi yang bersangkutan. Sebagai contoh pelayanan bantuan hukum oleh lawyer melibatkan kontrak kepercayaan antara kliennya dengan lawyer. Lawyer mengetahui segala hal berkaitan dengan kliennya berdasarkan kepercayaan yang dibuat. Contoh yang lain di kesehatan adalah layanan pengobatan oleh medis. Dokter sebagai tenaga profesional akan mengelola pasien sejak masuk sampai dengan pulang atau meninggal dunia.

Bagaimana dengan pelayanan keperawatan? Perawat mengelola pasien berganti-ganti. Kapan pasien masuk atau pulang kadang-kadang tidak tahu sama sekali. Setiap menemukan masalah ditulis, didiangosis, dilakukan rencana tindakan, dilakukan tindakan, dilakukan evaluasi. Tetapi siapa yang bertanggungjawab terhadap semua itu. Bagaimana jika ada kesalahan mengidentifikasi data? Siapa yang mengoreksi?

Berbekal perbandingan uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa pelayanan keperawatan yang seperti sekarang bukanlah pelayanan yang professional. Jika pelayanan belum professional maka jelas sekali tidak akan dapat dinilai tingkat profesionalitasnya. Efek dari ini adalah ketidakjelasan remunirasi bagi pelayanan profesional keperawatan itu sendiri.

Ketidak profesionalan ini juga dapat diakibatkan oleh tidak adanya struktur yang menaunginya, atau yang mendukung bentuk pelayanan keperawatan profesional. Mulai dari struktur organisasi atau tugas pokok dan fungsi yang mendukung.

Setiap rumah sakit sebenarnya hanya membutuhkan 30-35 persen Ners dan Ners specialis akan dapat memberikan pelayanan keperawatan professional. Jumlah sisanya 65-70 % dapat diisi oleh perawat vokasional. Perawat yang profesional akan dapat mengelola asuhan keperawatan secara menyeluruh. Mulai asessment, diagnosis, rencana, tindakan, sampai evaluasi dilakukan oleh 1 orang perawat profesional. Tetapi dalam implementasinya perawat profesional dapat dibantu oleh perawat vokasional.


Profesionalisme keperawatan bukan suatu mimpi, jika kita dapat mengubah system pelayanan keperawatan. Model-model praktik keperawatan profesional sudah banyak diterapkan dan diteliti. Pelatihan pelatihan sudah sudah sering dilakukan. Bahkan penelitian berkaitan dengan penerapan model tersebut juga sudah sering dilakukan dengan hasil yang baik.


Perawat yang kompeten sudah tersedia, model juga sudah ada, mengapa masih belum juga terwujud praktik keperawatan profesional. Kemauan kita sebagai manajer untuk memfasilitasi penerapan di rumah sakit sangat dibutuhkan. Profesionalisme pelayanan keperawatan seharusnya menjadi prioritas perubahan keperawatan saat ini. Tanpa ada struktur dan system yang mewadahi, semua inovasi keperawatan akan sulit terdokumentasi dengan baik dan menjadi evidence base untuk perkembangan keperawatan.


Perjuangan struktur keperawatan dalam jajaran level strategis juga belum layak diperjuangkan dengan terlalu keras. Perjuangan jabatan struktural direktur keperawatan sebaiknya jangan terlalu dipaksakan jika sumber daya manusia yang akan mengisinya tidak tersedia. Hal ini akan menjadi blunder dalam perjuangan selanjutnya jika struktur ini tidak berfungsi dengan baik dan tidak memberikan kontribusi apapun bagi keperawatan. Hal terbaik menurut saya adalah meletakkan landasan yang kuat di level pelayanan langsung pasien. Pengaruh pada pasien harus jelas dirasakan agar pasien dapat membedakan pelayanan yang profesional dan yang tidak profesional sehingga akan tercapai kondisi "addicted".


Kondisi yang kita ciptakan akan menjadi kekuatan fundamental perkembangan keperawatan. Pondasi yang kokoh akan meningkatkan daya pantul untuk melakukan lompatan yang lebih tinggi. Lompatan kuantum yang kita harapkan akan segera terjadi. Profesionalisme keperawatan bukan menjadi pertanyaan lagi, tetapi sebuah jawaban terhadap tantangan kesehatan. Pasti.


Read more!

Pengumuman!

Bagi Anda yang ingin memberi komentar pada tulisan di Blog Perawat Manajer Indonesia ini, tapi tidak mempunyai user id atau member Blogger.com, dapat menggunakan Anonymous user. Anda tinggal klik pada check list anonymous user sebelum komentar dipublish. Kalau ingin dikenali tinggal tuliskan saja nama Anda di dalam komentar.